Anda belum Log-in!
Silahkan Log in

Selamat Datang di Portal Digital Content Publisher
Rabu , 04 November 2026

Perpustakaan sebagai jantung pendidikan tinggi di Indonesia, harus mampu memberi kontribusi yang berarti bagi pelaksanaan proses belajar mengajar di perguruan tinggi.

TRUNOJOYO » KP&PKL » Manajemen Sumberdaya Perairan
di-posting oleh imam pada 2021-07-29 15:26:44  •  765 klik

ANALISIS KADAR AMONIUM PADA SAMPEL AIR TAMBAK SURYA WINDU PERTIWI (SWP) DI TRAINING CENTER DAN LABORATORIUM PT. CENTRAL PROTEINA PRIMA PAITON PROBOLINGGO
disusun oleh FRISKA RAHMAWATI TASYA

Subyek: AMONIUM
AIR TAMBAK
Kata Kunci: AMONIUM
AIR TAMBAK

[ Anotasi Abstrak ]

Perikanan budidaya menjadi tumpuan serta perkembangan di sektor kelautan dan perikanan Indonesia. Radiarta et al. (2015) menjelaskan bahwa Indonesia termasuk negara produsen perikanan urutan ke-4 di dunia dengan produksi 3.067.660 ton atau 4,6% produksi perikanan dunia. Perikanan budidaya sebagai pertumbuhan ekonomi negara yang memiliki daya saing. Usaha pengembangan perikanan budidaya yang bertujuan untuk meningkatkan target kapasitas produksi tahunan harus ditingkatkan dengan cara memanajemen ekosistem perikanan budidaya secara baik dan berkelanjutan. Hal ini harus didukung oleh potensi lahan tambak serta sumberdaya manusia yang memadai. Aktivitas budidaya ikan yang terdapat di Indonesia meliputi budidaya air tawar, budidaya air payau serta budidaya laut. Kementerian Kelautan dan Perikanan Tahun 2019 melaporkan bahwa luas lahan untuk perikanan budidaya laut yaitu sebesar 17,91 juta hektar, budidaya air payau sebesar 2,96 juta hektar, dan budidaya air tawar yaitu sebesar 2,83 hektar. Potensi perikanan budidaya di Indonesia yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi meliputi tuna, udang, lobster, sidat, kepiting, kakap, bawal, cobia, ikan karang, dan berbagai jenis ikan hias, kekerangan dan rumput laut. Badan Pusat Statistik Tahun 2017 melaporkan bahwa hasil produksi udang di Provinsi Jawa Timur yaitu sebesar 156.139 ton Ditjen Perikanan Budidaya merancang target produksi beberapa jenis komoditas budidaya pada tahun 2020 salah satunya komoditas udang sebesar 1.208.000 produksi udang di Indonesia. Produksi hasil udang vannamei di Indonesia lumayan banyak tetapi harga jual udang vannamei juga tetap mahal dan tidak mengalami penurunan harga jual. Udang vannamei merupakan jenis komoditas udang yang sering dibudidayakan karena harga jual yang tinggi serta prospek yang menjanjikan. Darmawan (2008)mengungkapkan bahwa udang vannamei memiliki keunggulan seperti padat tebar benih yang lebih banyak, lebih efektif dalam pemanfataan ruang media budidaya, produk yang dihasilkan lebih banyak berkisar 10-20 ton per 2 hektarnya, dan waktu panen yang lebih cepat. Walaupun ukuran udang vannamei lebih kecil daripada udang windu, akan tetapi harganya yang relatif lebih terjangkau untuk masyarakat sehingga udang vannamei banyak diminati oleh masyarakat. Amri dan Iskandar (2008) menegaskan bahwa udang vannamei memiliki beberapa keunggulan lain, yaitu lebih resistan terhadap penyakit, laju pertumbuhan baik pada salinitas normal 5-35‰, dan dapat tumbuh dengan baik walaupun diberikan pakan yang rendah protein. Romadhona et al. (2016) menjelaskan beberapa hal yang harus dipersiapkan dalam rangkaian kegiatan budidaya udang vannamei, diantaranya persiapan lokasi, sumber air, wadah, benih, peralatan, bahan kimia dan pakan. Air yang akan digunakan untuk udang vannamei harus diendapkan terlebih dahulu pada kolam tandon guna memperbaiki kualitas air. Faktor eksternal pemeliharaan udang mencakup pemberian pakan, pengendalian hama dan penyakit serta manajemen kualitas air. Padat tebar yang tinggi serta pemberian pakan yang banyak dapat menurunkan kualitas air karena akumulasi bahan organik (Arsad et al., 2017). Pakan udang buatan mengandung 40% protein yang berpotensi terhadap proses pembusukan bahan organik yang tidak terurai secara baik di dalam perairan. Romadhona et al. (2016) menjelaskan bahwa proses pembusukan tersebut dapat menghasilkan senyawa nitrogen anorganik berupa NH3-N dan NH4+ yang bersifat toksik bagi udang. Senyawa amonia dan nitrit menjadi faktor penghambat pertumbuhan udang di tambak sehingga perlu dianalisis untuk mengetahui kadarnya agar tidak melebihi standar baku mutu yang ditentukan. Titah dan Slamet (2004) menyampaikan bahwa air limbah dari tambak udang pola intensif memiliki kadar amonium tinggi bersama-sama dengan urea dan senyawa lain yang dapat meningkatkan konsentrasi nutrien terlarut dalam air. Nutrien-nutrien terlarut tersebut akan dimanfaatkan oleh fitoplankton yang dapat menyebabkan eutrofikasi. Senyawa NH3 juga bersifat lebih toksik dari senyawa NH4. Kandungan NH3 yang terlalu tinggi akan berbahaya bagi udang dikarenakan hemoglobin pada tubuh udang tidak dapat mengikat O2 dalam darah dan sufokasi. Kandungan amonia dapat diturunkan dengan meningkatkan oksidasi sehingga proses nitrifikasi dapat berlangsung sempurna (Komarawidjaja, 2006). 3 Masuknya kadar amonium tidak hanya dari berasal dari feses atau sisa metabolisme udang saja, tetapi juga berasal dari sumber air yang digunakan untuk budidaya. Lubis et al. (1987) melaporkan bahwa pupuk urea dari bidang pertanian merupakan sumber potensial dari pencemaran NH4 yang akhirnya menyebabkan terkontaminasinya sumber air oleh amonium, nitrit dan nitrat. Kadar amonium dalam tambak dapat mempengaruhi kualitas air. Parameter-parameter fisika, kimia maupun biologi kualitas air dapat mempengaruhi kadar amonium dalam suatu kegiatan budidaya perairan di tambak. Pertumbuhan udang mengalami penurunan yang disebabkan oleh adanya asosiasi kadar amonium pada media budidaya perairan disertai oleh kadar salinitas yang tinggi (Suriawan et al. 2019). Cara pencegahan yang biasa dilakukan untuk mengurangi kadar amonium dalam budidaya perikanan yaitu dengan melakukan pengurangan jumlah pakannya. Ismettulloh et al. (2019) menyampaikan bahwa penggunaan zeolit dapat mengurangi kadar amonium dalam perairan, hal ini dikarenakan pori-pori pada zeolit dapat mempermudah proses adsorpsi amonium dan menghilangkan senyawa amonium. Penggunaan zeolit ini dapat menjadi salah satu solusi untuk menetralkan kadar amonium dalam budidaya perikanan. Solusi lain untuk mengurangi kadar amonium yang didapat melalui kegiatan praktik kerja lapang di Training Center dan Laboratorium PT. Central Proteina Prima Paiton Probolinggo yaitu dengan cara penggunaan pupuk nitrifikasi. Penggunaan pupuk nitrifikasi tersebut selain menetralkan kadar amonium juga dapat mempercepat proses nitrifikasi dan meningkatkan nutrisi yang diperlukan plankton untuk tumbuh dan berkembang. Training Center dan Laboratorium PT. Central Proteina Prima Paiton Probolinggo merupakan salah satu unit training untuk fresh gradute yang memiliki tugas meningkatkan ilmu pengetahuan akademis maupun lapang, dan kreatifitas para training. Selain itu, Training Center dan Laboratorium PT. Central Proteina Prima Paiton Probolinggo memiliki tugas yaitu melakukan analisis kualitas air untuk budidaya perikanan. Analisis yang terdapat pada Training Center dan Laboratorium PT. Central Proteina Prima Paiton Probolinggo salah satunya yaitu analisis kadar amonium. Berdasarkan hal tersebut, Training Center dan Laboratorium PT. Central Proteina Prima Paiton Probolinggo layak dan tepat untuk 4 melakukan kegiatan praktik kerja lapang untuk mengetahui dan memahami prosedur analisis amonium pada sampel air budidaya udang vannamei.

Kontributor:  Abdus Salam Junaedi, S.Si., M.Si
Tanggal tercipta: 2021-07-23
Jenis(Tipe): Text
Bahasa: Indonesia
Pengenal(Identifier): TRUNOJOYO-KP-180351100009
No Koleksi: 180351100009


 Download File Penyerta (khusus anggota terdaftar)

 File PDF  1. TRUNOJOYO-KP-21263-180351100009-Friska Rahmawati Tasya 180351100009.pdf - 2244 KB


 Dokumen sejenis...

     Tidak ada !

 Dokumen yang bertautan...





 Kembali ke Daftar