Anda belum Log-in!
Silahkan Log in
Selamat Datang di Portal Digital Content Publisher
Sabtu , 07 November 2026
Perpustakaan sebagai jantung pendidikan tinggi di Indonesia, harus mampu memberi kontribusi yang berarti bagi pelaksanaan proses belajar mengajar di perguruan tinggi.
di-posting oleh imam pada 2022-08-08 08:25:59 • 256 klik
TATA ALIRAN AIR PADA AREA PEGARAMAN GERSIK PUTIH PT. GARAM
disusun oleh TAUFIK BUDIMAN
| Subyek: | GARAM |
| Kata Kunci: | GARAM |
[ Anotasi Abstrak ]
Wilayah Indonesia secara geografi terletak pada posisi strategis yang menjadi pusat lalu lintas maritim antar benua. Indonesia juga berdaulat atas laut wilayahnya meliputi ; perairan pedalaman, perairan nusantara, dan laut teritorial. Indonesia juga memiliki hak- hak berdaulat dan kewenangan tertentu, seperti Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (ZEEI) sejauh 200 mil, dimana Indonesia memiki hak-hak berdaulat atas kekayaan alam (perikanan), kewenangan dalam memelihara laut, mengatur dan mengizinkan penelitian ilmiah, pemberian izin pembanguan di pulau-pulau buatan, dan lain sebagainya. Potensi Indonesia terhadap sumber daya alamnya yang melimpah, tidak hanya dalam bidang perikanan dan bidang transportasi, melainkan sumberdaya, mineral yang dapat dikembangkan dan menggairahkan ialah air laut dalam (deep ocean water). Air laut dalam ialah air di kedalaman 200 m yang dapat digunakan sebagai bahan baku perikanan, kosmetik,dan air mineral, serta kebutuhan pokok masyarakat seperti garam (Lasabuda, 2013). Garam ialah suatu bahan yang penting untuk mencukupi kebutuhan masyarakat dan harganya murah. Garam ialah salah satu kebutuhan sebagai pelengkap dari kebutuhan pangan dan sumber elektrolit bagi masyarakat. Penggunaan garam pada umumnya sebagai bahan pangan dan bahan pembantu industri. Penggunaan garam pada umumnya sebagai bahan pangan dan bahan penolong industri. Indonesia sebagai negara maritim berpotensi sebagai penghasil garam beryodium, karena memiliki luas laut 70 persen dari luas wilayah yang dimililki dan memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada (Yansa, et al., tanpa tahun). Proses pembuatan garam dapat dilakukan dengan beberapa kelompok berdasarkan perbedaan kandungan NaCl-nya sebagai unsur utama. Prosesnya antara lain penguapan dengan sinar matahari, penguapan dengan tenaga bahan bakar suatu evaporator dan kristalisasi garamnya dalam suatu crytallizer, pemisahan elektrokimia larutan garam dengan proses elektrolisa, lalu dikristalisasi dengan crystallizer. Proses pembuatan garam di negara tropis, seperti Indonesia umumnya dilakukan dengan menguapkan air laut dengan bantuan sinar matahari. Proses yang demikian sangat mudah dilakukan dan mengingat biaya operasionalnya yang murah. Selain itu, pada penggunaan lahan garam dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pembuatan garam perlu diperhatikan, salah satunya laju penguapan. Laju penguapan bergantung pada kelembapan udara, kecepatan angin, dan laju energi matahari (Wilarso, 1996 dalam Leokristi et al., 2013). Kebutuhan akan garam di Indonesia sangat tinggi. Menurut data KKP (2014) pada tahun 2014 Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia menargetkan produksi garam sebesar 3,3 juta ton, namun kebutuhan garam konsumsi per-tahunnya hanya 1,5 juta ton. Sebesar 1,8 juta ton garam belum terpenuhi oleh produksi garam dalam negeri. Garam-garam tersebut tidak seluruhnya berjenis garam konsumsi, melainkan terdapat garam industri yang semakin lama, kebutuhannya semakin meningkat. Oleh karena itu dibutuhkan upaya untuk mengalihkan sebagian produksi garam rakyat dari garam konsumsi menjadi garam untuk kebutuhan industri, dengan cara meningkatkan kualitas garam (Bramawanto et al., 2015). Menurut Bramawanto et al., (2015) beberapa penerapan teknologi untuk meningkatkan kualitas garam antara lain pengunaan ramsol, pengunaan geomembran atau terpal sebagai dasaran meja kristalisasi, dan penerapan teknologi ulir yang disempurnakan menjadi teknologi ulir filter (TUF). Prinsip utama dalam teknik pembuatan garam pada umumnya ialah dengan penguapan air laut oleh sinar matahari (evaporasi) yang dialirkan melalui petak-petak berseri dalam proses penuaan air laut. Sehingga dalam penerapannya, diperlukan keterampilan tentang proses pengelolaan air laut (tata aliran air) dan pengelolaan lahan garam.
| Kontributor | : Dr. Makhfud Efendy, S.Pi., M.Si. |
| Tanggal tercipta | : 2022-07-12 |
| Jenis(Tipe) | : Text |
| Bahasa | : Indonesia |
| Pengenal(Identifier) | : TRUNOJOYO-KP-190341100014 |
| No Koleksi | : 190341100014 |
Download File Penyerta (khusus anggota terdaftar)
1. TRUNOJOYO-KP-25094-190341100014-Taufik Budiman#190341100014#Ilmu Kelautan.pdf - 1332 KB
Dokumen sejenis...- PENGOLAHAN LIMBAH GARAM (BITTERN) MENJADI STRUVITE DENGAN PENGONTROLAN PH
- PENGOLAHAN LIMBAH GARAM (BITTERN) MENJADI PUPUK STRUVITE DENGAN JENIS BASA KUAT YANG BERBEDA
- FLUKTUASI KADAR KEPEKATAN AIR LAUT PADA KADAR NATRIUM KLORIDA (NaCl)HASIL GARAM DI TIGA LOKASI TAMBAK GARAM RAKYAT KECAMATAN PANGARENGAN SAMPANG
- KANDUNGAN NaCl DAN H2O GARAM RAKYAT PADA MEDIA PENYIMPANAN BERBEDA
- kajian sifat fisik di tambak garam pada kecamatan kamal dan kecamatan kwanyar kabupaten bangkalan
Dokumen yang bertautan...- PENGOLAHAN LIMBAH GARAM (BITTERN) MENJADI STRUVITE DENGAN PENGONTROLAN PH
- PENGOLAHAN LIMBAH GARAM (BITTERN) MENJADI PUPUK STRUVITE DENGAN JENIS BASA KUAT YANG BERBEDA
- FLUKTUASI KADAR KEPEKATAN AIR LAUT PADA KADAR NATRIUM KLORIDA (NaCl)HASIL GARAM DI TIGA LOKASI TAMBAK GARAM RAKYAT KECAMATAN PANGARENGAN SAMPANG
- KANDUNGAN NaCl DAN H2O GARAM RAKYAT PADA MEDIA PENYIMPANAN BERBEDA
- kajian sifat fisik di tambak garam pada kecamatan kamal dan kecamatan kwanyar kabupaten bangkalan
Kembali ke Daftar 