Anda belum Log-in!
Silahkan Log in

Selamat Datang di Portal Digital Content Publisher
Jumat , 06 November 2026

Perpustakaan sebagai jantung pendidikan tinggi di Indonesia, harus mampu memberi kontribusi yang berarti bagi pelaksanaan proses belajar mengajar di perguruan tinggi.

TRUNOJOYO » KP&PKL » Kelautan
di-posting oleh imam pada 2022-07-18 09:24:21  •  1475 klik

KONDISI SUHU PERMUKAAN LAUT SELAT MADURA DI MUSIM BARAT DAN TIMUR TAHUN 2000 (La nina), 2010 (Netral), DAN 2014 (El nino)
disusun oleh YEMIMA MIA DARMAWAN SIHMIRAH

Subyek: SUHU PERMUKAAN LAUT
SELAT MADURA
MUSIM BARAT DAN TIMUR
La nina
El nino
Kata Kunci: SUHU PERMUKAAN LAUT
SELAT MADURA
MUSIM BARAT DAN TIMUR
La nina
El nino

[ Anotasi Abstrak ]

Indonesia merupakan negara maritim terletak di ekuator dapat terjadi berbagai fenomena atmosfer dan perairan yang sangat kompleks, baik lokal maupun global. Fenomena mempengaruhi nilai arus, kesuburan perairan dan temperatur. Termoklin adalah lapisan yang memiliki gradien temperatur vertikal yang signifikan di kedalaman tertentu, sehingga erat kaitannya dengan nilai temperatur (Ramadhan et al. 2021). Lapisan termoklin berada di antara lapisan mix layer dibagian atas dan deep layer pada bagian bawah. Indonesia dikelilingi oleh Samudra Pasifik dan Hindia serta Benua Australia dan Asia. Letak geografis dipengaruhi oleh garis khatulistiwa (Syah Sholehah, 2021). Lokasi ini menjadikan Indonesia pertemuan sirkulasi meridian (utara-selatan) yang dikenal sebagai sirkulasi Hadley dan sirkulasi regional (timur-barat) yang dikenal sebagai sirkulasi Walker, yang keduanya berdampak signifikan terhadap wilayah tersebut. Salah satu perairan di Indonesia yang membawa efek besar ke banyak daratan adalah Laut Jawa, Laut Jawa merupakan perairan yang banyak berbatasan dengan pulau-pulau dan gugusan kepulauan di Indonesia. Fenomena oseanografi yang terjadi di Laut Jawa bervariasi karena mendapatkan pengaruh besar dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik (Mujadida et al. 2021). Selat Madura adalah selat yang memisahkan pulau Jawa dan Madura. Jarak terdekat antara kedua pulau ini adalah di ujung barat Pulau Madura (Pantai Barat Madura atau Kabupaten Bangkalan) dan Kabupaten Gresik dan Kota Surabaya. Selat Madura juga merupakan salah satu infrastruktur yang sangat penting sekaligus penopang ekonomi bagi masyarakat Jawa Timur, yang digunakan sebagai objek pariwisata, industri dan transportasi (Hidayah Suhary 2018). Selat Madura merupakan perairan dangkal dan semi tertutup yang memisahkan dua pulau, yaitu Pulau Jawa dan Pulau Madura. Perairan ini berbatasan dengan Laut Bali, Selat Bali, dan Laut Jawa sehingga kondisi fisik dan biologi perairannya sangat dipengaruhi oleh ketiga perairan tersebut. Perairan ini memiliki rentang perbedaan suhu horizontal maupun vertikal yang tidak begitu besar, berkisar antara 26,5°C – 30°C (Akhbar et al. 2018). Sebaran mendatar suhu permukaan perairan Selat Madura pada musim timur menunjukkan bahwa secara umum sebaran suhu di permukaan perairan cenderung homogen. Sebagian suhu permukaan laut di wilayah ini sebesar 29°C 30°C. Hal ini menunjukkan adanya proses pencampuran secara horizontal yang efektif di permukaan. Salah satu penyebab efektifnya pen-campuran massa air secara horizontal adalah karena pada musim timur, arus khatulistiwa selatan di permukaan mengalir sangat kuat di lokasi (Trinugroho et al. 2019). Perairan Indonesia sebagai negara maritim secara geografis beragam dan dampak kondisi wilayah begitu besar sehingga dampak wilayah terhadap keragaman iklim tidak dapat diabaikan. Salah satu faktor yang mempengaruhi curah hujan di Indonesia adalah fenomena La nina dan El nino (Athoillah et al. 2017). El nino di Samudra Pasifik biasanya berpihak pada IOD positif di Samudra Hindia, sedangkan La nina berpihak pada IOD negatif. Peristiwa ekstrim ini memiliki dampak yang signifikan terhadap variabilitas SPL Samudera Hindia; mereka menyebabkan banjir yang signifikan dan curah hujan di atas rata-rata di banyak bagian Australia, Indonesia, dan Bangladesh, dan kondisi kekeringan di Afrika Timur (Khan et al. 2021). Laut disebut reservoir atau tempat penyimpanan utama dari sistem iklim (Hu et al., 2020). Sehingga jika terjadi ketidakseimbangan energi total di atmosfer, paling baik dinilai dengan melakukan menganalisis perubahan dalam penyimpanan energi (Abraham et al., 2013). Lautan global telah menyerap 93% dari panas ekstra yang terperangkap oleh Bumi sejak 1970 (Wijffels et al., 2016). Hal ini yang menjadikan parameter oseanografi, Suhu permukaan laut menjadi salah satu proksi terjadinya perubahan iklim. SPL memiliki peranan yang cukup signifikan dalam proses terjadinya hujan (Lestari et al., 2017). SPL membantu laut menyuplai uap air yang berpengaruh pada tinggi rendahnya curah hujan (Wulandari dan Apriansyah, 2018).

Kontributor: Ary Giri Dwi Kartika, S.Kel., M.Si.
Tanggal tercipta: 2022-07-06
Jenis(Tipe): Text
Bahasa: Indonesia
Pengenal(Identifier): TRUNOJOYO-KP-190341100097
No Koleksi: 190341100097


 Download File Penyerta (khusus anggota terdaftar)

 File PDF  1. TRUNOJOYO-KP-24174-190341100097-Yemima Mia D S#190341100097#Ilmu Kelautan.pdf - 13393 KB


 Dokumen sejenis...

     Tidak ada !

 Dokumen yang bertautan...





 Kembali ke Daftar