Anda belum Log-in!
Silahkan Log in
Selamat Datang di Portal Digital Content Publisher
Sabtu , 07 November 2026
Perpustakaan sebagai jantung pendidikan tinggi di Indonesia, harus mampu memberi kontribusi yang berarti bagi pelaksanaan proses belajar mengajar di perguruan tinggi.
di-posting oleh imam pada 2023-05-17 07:54:10 • 1254 klik
TEKNIK KULTUR ROTIFERA (Brachionus plicatilis) SKALA MASSAL SEBAGAI PAKAN ALAMI DI BALAI BESAR PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU JEPARA, JAWA TENGAH
disusun oleh Putri Fajar Dwi Yanti
| Subyek: | TEKNIK KULTUR ROTIFERA |
| Kata Kunci: | TEKNIK KULTUR ROTIFERA |
[ Anotasi Abstrak ]
Indonesia memiliki potensi yang sangat besar terhadap budidaya perikanan. Kegiatan budidaya perikanan dapat dijadikan sebagai pengembangan mata pencaharian nelayan sekaligus peningkatan ketahanan pangan. Organisme budidaya memerlukan pakan yang memiliki nutrisi tinggi untuk menunjang pertumbuhannya. Pakan dengan nutrisi tinggi dapat diperoleh dari pakan yang sengaja diberikan ke organisme budidaya atau berasal dari pakan alami (Pratiwi et al., 2011). Budidaya komersial secara semi intensif sepenuhnya mengandalkan suplai pakan dari pembudidaya. Suplai pakan tersebut dapat berupa pakan alami maupun pakan buatan. Pakan buatan yang diberikan dapat berupa pelet yang terbuat dari tepung ikan. Lestari et al. (2014) menyatakan bahwa pelet adalah jenis pakan komersial yang umumnya digunakan untuk menunjang kegiatan budidaya. Pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan optimal apabila diberikan makanan tambahan berupa pelet (Yanuar, 2017).Pelet memiliki kandungan protein tinggi yang dapat memenuhi kebutuhan kelangsungan hidup ikan. Selain itu, tingkat fermentasi yang dilakukan saat pembuatan pakan pelet juga mempengaruhi laju pertumbuhan ikan. Pakan pelet yang mengalami fermentasi dengan baik akan lebih mudah diserap oleh ikan sehingga laju pertumbuhan ikan semakin cepat (Salamah dan Zulpikar, 2020). Pakan buatan berupa pelet juga memiliki beberapa kelemahan yang perlu dipertimbangkan dalam penggunaannya. Pelet dari bahan baku yang memiliki kadar serat tinggi tidak dapat dicerna oleh ikan. Ilyas et al. (2014) menyatakan bahwa tingginya kadar serat pada pelet akan mempersingkat waktu tubuh dalam penyerapan nutrisi dan pencernaan pada ikan. Niode et al. (2017) menyatakan bahwa penggunaan formula pakan pelet yang kurang tepat akan menjadi limbah dan mengotori media budidaya. Pakan pelet memiliki harga yang relatif mahal dan tidak sebanding dengan hasil panen yang didapatkan (Uslianti et al., 2014). Pakan alami merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan sebagai pemasok pakan pada budidaya ikan selain pakan buatan. Pakan alami pada media budidaya dapat berupa plankton, baik fitoplankton atau zooplankton. Krisiyanto et al. (2021) menyatakan bahwa fitoplankton di perairan berperan sebagai produsen primer pada trofik rantai makanan di perairan, sedangkan zooplankton berperan sebagai konsumen tingkat satu. Anggraeni dan Abdulgani (2013) menyatakan bahwa pakan alami dapat dijadikan sebagai pakan pengganti dengan harga yang lebih ekonomis dibandingkan dengan pakan buatan. Pakan alami jenis plankton memiliki kelengkapan nutrisi yang tinggi sehingga mampu menjaga pertumbuhan larva budidaya organisme agar berlangsung normal (Arief et al., 2011). Pakan alami untuk budidaya ikan dapat menggunakan beberapa jenis plankton. Pratiwi et al. (2011) menyatakan bahwa pakan alami yang digunakan pada kagiatan budidaya ikan nilem yaitu dari kelas Chlorophyceae dan zooplankton jenis crustacea, protozoa, dan rotifera. Difinubun et al (2020) menyatakan bahwa jenis zooplankton yang sering digunakan sebagai pakan alami untuk larva ikan laut dan udang adalah rotifera. Rotifera (Brachionus plicatilis) memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan jenis zooplankton lainnya, diantaranya rotifera memiliki pergerakan yang sangat lambat dan berukuran mikro sehingga mudah di mangsa oleh larva ikan, perkembangbiakan dan pertumbuhan rotifera relatif cepat dan mudah di kultur secara massal, memiliki gizi yang cukup tinggi, dan tidak menghasilkan racun yang dapat membahayakan larva ikan (Nurlinda et al., 2020). Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara merupakan salah satu balai pengembangan budidaya organisme air payau. BBPBAP Jepara memiliki laboratorium pakan alami untuk menunjang kebutuhan pakan larva organisme budidaya. Laboratorium pakan alami melakukan kultur dalam tiga skala, yaitu skala laboratorium, skala intermediet, dan skala massal. Kultur skala laboratorium dan intermediet dilakukan di laboratorium pakan alami, sedangkan kultur skala massal dilakukan di kolam kultur beton di luar laboratorium.
| Kontributor | : Abdus Salam Junaedi S.Si., M.Si |
| Tanggal tercipta | : 2023-03-28 |
| Jenis(Tipe) | : Text |
| Bahasa | : Indonesia |
| Pengenal(Identifier) | : TRUNOJOYO-KP-200351100054 |
| No Koleksi | : 200351100054 |
Download File Penyerta (khusus anggota terdaftar)
1. TRUNOJOYO-KP-27260-200351100054-PUTRI FAJAR DWI YANTI_200351100054_MSP.pdf - 2433 KB
Dokumen sejenis...Tidak ada !
Dokumen yang bertautan...
Kembali ke Daftar 