Anda belum Log-in!
Silahkan Log in

Selamat Datang di Portal Digital Content Publisher
Jumat , 06 November 2026

Perpustakaan sebagai jantung pendidikan tinggi di Indonesia, harus mampu memberi kontribusi yang berarti bagi pelaksanaan proses belajar mengajar di perguruan tinggi.

TRUNOJOYO » KP&PKL » Kelautan
di-posting oleh imam pada 2022-07-08 10:59:18  •  458 klik

IDENTIFIKASI Aeromonas salmonicida PADA SALMON ATLANTIK (Salmo salar) MENGGUNAKAN METODE KONVENSIONAL DI BALAI KIPM SURABAYA II
disusun oleh ANNISA RAMADHANTI

Subyek: Aeromonas salmonicida
SALMON ATLANTIK
BALAI KIPM SURABAYA II
Kata Kunci: Aeromonas salmonicida
SALMON ATLANTIK
BALAI KIPM SURABAYA II

[ Anotasi Abstrak ]

Perikanan merupakan salah satu kegiatan yang perekonomiannya memanfaatkan sumber daya alam dengan menggunakan teknologi dan membutuhkan ilmu pengetahuan. Garis pantai sepanjang 95.181 km dan laut seluas 5,4 juta km2 membuat Indonesia dijuluki sebagai negara maritim yang memiliki variasi komoditas perikanan melimpah (Pramana et al., 2015). Christanti Azhar, (2019) menyatakan bahwa hampir seluruh penduduk Indonesia mengonsumsi ikan setiap harinya dan merupakan makanan yang mudah di dapat dari laut. Permasalahan utama yang dihadapi oleh penduduk Indonesia berupa permasalahan bahwa tidak semua ikan layak untuk dikonsumsi. Produk perikanan merupakan bahan pangan yang sangat mudah terkontaminasi oleh bakteri patogen sehingga dapat menyebabkan keracunan dan hal fatal lainnya kepada komsumen. Aktivitas mikroorganisme pada ikan dapat membuat ikan mengalami proses pembusukan lebih cepat. Pembusukan pada ikan tentunya sangat menghambat pemasaran ikan kepada khalayak sehingga dapat mengakibatkan kerugian besar pada saat produksi ikan melimpah (Christanti Azhar, 2019). Salmon adalah jenis ikan yang tidak dimiliki Indonesia dan termasuk salah satu ikan yang permintaannya semakin meningkat dari tahun ke tahun. Apriliani & Deswanti, (2020) menyatakan bahwa salmon tidak dapat hidup di wilayah perairan Indonesia dikarenakan oleh faktor suhu. Suhu perairan di Indonesia sangat tidak memungkinkan untuk keberlangsungan hidup ikan salmon. Salmon dapat bertahan hidup pada suhu perairan dari -20°C hingga -40°C. Indonesia mempunyai suhu perairan yang berkisar dari 15°C hingga 10°C. Hal tersebut menjadikan kegiatan impor harus dilakukan mengingat permintaan konsumen yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Kegiatan mengimpor salmon dari negara penghasil salmon terbesar tidak menjamin akan kualitas ikan yang selalu bagus (Apriliani Deswati, 2020). Salman W, (2016) menyatakan bahwa setiap komoditas perikanan yang akan diekspor wajib untuk memenuhi persyaratan dan mempunyai keunggulan mutu tersendiri sehingga dapat lolos dan dapat diterima di negara atau tempat yang dituju. Persyaratan yang paling utama ialah produk perikanan harus bebas dari Hama dan Penyakit Ikan (HPI) tertentu. HPI merupakan Hama dan Penyakit Ikan yang belum atau sudah terdapat di area tertentu di wilayah NKRI (Achmad et al., 2020). Terbitnya UU 21/2019 meningkatkan efektivitas sistem pengendalian sebaran Hama dan Penyakit Ikan (Achmad et al., 2020). Hama dan penyakit merupakan mikroorganisme yang dapat merusak dan mengganggu kehidupan sampai menyebabkan kematian pada ikan. KEPMEN NO.17 Tahun 2021 menjelaskan bahwa Salmon Atlantik termasuk salah satu media pembawa Aeromonas salmonicida. Bakteri tersebut pertama kali ditemukan pada ikan salmon dengan ciri-ciri seperti terdapat bercak kemerahan pada kulit ikan salmon (Cipriano & Bullock, 2001) .Aeromonas salmonicida dapat menyebabkan septikemia yang parah dan kematian pada ikan salmon yang rentan. Penyakit tersebut disebut dengan furunkulosis. Aeromonas salmonicida merupakan salah satu jenis bakteri yang dapat menurunkan kualitas ikan salmon. Penyakit yang ditumbulkan oleh Aeromonas salmonicida adalah furunkulosis pada salmon yang ditandai dengan adanya bercak kemerahan pada bagian kulit ikan serta dapat menular kepada ikan lainnya dengan cepat. Pentingnya pengetahuan terkait pengamatan ikan salmon yang terinfeksi Aeromonas salmonicida yang dapat merusak mutu ikan inilah yang menjadi latar belakang dilaksanakannya Praktik Kerja Lapang (PKL) di Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Surabaya II.

Kontributor: Eka Nurrahema Ning Asih, S.Kel., M.Si
Tanggal tercipta: 2022-06-22
Jenis(Tipe): Text
Bahasa: Indonesia
Pengenal(Identifier): TRUNOJOYO-KP-190341100108
No Koleksi: 190341100108


 Download File Penyerta (khusus anggota terdaftar)

 File PDF  1. TRUNOJOYO-KP-23917-190341100108-ANNISA RAMADHANTI#190341100108#ILMU KELAUTAN.pdf - 3056 KB


 Dokumen sejenis...

     Tidak ada !

 Dokumen yang bertautan...





 Kembali ke Daftar