Anda belum Log-in!
Silahkan Log in
Selamat Datang di Portal Digital Content Publisher
Sabtu , 07 November 2026
Perpustakaan sebagai jantung pendidikan tinggi di Indonesia, harus mampu memberi kontribusi yang berarti bagi pelaksanaan proses belajar mengajar di perguruan tinggi.
di-posting oleh imam pada 2023-01-11 08:32:17 • 250 klik
IDENTIFIKASI JENIS MANGROVE BERDASARKAN TIPE SUBSTRAT DI KAWASAN BANYUURIP MANGROVE CENTER KABUPATEN GRESIK
disusun oleh Alisiyyah Rochimatul Fadlilah
| Subyek: | MANGROVE GRESIK |
| Kata Kunci: | MANGROVE GRESIK |
[ Anotasi Abstrak ]
Indonesia adalah negara kepulauan yang mempunyai kekayaan sumber daya hutan mangrove yang besar dan terluas di dunia. Dunia mempunyai hutan mangrove yang luasnya mencapai sekitar ± 16.530.000 hektar yang tersebar di seluruh daratan bumi. Luas hutan mangrove di Asia sekitar ± 7.441.000 hektar, di Afrika sekitar ± 3.258.000 hektar, dan di Amerika sekitar ± 5.831.000 hektar. Sedangkan hutan mangrove di Indonesia mempunyai luas sekitar ± 3.735.250 hektar, dengan demikian Indonesia mempunyai hutan mangrove yg luasnya hampir 50% dari luas hutan mangrove di Asia dan memiliki hutan mangrove yang luasnya hampir 25% dari luas hutan mangrove di dunia (Husuna et al. 2019). Hutan mangrove adalah salah satu ekosistem utama penyusun wilayah tropis selain dari pelagis estuaria, padang lamun, dan terumbu karang. Hutan mangrove dapat berfungsi sebagai sumber daya pembangunan pesisir, baik sebagai sumber daya ekonomi maupun sumber daya ekologi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir (Mas ud 2017). Luas potensial dari hutan mangrove yang ada di Indonesia adalah 8,6 juta ha yang terdiri dari 3,8 juta ha hutan mangrove terdapat di kawasan hutan dan 4,8 juta ha hutan mangrove terdapat di luar kawasan hutan. Berdasarkan kondisi lapang, diperkirakan bahwa 1,7 juta ha (44,73%) hutan mangrove yang berada di dalam kawasan hutan dan 4,2 juta ha (87,50%) hutan mangrove yang berada di luar kawasan hutan dalam keadaan rusak (Utomo et al. 2017). Menurut Saputra et al. (2016) menyatakan bahwa karakteristik habitat hutan mangrove umumnya tumbuh di daerah intertidal yang memiliki jenis tanah berlumpur, berlempung dan berpasir, daerahnya tergenang air secara berkala, baik setiap hari maupun yang hanya tergenang pada saat pasang purnama. Mangrove tumbuh optimal di daerah pesisir yang memiliki muara sungai besar dan delta yang aliran airnya banyak mengandung lumpur. Tipe substrat pada suatu pantai sangat mempengaruhi pertumbuhan mangrove. Tipe substrat jenis silt (debu) dan clay (liat) merupakan faktor penunjang proses regenerasi dimana partikel liat yang berupa lumpur akan menangkap buah tumbuhan mangrove yang jatuh ketika sudah masak. Proses regenerasi ini sangat mempengaruhi kerapatan mangrove di suatu area. Sebaliknya pada pantai dengan substrat berpasir atau pasir dengan campuran pecahan karang, kerapatan mangrovenya akan rendah dikarenakan jenis substrat tersebut tidak mampu menangkap atau menahan buah mangrove yang jatuh sehingga proses regenerasi tidak terjadi (Kordi 2012). Keadaan hutan mangrove kini relatif mengkhawatirkan lantaran ulah manusia yang memberikan tekanan terhadap habitat mangrove dengan cara mengubah kawasan hutan mangrove menjadi area pemukiman penduduk, perhotelan, tempat wisata, tambak, dan area pertanian. Selain itu, adanya aktivitas eksploitasi hutan mangrove secara legal maupun ilegal yang berlebihan karena banyaknya permintaan terhadap produksi kayu yang mengakibatkan turunnya populasi mangrove sampai lebih dari 50% dalam kurung waktu 30 tahun (Martuti 2013). Hal ini menyebabkan terjadinya kerusakan hutan mangrove yang sangat parah yang akan sangat berdampak buruk pada lingkungan pesisir sekitar. Maka dari itu pelestarian hutan mangrove sangatlah penting bagi lingkungan pesisir, dalam upaya pelestariannya salah satu kawasan yang melakukan pelestarian hutan mangrove adalah BMC (Banyu Urip Mangrove Center) yang berada di Kecamatan Ujung Pangkah, Kabupaten Gresik. Pelestarian ini dilakukan karena kesadaran masyarakat sekitar akan pentingnya ekosistem mangrove bagi lingkungan pesisir. Pelestarian ini dilakukan dengan menanam bibit bakau disetiap tahunnya yang sudah dilaksanakan selama 20 tahun terakhir. Hal ini, memberikan dampak yang sangat baik ekosistem mangrove maupun terhadap perekonomian masyarakat sekitar. Dalam mempelajari teori dari ekosistem mangrove diperlukan implementasi secara langsung dengan terjun langsung ke lapang untuk menunjang kelengkapan teori yang dipelajari, maka perlu diadakan kegiatan Praktik Kerja Lapang (PKL). Pada kegiatan PKL ini saya melakukan penelitian zonasi keanekaragaman mangrove berdasarkan tipe substrat, hal ini dilakukan utnuk mengetahui mangrove apa saja yang ada di daerah tersebut. Kegiatan ini juga dilakukan untuk memperoleh ilmu baru dan penguasaan keahlian dengan tingkat tertentu agar dapat beradaptasi saat menghadapi dunia kerja.
| Kontributor | : Ashari Wicaksono, S.Kel., M.Si., M.Sc. |
| Tanggal tercipta | : 2021-12-03 |
| Jenis(Tipe) | : Text |
| Bahasa | : Indonesia |
| Pengenal(Identifier) | : TRUNOJOYO-KP-180341100044 |
| No Koleksi | : 180341100044 |
Download File Penyerta (khusus anggota terdaftar)
1. TRUNOJOYO-KP-26090-180341100044-Alisiyyah RF_180341100044_Laporan PKL.pdf - 655 KB
Dokumen sejenis...Tidak ada !
Dokumen yang bertautan...- PERBANDINGAN INDEKS NILAI PENTING (INP) EKOSISTEM MANGROVE DI PERAIRAN KWANYAR DAN AROSBAYA KABUPATEN BANGKALAN
- STUDI DIAMETER BATANG DAN PERAKARAN MANGROVE UNTUK PENENTUAN JARAK TANAM PADA KAWASAN KONSERVASI
- INDEKS KEANEKARAGAMAN JENIS MANGROVE DI DESA JUNGANYAR, DESA DAKIRING, DAN DESA BULUH KECAMATAN SOCAH KABUPATEN BANGKALAN
- Penilaian Kecanggihan Teknologi Menggunakan Metode Teknometrik Sebagai Strategi Pengembangan Teknologi Di PT. Barata Indonesia (Persero)
- ANALISIS KELAYAKAN EKOSISTEM MANGROVE SEBAGAI KAWASAN PERENCANAAN EKOWISATA DI DESA TENGKET KECAMATAN AROSBAYA
Kembali ke Daftar 