Anda belum Log-in!
Silahkan Log in

Selamat Datang di Portal Digital Content Publisher
Rabu , 04 November 2026

Perpustakaan sebagai jantung pendidikan tinggi di Indonesia, harus mampu memberi kontribusi yang berarti bagi pelaksanaan proses belajar mengajar di perguruan tinggi.

TRUNOJOYO » KP&PKL » Agroekoteknologi
di-posting oleh imam pada 2022-07-07 08:31:36  •  2764 klik

TEKNIK PENGENDALIAN OPT TANAMAN MELON (Cucumis melo L.) SISTEM HIDROPONIK FERTIGASI DI CV. WONOSARI HORTICULTURE INDONESIA, PASURUAN
disusun oleh CAMELIA DWI PUSPITA

Subyek: MELON
HIDROPONIK FERTIGASI
CV. WONOSARI HORTICULTURE INDONESIA
PASURUAN
Kata Kunci: MELON
HIDROPONIK FERTIGASI
CV. WONOSARI HORTICULTURE INDONESIA
PASURUAN

[ Anotasi Abstrak ]

CV. Wonosari Horticulture Indonesia merupakan perusahaan yang bergerak dibidang pertanian hortikultura. CV. Wonosari Horticulture Indonesia ini berdiri pada bulan September 2012. CV. Wonosari Holticulture Indonesia bergerak pada bidang produksi tanaman sayuran buah salah satunya yaitu tanaman tomat beef dengan sistem hidroponik. CV. Wonosari Holticulture Indonesia merupakan salah satu tempat melakukan Praktik Kerja Lapang (PKL), dimana kegiatan tersebut bertujuan sebagai sarana mahasiswa untuk mendapatkan pengetauhuan dan pengalaman di dunia kerja dan menerapkan teori di perkuliahan dalam dunia kerja. Tanaman melon (Cucumis melo L.) merupakan tanaman buah yang cukup terkenal diantara banyaknya komoditas hortikultura. Menurut asal-usulnya, tanaman melon datang dari wilayah Mediterania, yang merupakan perbatasan antara Asia Barat dengan Eropa dan Afrika kemudian menyebar luas ke seluruh penjuru dunia. Selain hasilnya yang menjanjikan, tanaman melon termasuk salah satu tanaman yang cukup rumit dalam hal perawatannya. Bahkan banyak petani mengalami kerugian yang cukup besar sehingga membuat petani putus asa, karena tanaman melonnya mati dan rusak setelah terserang hama dan penyakit yang mengakibatkan gagal panen serta tidak dapat berproduksi secara optimal. Produksi melon di Indonesia pada tahun 2014 mencapai 150.347 ton dengan produktivitas 18,40 ton/ha. Luas panen melon di Indonesia mencapai 8.185 ha. Sedangkan di wilayah Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2014 bahwa produksi melon mencapai 93 ton dengan produktivitas 15,42 ton/ha, luas panen melon mencapai 6 ha. Tahun 2015 menunjukkan hasil yang meningkat bahwa produksi melon mencapai 19,207 ton, dengan produktivitas 16,63 ton/ha, luas panen 155 ha (Direktorat Jenderal Hortikultura, 2015). Melon merupakan salah satu alternatif bahan konsumsi buah-buahan yang digemari masyarakat luas (Rukmana, 1994). Melon memiliki cita rasa yang manis dan khas, melon juga mengandung gizi yang cukup tinggi dan komposisi yang lengkap, tiap 100 g bagian buah melon mengandung 23 kalori energi, 0,6 g protein, 17 mg kalsium, 2.400 IU vitamin A, 30 mg vitamin C, 0,045 mg thiamin, 0,0065 mg riboflavin, 1,0 mg niacin, 6,0 g karbohidrat, 0,4 mg zat besi, 0,5 mg nikotinamida, 93 ml air dan 0,4 g serat (Samadi, 1995). Tanaman melon dibudidayakan melalui beberapa tahapan yaitu penyemaian, perawatan tanaman, panen dan pasca panen. Perawatan tanaman melon meliputi pemupukan, pengairan, penyiangan, pemangkasan, pengendalian hama penyakit. Kadang kala dalam upaya perawatan tanaman melon, kegiatan penyerbukan buatan merupakan salah satu di antaranya pada kondisi cuaca yang cerah, tanaman melon pada umumnya akan berbuah dengan bantuan serangga penyerbuk, seperti lebah. Namun pada saat cuaca buruk, terutama pada saat musim penghujan serangga penyerbuk jarang muncul. Oleh karena itu, untuk mendapatkan buah yang berkualitas baik perlu dilakukan penyerbukan buatan. Penyerbukan buatan ini dilakukan pada pagi hari mulai pukul 06.30-10.00 di mana waktu tersebut bunga betina sedang mengalami tahap mekar sempurna. Pemeliharaan tanaman melon ini bertujuan agar tanaman dapat tumbuh baik sesuai dengan yang diharapkan. Buah melon dapat dipanen berdasarkan kenampakan fisiknya dan juga berdasarkan umurnya yaitu sekitar umur 75-120 hari setelah tanam. Setelah dilakukan proses pemanenan maka selanjutnya adalah proses pasca panen yang meliputi penyimpanan, pengangkutan, pengolahan benih hingga pengemasan produk dari tanaman melon tersebut. Buah melon dimanfaatkan sebaga makanan buah segar dengan kandungan vitamin C yang cukup tinggi. Melon merupakan buah-buahan yang kini berkembang sebagai komoditas agribisnis. Buah melon mempunyai nilai ekonomis dan prospek untuk dikembangkan. Komoditas ini cukup banyak diminati, selain rasanya enak, juga mempunyai harga yang relatif tinggi baik untuk pasar domestik maupun ekspor. Di pulau Jawa dewasa ini telah mengalami penyusutan lahan tanam, pelandaian produksi dan produktivitas, cuaca yang sering berubah dan tidak menentu bahkan tidak dapat diprediksi, serta Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang sering menyerang adalah ancaman serius bagi ketahanan pangan nasional (Pracaya, 1991). Tanaman melon banyak dibudidayakan dan menghasilkan keuntungan ekonomis, budidaya melon memiliki kendala-kendala di lapang yang dapat menurunkan kualitas maupun kuantitas produksi melon. Salah satu kendala yang sering dihadapi petani melon dari segi penyakit adalah serangan penyakit layu fusarium yang disebabkan oleh F.oxysporum. Cendawan F. oxysporum mampu menyerang pada semua tahap pertumbuhan tanaman melon, baik pada fase vegetatif maupun fase generatifnya.Pengendalian penyakit menggunakan pestisida kimia kini dialihkan menggunakan teknik pengendalian yang ramah lingkungan. Salah satupengendalian yang ramah lingkungan dengan menggunakan agen pengendali hayati seperti diketahui secara umum menghasilkan senyawa antibiosis. Kurangnya pengetahuan dan pemahaman petani (khususnya petani melon) akan cara pengendalian hama dan penyakit tanaman secara tepat dan benar serta untuk memperoleh data yang akurat tentang gejala yang diakibatkan lalat buah cukup sulit, sehingga para petani cukup kebingungan dalam memilih metode pengendalian yang tepat. Untuk memperoleh semua pengetahuan yang dibutuhkan tentunya waktu yang dibutuhkan tidaklah sebantar dan biaya yang cukup besar. (Arrum, 2017). Banyak faktor yang mempengaruhi produksi tanaman yang dibudidayakan secara hidroponik antara lain adalah organisme pengganggu tanaman. Organisme pengganggu tanaman (OPT) adalah organisme yang dapat menyebabkan penurunan dalam hal potensi hasil yang secara langsung karena dapat menimbulkan kerusakan fisik, gangguan fisiologi dan biokimia, atau kompetisi hara terhadap tanaman budidaya Melon. Hal ini mengakibatkan perlu adanya penanggulangan serangan OPT karena perkembangan serangan OPT yang tidak dapat dikendalikan, akan berdampak kepada timbulnya masalah-masalah lain yang bersifat sosial, ekonomi, dan ekologi. Ada beberapa jenis hama dan penyakit yang sering dijumpai ditanaman melon mulai dari saat benih dan bibit disemai hingga panen diantaranya hama thrip, hama lalat buah, penyakit layu fusarium, penyakit bercak bakteri dan lain sebagainya.(Sobir,2010). Hama pada tanaman adalah salah satu kendala terbesar dan sangat mengganggu dalam usaha pertanian. Serangannya terhadap tanaman bisa secara tiba – tiba dan mendadak serta bersifat eksplosif (meluas) sehingga dalam waktu yang tidak lama, serangan tersebut bahkan dapat membunuh seluruh tanaman yang berakibat pada gagal panen (puso). (LITBANG, 2009). Teknik pengendalian yang dilakukan dengan penyemprotan menggunakan fungisida maupun Insektisida seperti Mancozeb 80% dan Lamda Sihalotrin. Fungisida adalah zat kimia yang digunakan untuk mengendalikan cendawan atau fungi. Fungisida umumnya dibagi menurut cara kerjanya di dalam tubuh tanaman sasaran yang di aplikasi yakni fungisida sistemik, sistemik dan sistematik lokal.

Kontributor: Drs. H. KASWAN BADAMI, M.Si
Tanggal tercipta: 2022-05-17
Jenis(Tipe): Text
Bahasa: Indonesia
Pengenal(Identifier): TRUNOJOYO-KP-190311100010
No Koleksi: 190311100010


 Download File Penyerta (khusus anggota terdaftar)

 File PDF  1. TRUNOJOYO-KP-23872-190311100010-Camelia Dwi Puspita#190311100010.pdf - 6132 KB


 Dokumen sejenis...

     Tidak ada !

 Dokumen yang bertautan...





 Kembali ke Daftar