Anda belum Log-in!
Silahkan Log in
Selamat Datang di Portal Digital Content Publisher
Selasa , 03 November 2026
Perpustakaan sebagai jantung pendidikan tinggi di Indonesia, harus mampu memberi kontribusi yang berarti bagi pelaksanaan proses belajar mengajar di perguruan tinggi.
di-posting oleh imam pada 2022-07-13 09:15:19 • 2001 klik
ANALISIS RESIDU ANTIBIOTIK FURAZOLIDONE PADA IKAN DAN UDANG DI UNIT PELAKSANAAN TEKNIS LABORATORIUM KESEHATAN IKAN DAN LINGKUNGAN PASURUAN, JAWA TIMUR
disusun oleh AMINATUN NAJAH
| Subyek: | ANTIBIOTIK FURAZOLIDONE IKAN DAN UDANG UNIT PELAKSANAAN TEKNIS LABORATORIUM KESEHATAN IKAN DAN LINGKUNGAN PASURUAN JAWA TIMUR |
| Kata Kunci: | ANTIBIOTIK FURAZOLIDONE IKAN DAN UDANG UNIT PELAKSANAAN TEKNIS LABORATORIUM KESEHATAN IKAN DAN LINGKUNGAN PASURUAN JAWA TIMUR |
[ Anotasi Abstrak ]
Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak di zona tropis yang letaknya di persimpangan antara benua Asia, benua Australia, Samudra Hindia serta Samudra Pasifik, dengan letak geografis tersebut Indonesia memiliki sumber daya perairan lautan dan daratan yang kaya akan sumber daya alam seperti flora dan fauna akuatik. Salah satu potensi sumber daya air laut di Indonesia adalah perikanan yang memiliki prospek besar untuk peningkatan sumber daya manusia. Potensi sumber daya perikanan di era globalisasi yang semakin besar menyebabkan adanya tuntutan konsumen terhadap standar mutu keamanan pangan dan produk perikanan akan semakin meningkat, sehingga memicu penggunaan Obat, Bahan Kimia dan Bahan Biologis (OIKB) sebagai salah satu input dalam proses produksi perikanan. Tuntutan tersebut memastikan bahwa kegiatan operasional produksi perikanan tetap mengedepankan kualitas dan keamanan pangan, karena dapat dikaitkan dengan berbagai resiko bagi kesehatan manusia apabila mengkonsumsinya. Indonesia perlu adanya perbaikan sistem kerangka mutu untuk meningkatkan daya saing dan akses pasar, sehingga menyebabkan adanya batasan pada penggunaan bahan terapeutik. Penggunaan bahan terapeutik masih sering dijumpai di dalam produk perikanan, dengan adanya kandungan bahan terapeutik pada produk tersebut, maka dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan bagi manusia (Munadi, 2017). Bahan terapeutik seperti antibiotik adalah salah satu bahan tambahan pakan tidak langsung yang digunakan dalam budidaya ikan, yang dapat membantu mencegah penyakit dan digunakan untuk mempercepat pertumbuhan ikan atau udang. Penggunaan antibiotik di bidang perikanan tidak dapat dihindari, karena antibiotik digunakan untuk mengobati penyakit pada hewan baik pada bagian luar tubuh hewan maupun sistem pencernaan hewan, selain itu digunakan untuk meningkatkan nafsu makan pada ikan dan udang. Penggunaan antibiotik sebagai pengobatan penyakit pada ikan atau udang sering menjadi alternatif pembudidaya untuk mengobati hewan dikarenakan ikan atau udang sangat rentan terhadap serangan penyakit tertentu seperti bakteri vibrios atau virus, apabila penyakit tersebut dibiarkan dan sudah tidak dapat dikontrol dengan baik maka dapat menimbulkan resistensi terhadap bakteri patogen dan menghasilkan residu di jaringan tubuh hewan tersebut (Rachmansyah et al., 2017). Antibiotik yang sering digunakan dan ditambahkan pada pakan oleh petambak ikan dan udang adalah Kloramfenikol (CAP), Nitrofuran (AOZ, AMOZ, AHD, SEM), Dimetridazole (DMZ). Nitrofuran merupakan salah satu antibiotik yang berada dalam kelas antibiotik dengan mempunyai spektrum luas sintesis yang semuanya mengandung cincin 5-nitrofuran yang khas. Resiko yang ada akibat penggunaan Nitrofuran dalam budidaya perikanan, dimana produk ikan akan dikonsumsi oleh manusia secara berkelanjutan dapat menimbulkan berbagai jenis gangguan kesehatan, seperti karsinogenik dan hormonal yang dapat mengakibatkan disfungsi pada sistem endokrin manusia secara keseluruhan, sehingga penggunaan Nitrofuran sebagai obat baik pada manusia maupun hewan telah dibatasi. Indonesia telah menggeluarkan peraturan berdasarkan PERMEN- KP No.37/PERMEN-KP/2019 yang menjelaskan bahwa terdapat batas MRPL pada residu antibiotika pada pangan yang berupa hewan, sehingga masih bisa dikonsumsi untuk antibiotik jenis Nitrofuran adalah 1.00 ppb atau 1 μg/kg. Keberadaan residu antibiotik yang ditemukan dalam produk perikanan yang tidak sesuai dengan ketentuan Standar Nasional Indonesia (SNI 01-6366-2000) yang telah ditetapkan akan menjadi penghambat upaya peningkatan pra-syarat kualitas dan keamanan pangan bagi konsumen di era pasar (Yasin, 2021). Penyalahgunaan antibiotik dapat berpotensi menyebabkan akumulasi residu antibiotik dalam jaringan dan mengakibatkan dampak buruk lainnya, selain berpotensi mengakibatkan berbagai dampak bagi kesehatan manusia bila mengkonsumsinya, terdapat juga dampak negatif terhadap ekspor hasil produk perikanan ke negara lain, khususnya dampak negatif yang paling menonjol yaitu dengan menurunnya ekspor hasil produk perikanan pada Uni Eropa dan Amerika Serikat, khususnya pada udang. Penurunan hasil ekspor dikarenakan terdapat kasus yang terjadi pada tahun 2006 dan 2007 yang mana ekpor udang ke Jepang dan China ditolak karena dicurigai mengandung residu antibiotik, sehingga mengakibatkan ekpor udang ke luar negeri mengalami penurunan. Penerapan baku mutu dan sanitasi yang sangat ketat pada saat ekspor udang ke beberapa negara salah satunya Uni Eropa juga berdampak mengalami penurunan volume ekspor udang dari Indonesia, hal ini karena adanya pemberlakukan zero tolerance terhadap residu Kloramfenikol dan Furazolidone di Uni Eropa. Ekspor ikan juga mengalami penuruan volume ekspor ke berberapa negara, hal ini dikarenakan dengan berlakunya penetapan persyaratan oleh negara-negara importir bagi produk pangan yang masuk ke negaranya, antara lain bebas residu antibiotik, bakteria dan bahan kimia berbahaya lain, ketelusuran (traceability), dan sertifikasi. Putrisila dan Yuliati (2021) menyatakan bahwa pasar utama dalam ekpor hasil perikanan ditempati oleh Amerika Serikat kemudian terdapat Tiongkok dan Jepang. Mencegah penggunaan antibiotik yang tidak terkontrol, maka perlu adanya aturan penggunaan antibiotik sehingga dapat memenuhi persyaratan keamanan pangan dan lingkungan dengan kandungan residu di bawah Maximum Residue Limits yang telah ditetapkan. Keberadaan kandungan residu antibiotik perlu dilakukan analisis lebih lanjut guna mengetahui atau mendeteksi bahwa kandungan residu antibiotik telah berada di bawah Maximum Residue Limits. Salah satu metode analisis yang dapat dilakukan dengan mudah menggunakan metode bioanalisis yang analisis tersebut menggunakan immunoassay (ELISA), dalam metode ELISA tersebut mampu mendeteksi senyawa toksik dalam makanan dan ELISA memiliki kemampuan sensitivitas dan spesifitas yang tinggi (Putra et al, 2019). Salah satu lembaga yang berfungsi untuk mengontrol keamanan pangan pada produk perikanan atau kesehatan ikan adalah Unit Pelaksanaan Teknis Laboratorium Kesehatan Ikan Dan Lingkungan Pasuruan Jawa Timur. Berdasarkan pemikiran diatas maka perlu dilakukan Praktik Kerja Lapang (PKL) untuk mengetahui dan memahami teknik analisis residu antibiotik pada komoditas ikan dan udang yang menggunakan metode ELISA dengan baik dan tepat, yang pengujiannya berada di Unit Pelaksanaan Teknis Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan Pasuruan Jawa Timur yang merupakan salah satu instansi dengan memberikan pelayanan pengujian kandungan residu antibiotik pada komoditas perikanan yang sesuai dengan nilai Maximum Residue Limits (MRL) yang telah ditetapkan pada komoditas perikanan berdasarkan standar regulasi pangan Indonesia.
| Kontributor | : Indah Wahyuni Abida, S.Pi., M.Si |
| Tanggal tercipta | : 2021-04-14 |
| Jenis(Tipe) | : Text |
| Bahasa | : Indonesia |
| Pengenal(Identifier) | : TRUNOJOYO-KP-190351100058 |
| No Koleksi | : 190351100058 |
Download File Penyerta (khusus anggota terdaftar)
1. TRUNOJOYO-KP-24013-190351100058-LAPORAN PKL_AMINATUN NAJAH_190351100058.pdf - 3463 KB
Dokumen sejenis...Tidak ada !
Dokumen yang bertautan...
Kembali ke Daftar 