Anda belum Log-in!
Silahkan Log in
Selamat Datang di Portal Digital Content Publisher
Jumat , 06 November 2026
Perpustakaan sebagai jantung pendidikan tinggi di Indonesia, harus mampu memberi kontribusi yang berarti bagi pelaksanaan proses belajar mengajar di perguruan tinggi.
di-posting oleh imam pada 2021-07-29 15:34:20 • 596 klik
PROSEDUR PENGUJIAN KADAR HISTAMIN PADA IKAN MAKAREL (Scomber japonicus) DI LABORATORIUM BALAI KARANTINA IKAN PENGENDALIAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN SURABAYA II
disusun oleh TASYA SAFATA NUR AMALIA
| Subyek: | HISTAMIN IKAN MAKAREL |
| Kata Kunci: | HISTAMIN IKAN MAKAREL |
[ Anotasi Abstrak ]
Ikan makarel (Scomber japonicus) merupakan bahan pangan yang memiliki kandungan nutrisi yang baik sehingga makarel banyak diminati oleh masyarakat diberbagai negara. Pemanfaatan ikan makarel di Indonesia pada umumnya diproduksi sebagai bahan baku ikan kaleng. Selain itu, ada juga yang diproduksi sebagai ikan beku, ikan kering, dan ikan asap (Feryana et al.,2014). Permintaan impor ikan makarel rata-rata mencapai 24,78% dari total impor perikanan dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 2,79% pertahun dari tahun 2012 hingga 2018 (Badan Pusat Statistik, 2019). Pemanfaatan produksi ikan makarel tentunya memerlukan beberapa tahapan proses yang panjang sehingga dapat dikonsumsi oleh konsumen dengan kondisi yang layak dan tidak menurunkan mutu dari ikan itu sendiri. Namun, produk hasil perikanan merupakan bahan makanan yang pada umumnya memiliki sifat daya awet yang singkat. Pengolahan ikan makarel yang tidak baik dapat menyebabkan penurunan mutu pada ikan sehingga mikroba yang terdapat didalam tubuh ikan dapat segera mengkatalisis reaksi yang menghasilkan senyawa amina biogenik, termasuk histamin yang bersifat toksik. Aktivitas mikroba ini dapat menyebabkan penurunan mutu dan hal itu terjadi setelah ikan mati (Januar, 2009). Histamin pada ikan dihasilkan dari aktivitas bakteri yang mampu menghasilkan racun yang disebut scombrotoksin. Histamin pada ikan sering ditemukan pada ikan Famili Scombridae, diantaranya adalah ikan tuna, ikan tongkol, ikan makarel, dan lain-lainnya (Widiastuti dan Sumpeno, 2010). Penurunan mutu selama proses pengolahan ikan juga merupakan penyebab terjadinya keracunan histamin pada ikan. Keracunan histamin dapat menyebabkan kepala pusing, denyut jantung menjadi cepat, perut mual, rasa haus terus-menerus dan gatal-gatal (Hattu et al.,2014). Berdasarkan data Food and Drug Administration pada tahun 2001-2005, terjadi penolakan pada produk perikanan dari Famili Scombridae sebanyak 350 penolakan. Hal ini disebabkan oleh kandungan histamin dan logam berat yang tinggi pada ikan. Histamin termasuk tiga permasalahan pokok dibidang kesehatan publik dan kerap dijumpai dari makanan yang bersumber dari laut (Djarismawati, 2002). 2 Era perdagangan yang semakin luas menjadikan konsistensi mutu produk perikanan semakin diperhatikan sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh perusahaan perikanan. Kandungan histamin pada produk perikanan dalam perdagangan internasional, termasuk dalam permasalahan yang serius. Hal ini menimbulkan bahaya terhadap kesehatan konsumen. Apabila produk perikanan yang mengandung histamin melebihi batas maksimum yang diperbolehkan, maka hal ini dapat mengakibatkan penolakan terhadap produk dan menyebabkan kerugian oleh industri yang mengekspornya (Damongilala, 2009). Pengujian terhadap kadar histamin pada ikan tuna yang dilakukan oleh Wodi et al. (2018) mendapatkan kadar histamin melebihi batas standar yang telah ditetapkan yaitu sejumlah 131,10 ppm. Hal ini juga dikuatkan oleh pengujian histamin oleh Djarismawati et al. (2002) yang mendapatkankadar histamin melebihi batas standar pada ikan tongkol bakar yaitu sejumlah 120 ppm. Waktu perjalanan dari tempat pembelian sampel sampai tempat pengolahan ikan dapat mempengaruhi peningkatan kadar histamin pada ikan tongkol. Hal serupa terjadi pada penelitian Irawati et al. (2019) yang mendapatkan kadar histamin pada produk perikanan Indonesia melebihi batas ambang persyaratan negara ekspor sehingga mengalami penolakan produk, hasil analisis kadar histamin pada produk tersebut ialah sejumlah 152 hingga 517 ppm dan diantaranya ialah berasal dari ikan Famili Scombridae. Metode instrumentasi yang dapat digunakan dalam pengujian kadar histamin diantaranya ialah HPLC (High Performance Liquid Chromatography), CE/CZE (Capillary Electrophoresis/Capillary Zone Electrophoresis), dan ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent) (Januar, 2009). Hal serupa juga dilakukan oleh Wodi dan Eko (2021) yang melakukan pengujian kadar histamin menggunakan metode ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent. Selain itu, metode yang berbeda dilakukan oleh Hattu et al. (2014) dalam pengujian kadar histamin yang menggunakan metode Spektrofotometri dengan bantuan program SPSS dalam menganalisis data. Perbedaan jenis metode ini dapat mempengaruhi hasil pengujian kadar histamin yang akan dilakukan. Oleh karena itu, pemahaman terhadap prosedur dan penggunaan metode yang tepat dapat mempengaruhi akurasi dari pengujian kadar histamin. 3 Untuk mengetahui kandungan histamin pada produk perikanan, maka sangat diperlukan adanya pengujian mutu pada ikan agar tidak ada pihak yang dirugikan baik dari sisi kesehatan maupun perekonomian. Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Surabaya II adalah salah satu instansi pemerintahan yang berperan dalam upaya peningkatan mutu dan keamanan hasil perikanan baik dari produk impor maupun ekspor yang didalamnya juga melakukan pengujian histamin. Sehingga atas dasar pemikiran tersebut, dilakukan Praktik Kerja Lapang (PKL) yang bertujuan untuk mengetahui prosedur pengujian histamin pada ikan makarel (Scomber japonicus) di Laboratorium Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Surabaya II
| Kontributor | : Abdus salam Junaedi, S.Si, M.Si |
| Tanggal tercipta | : 2021-07-27 |
| Jenis(Tipe) | : Text |
| Bahasa | : Indonesia |
| Pengenal(Identifier) | : TRUNOJOYO-KP-180351100060 |
| No Koleksi | : 180351100060 |
Download File Penyerta (khusus anggota terdaftar)
1. TRUNOJOYO-KP-21264-180351100060-LAPORAN PKL TASYA SAFATA NUR AMALIA_MSP_180351100060.pdf - 2391 KB
Dokumen sejenis...Tidak ada !
Dokumen yang bertautan...- PROSEDUR PENGUJIAN KADAR HISTAMIN PADA IKAN MAKAREL (Scomber japonicus) DI LABORATORIUM BALAI KARANTINA IKAN PENGENDALIAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN SURABAYA II
- UJI KADAR HISTAMIN PADA IKAN LEMURU (Sardinella lemuru) DI UNIT PELAKSANA TEKNIS (UPT) PENGUJIAN MUTU DAN PENGEMBANGAN PRODUK KELAUTAN DAN PERIKANAN (PMP2KP) BANYUWANGI
- KADAR HISTAMIN PADA PRODUK PERIKANAN DENGAN METODE HIGH PERFORMANCE LIQUID CHROMATOGRPHY (HPLC) DI UPT. PENGUJIAN MUTU DAN PENGEMBANGAN PRODUK KELAUTAN DAN PERIKANAN SURABAYA
- KAJIAN MUTU IKAN KEMBUNG (Rastrelliger sp.) DI TEMPAT PELELANGAN IKAN DAN PASAR TRADISIONAL KECAMATAN LEKOK, PASURUAN
- EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN MANGROVE Rhizophora mucronata TERHADAP KADAR HISTAMIN IKAN TONGKOL (Euthynnus affinis)
Kembali ke Daftar 