Anda belum Log-in!
Silahkan Log in
Selamat Datang di Portal Digital Content Publisher
Sabtu , 07 November 2026
Perpustakaan sebagai jantung pendidikan tinggi di Indonesia, harus mampu memberi kontribusi yang berarti bagi pelaksanaan proses belajar mengajar di perguruan tinggi.
di-posting oleh imam pada 2022-08-02 14:11:34 • 409 klik
TATA LAHAN PRODUKSI PT GARAM PEGARAMAN I SUMENEP
disusun oleh IKA MASRUROH
| Subyek: | PT GARAM PEGARAMAN I SUMENEP |
| Kata Kunci: | PT GARAM PEGARAMAN I SUMENEP |
[ Anotasi Abstrak ]
Pulau Madura disebut sebagai pulau garam karena menjadi sentral penghasil garam terbesar di Jawa Timur. Keempat kabupaten di Pulau Madura merupakan wilayah penghasil garam. Kabupaten Bangkalan memiliki lahan produktif sebesar 374 Ha dan lahan potensial 825 Ha. Kabupaten Sampang memiliki lahan produktif sebesar 4246 Ha dan lahan potensial sebesar 4849 Ha. Kabupaten Pamekasan memiliki lahan produktif sebesar 975 Ha dan lahan potensial sebesar 1414 Ha serta Kabupaten Sumenep memiliki lahan produktif sebesar 2767 Ha dan lahan potensial sebesar 1214 Ha (Efendy et al., 2012). Produktivitas tersebut erat kaitannya dengan topografi Pulau Madura yang relatif datar dengan lahan yang kering sehingga mampu menyokong pasokan garam mencapai 785.000 ton di tahun 2019 (Effendy et al., 2020). Pulau Madura menjadi kawasan produksi garam dalam rangka diversifikasi produk dengan bahan baku air laut dan air sungai yang memiliki kandungan garam ± 3,5%. Lokasi produksi juga dikelilingi perairan laut dan sungai sehingga menjamin keberlanjutan produksi hingga puncak masa panen dan seterusnya. Kebutuhan akan tenaga kerja dan fasilitas transportasi kini juga tercukupi dengan melibatkan masyarakat sekitar lahan pegaraman dalam kegiatan produksi. Kemudahan akses mobilitas juga berpengaruh pada kegiatan produksi dan distribusi garam dan jasa (Widoretno dan Ningtyas, 2016). Faktor-faktor lain yang mempengaruhi produksi garam dengan teknologi solar evaporation seperti kebanyakan masyarakat gunakan antara lain bahan baku air yang harus jernih dengan konsentrasi yang cukup tinggi sehingga terciptanya kontinuitas suplai bahan baku, kondisi tanah harus kedap air atau seepage 0 dan kering minimal 4 bulan tanpa hujan berturut-turut, kelembapan udara rendah, lama penyinaran, laju penguapan, kecepatan angin, suhu udara serta penataan lahan pegaraman yang proporsional antara waduk, lahan evaporasi, meja kristalisasi beserat saluran-saluran air masuk dan pembuangan. Pengamatan mengenai tata lahan produksi garam ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh desain lahan pegaraman dengan hasil produksi berdasarkan kuantitas dan kualitas garam (Sudarto, 2011).
| Kontributor | : Wiwit Sri Werdi Pratiwi, S.Si., M.Si., M.Sc |
| Tanggal tercipta | : 2022-07-12 |
| Jenis(Tipe) | : Text |
| Bahasa | : Indonesia |
| Pengenal(Identifier) | : TRUNOJOYO-KP-190341100001 |
| No Koleksi | : 190341100001 |
Download File Penyerta (khusus anggota terdaftar)
1. TRUNOJOYO-KP-24946-190341100001-Ika Masruroh#190341100001#Laporan PKL.pdf - 2115 KB
Dokumen sejenis...Tidak ada !
Dokumen yang bertautan...
Kembali ke Daftar 