Anda belum Log-in!
Silahkan Log in

Selamat Datang di Portal Digital Content Publisher
Sabtu , 07 November 2026

Perpustakaan sebagai jantung pendidikan tinggi di Indonesia, harus mampu memberi kontribusi yang berarti bagi pelaksanaan proses belajar mengajar di perguruan tinggi.

TRUNOJOYO » KP&PKL » Manajemen Sumberdaya Perairan
di-posting oleh imam pada 2023-01-16 09:52:08  •  308 klik

UPAYA PENGENDALIAN PENCEMARAN SUNGAI AKIBAT SAMPAH PLASTIK BERBASIS EDUKASI TERHADAP MASYARAKAT DI ECOTON
disusun oleh RADITA PUTRI PUSPITASARI

Subyek: SAMPAH PLASTIK
Kata Kunci: SAMPAH PLASTIK

[ Anotasi Abstrak ]

Sungai adalah tempat berkumpulnya air yang terbuka yang mempunyai peranan penting bagi masyarakat. Peranan lainnya pada sungai yaitu sebagai tempat berlangsungnya ekosistem. Keberadaan manusia yang semakin bertambah jumlahnya menyebabkan sungai mengalami penurunan kualitas. Sungai dapat melakukan pemulihan terhadap dirinya sendiri dari bahan pencemaran akan tetapi jika jumlah dari bahan pencemarnya tidak berlebihan, tetapi karena aktivitas manusia seperti di bidang industri maupun rumah tangga yang semakin lama semakin meningkat maka menyebabkan sungai tidak bisa melakukan pemulihan terhadap dirinya sendiri (Hasby et al, 2014). Sampah yang dihasilkan manusia berupa sampah orgnanik dan non organik. Sampah non organik yang dihasilkan berjumlah sekitar 30-40%, dari jumlah sampah non organik tersebut sebanyak 14% adalah sampah plastik (Purwaningrum, 2016). Data bank dunia di Indonesia menyebutkan bahwa sampah padat yang dihasilkan secara nasional jumlahnya 151,921 ton per hari, berarti sampah padat yang dibuang setiap penduduk di Indonesia rata-rata 0,85 kg per hari. Indonesia juga menjadi penyumbang sampah plastik terbesar kedua di perairan setelah Cina (Amalia dan Putri, 2021). Data sungai internasional menyebutkan bahwa terdapat empat sungai yang tercemar di Indonesia yang masuk kategori 20 sungai tercemar di dunia salah satunya adalah Sungai Brantas. Kandungan sampah yang terdapat di Sungai Brantas adalah popok diaper 42%, plastik 37% dan sampah rumah tangga sebanyak 30% yang meliputi sampah organik, air cuci piring, dan air bekas cuci baju (Wulansari dan Suwanda, 2019). Sampah merupakan ancaman yang besar bagi kehidupan di berbagai lingkungan. Terutama sampah plastik yang dikhawatirkan sudah mengancam ekosistem perairan yang ada di dunia pada tahap kritis, karena hampir di seluruh perairan yang ada di dunia sudah ditemukan sampah plastik di dalamnya. Seiring bertambahnya waktu jumlah penduduk pada suatu wilayah akan mengalami peningkatan. Jumlah penduduk yang semakin meningkat akan mengakibatkan peningkatan pula pada aktivitas dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang biasanya berasal dari pertanian, industri, dan kegiatan rumah tangga yang akan menimbulkan limbah yang dapat menjadi penyebab pencemaran dan penurunan kualitas air (Setyaningrum dan Agustina, 2019). Peningkatan adanya limbah terutama sampah plastik merupakan salah satu akibat dari aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhannya (Wahdani et al, 2020). Sifat plastik yang ringan, tahan lama, kuat dan juga tergolong murah menjadikan penggunaan plastik yang semakin banyak sehingga meningkatkan kelimpahan sampah plastik (Yunanto et Al, 2021). Sampah plastik merupakan sampah yang proses degradasinya membutuhkan waktu yang lama dan dapat berpotensi menimbulkan dampak yang besar (Ayuningtyas et al, 2019). Proses degradasi sampah plastik dapat merubah warna, bentuk, dan ukurannya. Perubahan ukuran sampah plastik dapat dikategorikan menjadi makroplastik, mesoplastik, dan mikroplastik. Dari semua ukuran tersebut juga berbahaya bagi lingkungan maupun biota di dalamnya (Yona et al, 2020). Sampah plastik harus ditanggulangi atau dikurangi penggunaannya karena dampak yang ditimbulkan juga besar. Pengelolaan dan pengurangan sampah plastik merupakan tanggung jawab sesama baik pemerintah maupun masyarakat. Pemerintah dalam menangani masalah sampah berperan untuk membuat peraturan atau kebijakan. Pengubahan pola pikir masyarakat dan peningkatkan kesadaran masyarakat akan lingkungan yang bersih juga berperan untuk penanganan masalah sampah. Penanganan masalah sampah dari tingkat yang paling rendah bisa dari rumah tangga dengan cara memilah sampahnya. Semakin tinggi kesadaran masyarakat dalam pemilahan sampah maka tumpukan sampah yang terdapat di tempat pembuangan akhir (TPA) juga berkurang, karena pemilahan sampah berguna untuk pengelolaan sampah selanjutnya (Armadi, 2021). Peningkatan kesadaran masyarakat tentang masalah sampah dapat dilakukan dengan kegiatan edukasi. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Septiani et al (2019), menyampaikan bahwa kelimpahan sampah plastik yang ada saat ini merupakan akibat dari kurangnya pengetahuan tentang dampak plastik kepada masyarakat sehingga kurangnya kesadaran dari masyarakat akan pengelolaan dan pengurangan sampah plastik, sehingga edukasi sampah plastik kepada masyarakat perlu dilakukan agar pengelolaan sampah plastik dapat ditangani dengan baik dari lingkup yang paling rendah yaitu rumah tangga. Oleh karena itu, pada penelitian ini pentingnya melakukan sosialisasi dalam bentuk edukasi terhadap masyarakat agar lebih bijak dalam menangani masalah sampah misalnya dengan meminimalisir pembuangan sampah di sungai dan melakukan pemilahan sampah. Dalam menemukan upaya mengatasi pencemaran sungai dari sampah plastik mahasiswa mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh ECOTON dalam melakukan upaya mengatasi msalah pencemaran sampah plastik.

Kontributor: Prof. Dr. Ir. Muhammad. Zainuri, M.Sc
Tanggal tercipta: 2022-07-13
Jenis(Tipe): Text
Bahasa: Indonesia
Pengenal(Identifier): TRUNOJOYO-KP-190351100063
No Koleksi: 190351100063


 Download File Penyerta (khusus anggota terdaftar)

 File PDF  1. TRUNOJOYO-KP-26147-190351100063-DOC-20220927-WA0000.pdf - 3677 KB


 Dokumen sejenis...



 Dokumen yang bertautan...





 Kembali ke Daftar