Anda belum Log-in!
Silahkan Log in
Selamat Datang di Portal Digital Content Publisher
Sabtu , 07 November 2026
Perpustakaan sebagai jantung pendidikan tinggi di Indonesia, harus mampu memberi kontribusi yang berarti bagi pelaksanaan proses belajar mengajar di perguruan tinggi.
di-posting oleh imam pada 2022-09-07 09:15:11 • 606 klik
LAPORAN KEGIATAN MAGANG INDUSTRI DI PUSAT PENELITIAN LINGKUNGAN HIDUP (PPLH) UNIVERSITAS UDAYANA, DENPASAR
disusun oleh R. YUSUF SATRIYANA UTAMA
| Subyek: | PUSAT PENELITIAN LINGKUNGAN HIDUP (PPLH) UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR |
| Kata Kunci: | PUSAT PENELITIAN LINGKUNGAN HIDUP (PPLH) UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR |
[ Anotasi Abstrak ]
Ekosistem mangrove sebagaimana ekosistem hutan lainnya memiliki peran sebagai penyerap dan penyimpan karbon guna pengurangan kadar CO2 di udara. Penyerapan CO2 oleh vegetasi merupakan proses dalam pengendalian pencemaran udara dalam mengurangi kadar CO2 di udara. CO2 yang terserap melalui proses fotosintesis digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman mangrove. Proses fotosintesis mengabsorpsi gas CO2 dari atmosfer dan kemudian menyimpannya sebagai materi organik dalam bentuk biomassa tanaman. Banyaknya materi organik yang tersimpan dalam biomassa mangrove per unit luas dan per unit waktu merupakan pokok dari produktivitas hutan (Sutaryo, 2009). Taman Hutan Rakyat (Tahura) merupakan suatu kawasan yang terdapat hutan dengan vegetasi dominan mangrove. Hutan mangrove sendiri merupakan suatu area yang paling banyak menyimpan karbon di wilayah tropis. Tahura Ngurah Rai secara administrasi pemerintahan terletak di Kecamatan Kuta Kabupaten Badung dan Kecamatan Denpasar Selatan Kota Denpasar Propinsi Bali, sedangkan secara geografis TAHURA Ngurah Rai terletak pada 115° 9` sampai 115° 14` Bujur Timur dan 8° 42` sampai 8° 47` Lintang Selatan dengan luas 1.373,50 Ha (Pratama et.al, 2019). Sensor penginderaan jauh mempunyai kemampuan dalam menangkap gelombang yang dipantulkan oleh vegetasi dan non vegetasi serta mampu membedakan kualitas (jumlah klorofil) dan vegetasi melalui pemanfaatan nilai indeks vegetasi. Indeks vegetasi dirancang untuk memperjelas tampilan objek berklorofil (vegetasi) dibandingkan dengan objek-objek yang tidak berklorofil. Nilai indeks vegetasi dapat memberikan informasi tentang persentase penutupan vegetasi, biomassa tanaman, fAPAR, estimasi penyerapan karbon dan kapasitas fotosintesis (Ji dan Peters, 2007). Nilai indeks vegetasi merupakan suatu nilai yang dihasilkan dari persamaan matematika dari beberapa band penginderaan jauh (citra) yang menghasilkan satu nilai indeks (As-syakur dan Adnyana, 2009). Di antara banyak indikator, biomassa di atas permukaa tanah atau Above Ground Biomass (AGB) dianggap sebagai faktor ekologis yang penting dan indikator pengelolaan habitat dari berbagai kondisi dan proses lingkungan di ekosistem mangrove. AGB mengacu pada berat kering bahan organik yang telah diproduksi dan disimpan dalam tumbuh-tumbuhan hidup yang berada di atas tanah termasuk batang, cabang, kulit kayu, benih, dan dedaunan (The REDD Desk, 2019). Estimasi AGB telah menerima perhatian selama beberapa dekade terakhir karena meningkatnya kesadaran akan pemanasan global karena perubahan iklim; dan peran penting biomassa hutan dalam penyerapan dan pelepasan karbon gas rumah kaca akibat deforestasi (Kumar dan Mutanga, 2017). AGB dapat diperkirakan dengan pengambilan sampel destruktif dimana pohon benar-benar ditebang dan ditimbang; atau dengan metode non destruktif yang mencakup estimasi berdasarkan persamaan alometrik yang dikembangkan menggunakan pohon dimensi seperti diameter setinggi dada (dbh) dan tinggi pohon, atau melalui penginderaan jauh citra (Kumar dan Mutanga, 2017). Secara khusus, estimasi biomassa berbasis citra satelit model dapat diturunkan dari polarisasi backscatter radar, band multispektral, dan indeks vegetasi (Castillo et al., 2017). Gambar Synthetic Aperture Radar (SAR) telah menjadi pilihan populer untuk memperkirakan AGB karena kemampuan penetrasi awan dan kepekaannya terhadap struktur spasial dan tegakan hutan biomassa. Penggunaan nilai backscatter dari citra SAR dinilai paling banyak metode yang nyaman dan paling sederhana. Dalam pendekatan ini, model estimasi biomassa dikembangkan dengan mengkorelasikan nilai hamburan balik radar, (termasuk turunannya), pada polarisasi yang berbeda dengan AGB yang diukur di lapangan. Penggunaan citra Sentinel-1 untuk estimasi AGB baru-baru ini menarik perhatian para peneliti mencari alternatif untuk data SAR dengan panjang gelombang panjang (misalnya, produk ALOS PALSAR) yang: dianggap lebih cocok untuk aplikasi hutan karena lebih menembus daripada yang lebih pendek panjang gelombang SAR seperti Sentinel-1 (Argamosa et al., 2018). Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Castillo et.al, 2017, nilai hamburan balik yang dihasilkan oleh gambar SAR Sentinel-1 di Polarisasi VH (transmisi vertikal –penerimaan vertikal) memiliki korelasi yang lebih baik dengan biomassa (R=0,48-0,51) dibandingkan polarisasi VV. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan biomassa atas permukaan tanah hutan mangrove menggunakan informasi yang berasal dari data SAR Sentinel-1A kombinasi polarisasi (VV dan VH) akuisisi tanggal 27 Oktober 2021.
| Kontributor | : Dr. Zainul Hidayah, S.Pi., M.App.Sc |
| Tanggal tercipta | : 2022-01-01 |
| Jenis(Tipe) | : Text |
| Bahasa | : Indonesia |
| Pengenal(Identifier) | : TRUNOJOYO-KP-180341100121 |
| No Koleksi | : 180341100121 |
Download File Penyerta (khusus anggota terdaftar)
1. TRUNOJOYO-KP-25999-180341100121-LAPORAN PKL R. Yusuf Satriyana Utama.pdf - 2946 KB
Dokumen sejenis...Tidak ada !
Dokumen yang bertautan...
Kembali ke Daftar 