Anda belum Log-in!
Silahkan Log in

Selamat Datang di Portal Digital Content Publisher
Kamis , 05 November 2026

Perpustakaan sebagai jantung pendidikan tinggi di Indonesia, harus mampu memberi kontribusi yang berarti bagi pelaksanaan proses belajar mengajar di perguruan tinggi.

TRUNOJOYO » Tugas Akhir & Skripsi » Pendidikan BHS dan Sastra IND.
di-posting oleh 160621100071 pada 2020-07-28 12:20:50  •  299 klik

Analisis Semiotika Tradisi Nyadran Pada Masyarakat Balongdowo Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo
An analysis of Semiotics Nyadran Tradition in Balongdowo Society, Candi, Sidoarjo

disusun oleh YESIKA HANIAN PRATIWI


Subyek: Tradisi Nyadran
Kata Kunci: semiotika
Nyadran
denotatif
konotatif
mitos

[ Anotasi Abstrak ]

Abstrak: tradisi Nyadran merupakan salah satu sastra lisan yang memiliki kekayaan makna dan simbol-simbol di dalamnya, baik berupa benda dan istilah yang digunakan. Pada penelitian ini tradisi Nyadran dikaji menggunakan teori semiotika Roland Barthes yang terdiri dari makna denotatif, makna konotatif, serta mitos. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan makna denotatif, konotatif, serta mitos yang ada dalam benda-benda serta istilah dalam tradisi Nyadran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan deskriptif kualitatif dengan data yang dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara, serta dokumentasi. Setelah data diperoleh maka dilakukan reduksi data, penyajian data, serta penarikan simpulan. Untuk menguji keabsahan data maka digunakan teknik triangulasi berupa membandingkan data hasil analisis dengan wawancara. Hasil dari penelitian ini ditemukan makna denotatif dan konotatif pada 16 data benda (BN) yaitu tumpeng, suguh, gedang raja, kupat dan lepet, kembang setaman, beras, bubur sengkala,kemenyan, bumbu pepek,telur, sisir, koco pengilon,kelapo cengkir,uang logam, kinangan, pitik kemambler,dan 2 data istilah (IT) yaitu kenduren serta karang, serta 12 data benda (BN) yang memiliki makna mitos yaitu tumpeng,suguh, gedang raja, kupat dan lepet, kembang setaman, beras, bubur sengkolo, kemenyan, bumbu pepek, kelapa cengkir, kinangan, pitik kemambler, 6 data lainnya berupa 4 data benda (BN) yaitu sisir, kaca pengilon, telur, uang logam dan 2 data istilah (IT) berupa karang serta kenduri tidak memiliki makna mitos. Dari hasil analisis ditemukan bahwa inti dari setiap makna dalam tradisinya mengajarkan dalam hal keikhlasan bersedekah, wujud syukur, permohonan doa-doa baik, serta anjuran untuk menjaga keseimbangan alam.


Deskripsi Lain

Abstract: Nyadran tradition is one of oral literature which has precious meaning and it has a lot of symbols, either in the form of objects and terms in used. In this study the tradition of Nyadran used semiotic proposed by Roland Barthes theory which consists of connotative, denotative, and mythic meanings. The purpose of this research was to describe the connotative, denotative, and mythic meanings of objects and terms in Nyadran tradition. The method of the study was descriptive qualitative approach trough the data was collected by doing observation, interviewing, and taking documentation. After the data was obtained, the writer did data reduction, data presentation and drawing the conclusion. Making the validity of the data, the writer used trianglasai technique which comparing the results of data analysis with interviews. Based on the observation shows that denotative and connotative meanings on 16 data objects (BN) those are tumpeng, suguh, gedang raja, kupat and lepet, kembang setaman, rice, bubur sengkala, benzoic, bumbu pepek,egg, hairbrush , koco pengilon,kelapo cengkir,coin, kinangan, pitik kemambler and 2 term data (IT) those are kenduren and karang, as well as 12 object data (BN) that have myth those are tumpeng,suguh, gedang raja, kupat and lepet, kembang setaman, rice, bubur sengkolo, benzoic, bumbu pepek, kelapa cengkir, kinangan, pitik kemambler, 6 data including 4 data objects (BN) those are kaca pengilon,hairbrush, egg, coin and 2 data ( IT) the term has no mythical meaning those are karang and kenduren. According to the analysis it was found that the essence of each meaning in its tradition teaches in the sincerity of giving charities, thanks giving, asking for good prayers, and maintaining the balance of nature.

Kontributor: Sulaiman. S. Pd., M. Pd
Tanggal tercipta: 0000-00-00
Jenis(Tipe): Text
Bentuk(Format): pdf
Bahasa: Indonesia
Pengenal(Identifier): TRUNOJOYO-Tugas Akhir-18889
No Koleksi: 160621100071


 Download File Penyerta (khusus anggota terdaftar)

 File PDF  1. TRUNOJOYO-Tugas Akhir-18889-Cover.pdf - 796 KB
 File PDF  2. TRUNOJOYO-Tugas Akhir-18889-Abstrac.pdf - 1006 KB
 File PDF  3. TRUNOJOYO-Tugas Akhir-18889-Chapter 1.pdf - 5223 KB
 File PDF  4. TRUNOJOYO-Tugas Akhir-18889-Chapter 2.pdf - 9399 KB
 File PDF  5. TRUNOJOYO-Tugas Akhir-18889-Chapter 3.pdf - 4851 KB
 File PDF  6. TRUNOJOYO-Tugas Akhir-18889-chapter 4 yesi 2.pdf - 697 KB
 File PDF  7. TRUNOJOYO-Tugas Akhir-18889-Conclussion.pdf - 1671 KB
 File PDF  8. TRUNOJOYO-Tugas Akhir-18889-References.pdf - 994 KB
 File PDF  9. TRUNOJOYO-Tugas Akhir-18889-Apendices.pdf - 8763 KB


 Dokumen sejenis...



 Dokumen yang bertautan...

     Tidak ada !



 Kembali ke Daftar