Anda belum Log-in!
Silahkan Log in

Selamat Datang di Portal Digital Content Publisher
Selasa , 03 November 2026

Perpustakaan sebagai jantung pendidikan tinggi di Indonesia, harus mampu memberi kontribusi yang berarti bagi pelaksanaan proses belajar mengajar di perguruan tinggi.

TRUNOJOYO » KP&PKL » Manajemen Sumberdaya Perairan
di-posting oleh imam pada 2022-07-13 14:12:37  •  875 klik

KELIMPAHAN BAKTERI Vibrio sp. PADA SAMPEL AIR TAMBAK DI UPT LABORATORIUM KESEHATAN IKAN DAN LINGKUNGAN PASURUAN JAWA TIMUR
disusun oleh KRISTIN NATALIA AMBAT

Subyek: BAKTERI Vibrio sp.
AIR TAMBAK
UPT LABORATORIUM KESEHATAN IKAN DAN LINGKUNGAN PASURUAN JAWA TIMUR
Kata Kunci: BAKTERI Vibrio sp.
AIR TAMBAK
UPT LABORATORIUM KESEHATAN IKAN DAN LINGKUNGAN PASURUAN JAWA TIMUR

[ Anotasi Abstrak ]

Budidaya dalam sektor perikanan menjadi salah satu penopang kehidupan bagi masyarakat di Indonesia guna mewujudkan kesejahteraan dan menjamin adanya ketersediaan pangan, gizi maupun kesehatan bagi manusia. Selain kaitannya dengan ketersediaan pangan, budidaya dapat memberikan dampak positif dalam bidang ekonomi, sebab dapat memberikan lapangan pekerjaan serta juga pendapatan bagi masyarakat. Oleh sebab itu, budidaya perikanan diharapkan dapat terus berjalan untuk memenuhi misi kesejahteraan masyarakat kelautan dan perikanan (Hermawan et al., 2017). Kegiatan budidaya tentu tidak selalu berjalan dengan lancar, ada beberapa pemicu atau penyebab adanya kegagalan maupun kendala dalam budidaya tersebut. Salah satu penyebab kegagalan budidaya adalah serangan penyakit ikan atau organisme yang dibudidaya. Rahmaningsih (2018) mendefinisikan penyakit ikan sebagai suatu penyebab dari keadaan yang tidak normal pada ikan atau organisme budidaya dan merupakan hewan inang yang dapat disebabkan oleh organisme, virus maupun keadaan lingkungan yang berkaitan dengan nutrisi yang terkandung di dalamnya. Secara garis besar, penyakit atau gangguan pada ikan disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu faktor biotik dan abiotik. Faktor biotik meliputi segala makhluk hidup seperti, tumbuhan, hewan, mikroorganisme yang di dalamnya terdapat jamur, alga, dan juga bakteri. Kemudian faktor abiotiknya atau yang disebut dengan faktor lingkungan yakni seperti, suhu, pH, DO, faktor pakan atau nutrisi (Rahmaningsih, 2018). Permasalahan paling serius yang kini menjadi kendala dalam kegiatan budidaya ikan air tawar adalah serangan patogen. Virus, bakteri, protozoa, jamur ataupun parasit merupakan golongan penyakit infeksi. Berbeda dengan penyakit non infeksi seperti penyakit yang disebabkan oleh pakan, lingkungan, genetik serta tumor (Aryani et al., 2004). Terjadinya penularan penyakit ataupun parasit tertentu dapat melalui beberapa cara yaitu, adanya kontak langsung antar organisme yang sakit terhadap yang sehat, kemudian bangkai dari ikan yang sakit ataupun melalui air juga. Penularan tersebut umumnya terjadi dalam satu kolam budidaya (Jasmanindar, 2011). Selain itu, penularan yang lain dapat melalui peralatan dan juga pemindahan organisme budidaya dari kolam yang telah terkontaminasi penyakit ke kolam yang masih baik kondisinya dan belum terkontaminasi oleh penyakit apapun (Sunarto, 2005). Kaitannya dengan permasalahan penyakit patogenik pada kegiatan budidaya, bakteri menjadi salah satu sumber penyakit yang dapat menyebabkan kematian bagi organisme yang dibudidaya jika konsentrasinya melebihi batas normal. Bakteri merupakan salah satu dari banyaknya organisme mikroskopis yang bersifat merugikan dan ada juga yang bersifat menguntungkan. Bakteri Vibrio sp. merupakan satu dari banyaknya jenis bakteri yang merugikan kegiatan budidaya sebab bakteri ini masuk dalam jenis patogen yang menginfeksi serta menimbulkan penyakit pada hewan budidaya khususnya udang yang sedang dalam keadaan lemah dan tidak didukung oleh kondisi lingkungan yang baik (Feliatra et al., 2014). Idami dan Rizki (2020) melaporkan bahwa bakteri Vibrio sp. dikatakan bersifat patogen jika dalam air pemeliharaan kelimpahan hingga mencapai 8,35 x 104 CFU/ml atau lebih. Terjadinya kegagalan panen pada tambak-tambak di Indonesia khususnya budidaya udang menjadi suatu kejadian yang merugikan banyak pihak terutama petani tambak. Penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri Vibrio sp. dikenal dengan penyakit vibriosis. Vibrio sp. menyebabkan tingkat kematian hingga 90% pada larva udang windu, kemudian untuk jenis Vibrio harveyi dapat membunuh larva udang windu (Penaeus monodon) di hatchery hingga mencapai 100% (Feliatra et al., 2014). Adapun jenis-jenis bakteri Vibrio yang berpotensi menyebabkan penyakit vibriosis yakni Vibrio harveyi, Vibrio parahaemoliticus, Vibrio alginoliticus, Vibrio anguilarum (Effendi, 2002). Salah satu jenis komoditas budidaya yang rentan terjangkit penyakit vibriosis adalah udang memiliki gejala klinis seperti adanya bercak putih, bagian telson, dan ekornya berwarna merah serta terdapat melanoso pada tubuhnya (Sardjito et al., 2012). Keberadaan bakteri Vibrio sp. sebagai agen penyakit vibriosis dalam lingkungan budidaya ini jika tidak dapat lagi dicegah ataupun dikendalikan akan dapat memberikan dampak yang fatal sampai kepada kematian massal pada organisme yang dibudidaya (Kurniawan, 2012). Berdasarkan penelitian yang dilakukan Kharisma dan Abdul, 2012 bahwa telah ditemukan kelompok bakteri Vibrio sp. pada air pembesaran udang vannamei dengan kelimpahan bakteri telah melebihi ambang batas minimal sehingga rentan terhadap serangan penyakit Vibriosis. Bintari et al., (2016) melaporkan bahwa pada kolam pembenihan larva di UPT Pembenihan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali ditemukan kelompok bakteri Vibrio dengan kelimpahan rata-rata sebanyak 10-103 CFU/mL. Terdapat 5 isolat bakteri paling dominan pada kolam pembenihan larva. Berdasarkan hasil analisa Postulat Koch menunjukkan isolat VSP06 berpotensi menyebabkan infeksi Vibriosis pada larva udang galah (M. rosenbergii (de Man)). Hasil identifikasi VSP06 secara biokimia teridentifikasi sebagai V. anguillarum. Oleh karena adanya permasalahan penyakit ikan tersebut, maka diperlukan pemeriksaan atau diagnosa yang dilakukan sejak dini guna mengurangi dampaknya dikemudian hari yang dapat merugikan atau menjadi penyebab kegagalan panen sebagai akibat terbatasnya informasi terkait penyakit ikan pada para pembudidaya. Kaitannya dengan penyakit vibriosis, maka pemeriksaan bakteri Vibrio sp. pada sampel air tambak menjadi salah satu upaya yang baik untuk dapat mendeteksi keberadaan potensi penyakit vibriosis pada air tambak yang diidentifikasi. Oleh sebab itu, perlu dilakukan Praktik Kerja Lapang (PKL) untuk mengetahui dan memahami teknik dalam mengidentifikasi total bakteri Vibrio sp. dari sampel tambak budidaya yang dianalisis di Unit Pelaksanaan Teknis Laboratorium Penguji Kesehatan Ikan Dan Lingkungan, Pasuruan yang merupakan salah satu instansi dengan pelayanan di bidang mikrobiologi, residu, PCR dan sebagainya. Keberadaan LKIL Pasuruan tersebut untuk layanan keberlanjutan usaha budidaya yang disediakan pemerintah.

Kontributor: Indah Wahyuni Abida, S.Pi., M.Si
Tanggal tercipta: 2022-04-14
Jenis(Tipe): Text
Bahasa: Indonesia
Pengenal(Identifier): TRUNOJOYO-KP-190351100034
No Koleksi: 190351100034


 Download File Penyerta (khusus anggota terdaftar)

 File PDF  1. TRUNOJOYO-KP-24037-190351100034-LAPORAN PKL-KRISTIN NATALIA AMBAT-190351100034.pdf - 2185 KB


 Dokumen sejenis...

     Tidak ada !

 Dokumen yang bertautan...





 Kembali ke Daftar