Anda belum Log-in!
Silahkan Log in

Selamat Datang di Portal Digital Content Publisher
Sabtu , 07 November 2026

Perpustakaan sebagai jantung pendidikan tinggi di Indonesia, harus mampu memberi kontribusi yang berarti bagi pelaksanaan proses belajar mengajar di perguruan tinggi.

TRUNOJOYO » KP&PKL » Manajemen Sumberdaya Perairan
di-posting oleh imam pada 2022-07-22 19:41:11  •  801 klik

TEKNIK PENGELOLAAN KUALITAS AIR PADA PEMELIHARAAN LARVA UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii) DI UNIT KERJA BUDIDAYA AIR PAYAU (UKBAP) SAMAS D.I YOGYAKARTA
disusun oleh Ainun Nuraisyatu Husna

Subyek: LARVA UDANG GALAH
UNIT KERJA BUDIDAYA AIR PAYAU (UKBAP) SAMAS D.I YOGYAKARTA
Kata Kunci: LARVA UDANG GALAH
UNIT KERJA BUDIDAYA AIR PAYAU (UKBAP) SAMAS D.I YOGYAKARTA

[ Anotasi Abstrak ]

Udang galah merupakan salah satu komoditas unggulan dengan permintaan pasar yang sangat besar. Udang ini diminati baik di pasar lokal maupun internasional karena memiliki keunggulan nilai gizi dan nilai ekonomis yang tinggi . Selain itu, udang ini juga merupakan jenis udang yang mempunyai toleransi yang cukup tinggi terhadap fluktuasi kualitas air (Tjahyo et al., 2017). Meskipun mempunyai banyak keunggulan, namun apabila kondisi lingkungan seperti kualitas air tidak sesuai dengan standar untuk budidaya, tentu akan dapat menyebabkan kematian dan akhirnya kerugian dalam usaha budidaya. Rendahnya kualitas air pada media pemeliharaan dapat mengakibatkan rendahnya tingkat pertumbuhan, proses metabolisme dan sintasan udang (Hartini et al., 2013). Kualitas air yang buruk dan tidak terkontrol dapat menjadi sumber penyakit yang dapat menyebabkan udang stres bahkan kematian. Dalam proses budidaya, udang akan terkena tekanan akibat perubahan lingkungan yang bervariasi termasuk faktor alam, misalnya salinitas dan suhu (Khartiono et al., 2014). Pembenihan udang galah sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, termasuk di dalamnya faktor kualitas air. Salinitas menjadi salah satu faktor yang sangat penting karena berpengaruh terhadap kehidupan udang galah. Salinitas mempengaruhi secara langsung pada aktivitas fisiologis, baik pada proses osmoregulasi maupun bioenergetik udang galah. Salinitas memiliki hubungan erat dengan tekanan osmotik dan sifat ionik air. Semakin besar jumlah ion terlarut dalam air, maka salinitas dan kepekatan osmotik larutan akan semakin tinggi. Perubahan salinitas akan menyebabkan perubahan tekanan osmotik maupun tekanan ionik air (Riani et al., 2010). Pengaturan tekanan osmotik air pada media pemeliharaan udang galah akan menghasilkan komposisi dan konsentrasi ionik air cairan dalam sel dengan cairan luar sel yang seimbang. Hal tersebut sejalan dengan laporan Aini et al. (2018) yang menjelaskan bahwa perkembangan udang galah yang tinggi dapat diperoleh dengan cara menjaga kondisi lingkungan budidaya, yaitu dengan cara meminimalkan penggunaaan energi untuk proses osmoregulasi sehingga energi dapat digunakan untuk memaksimalkan perkembangan udang galah. Udang galah memiliki permintaan pasar yang cukup tinggi dan untuk melakukan kegiatan budidaya perlu adanya ketersediaan benih yang mempunyai kualitas baik. Berdasarkan data statistik tahun 2001 produksi benih udang galah di Indonesia masih terbatas. Di Jawa Barat hanya terdapat satu UPUG (Unit Pembenihan Udang Galah) dengan total produksi benur sebesar 300.000 ekor per tahun, di Jawa Tengah terdapat tujuh UPUG dengan produksi benur mencapai 11.809.000 ekor per tahun, di Bali terdapat sembilan UPUG dengan total produksi benur sebanyak 7.786.000 ekor per tahun. Sementara itu unit pembenihan di Jawa Timur dalam kondisi kurang berproduksi (Tjahyo et al., 2017). Unit Kerja Budidaya Air Payau (UKBAP) Samas merupakan salah satu instalasi yang telah berhasil dan tersertifikasi oleh Badan Sertifikasi Nasional (BSN) dalam pembenihan Udang Galah. Oleh karena itu, untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tentang pemeliharaan larva udang galah, maka praktek kerja lapang (PKL) tentang pemeliharaan larva Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii) perlu dilaksanakan di Unit Kerja Budidaya Air Payau (UKBAP) Samas D.I Yogyakarta. Unit Kerja Budidaya Air Payau (UKBAP) Samas, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan unit pembudidaya udang galah dengan produksi terbesar di pulau Jawa (Binur dan Pancoro, 2017). Saat ini, induk udang galah yang tersedia di UKBAP Samas berasal dari populasi Siratu, GIMacro, Mahakam, dan Bengawan Solo. Populasi Siratu (Seleksi Individu di Pelabuhan Ratu) berasal dari persilangan udang galah Sungai Bone (Sulawesi Selatan), Sungai Citanduy (Jawa Barat) dan Sungai Mahakam (Kalimantan Timur). Populasi GIMacro (Genetic Improvement of Macrobrachium rosenbergii) berasal dari persilangan udang galah Kalipucang (Jawa Barat), Cimanuk (Jawa Barat), dan Sungai Musi (Sumatera Selatan) (Khairuman dan Amri, 2004). Populasi Mahakam merupakan udang galah tangkapan dari sungai Mahakam (Kalimantan Timur), yang telah diseleksi dan didomestikasi oleh Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi. Sedangkan populasi Bengawan Solo merupakan tangkapan dari Sungai Bengawan Solo daerah Lamongan yang telah diseleksi oleh Unit Pengelola Budidaya Laut Probolinggo.

Kontributor: Abdus Salam Junaedi, S.Si., M.Si.,
Tanggal tercipta: 2022-07-14
Jenis(Tipe): Text
Bahasa: Indonesia
Pengenal(Identifier): TRUNOJOYO-KP-190351100048
No Koleksi: 190351100048


 Download File Penyerta (khusus anggota terdaftar)

 File PDF  1. TRUNOJOYO-KP-24494-190351100048-Ainun Nuraisyatu Husna-190351100048-Laporan Pkl-MSP.pdf - 6888 KB


 Dokumen sejenis...

     Tidak ada !

 Dokumen yang bertautan...





 Kembali ke Daftar