Anda belum Log-in!
Silahkan Log in

Selamat Datang di Portal Digital Content Publisher
Jumat , 06 November 2026

Perpustakaan sebagai jantung pendidikan tinggi di Indonesia, harus mampu memberi kontribusi yang berarti bagi pelaksanaan proses belajar mengajar di perguruan tinggi.

TRUNOJOYO » KP&PKL » Manajemen Sumberdaya Perairan
di-posting oleh imam pada 2023-06-05 08:08:43  •  1763 klik

PENGUKURAN KESEGARAN IKAN KURISI (Nemipterus japonicus) (Organoleptik dan suhu) PADA GT KAPAL DAN PENANGANAN RANTAI DINGIN DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA, BRONDONG
disusun oleh Laili Rahma Ardilla

Subyek: IKAN KURISI
Kata Kunci: IKAN KURISI

[ Anotasi Abstrak ]

Ikan kurisi (Nemipterus japonicus) termasuk jenis ikan demersal yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan dapat ditemukan di perairan Utara Jawa, terutama daerah Masalembu. Ikan kurisi memiliki bentuk tubuh pipih memanjang dengan warna merah muda. Tubuh ikan kurisi dilengkapi garis berwarna kuning keemasan memanjang dari belakang kepala hingga sirip ekor. Habitat ikan kurisi di perairan substrat berlumpur dan berpasir dengan kedalaman 5-80 m. Ikan kurisi termasuk ikan dengan daya tahan rendah terhadap penangkapan karena pergerakan cukup lambat dan tidak bisa melakukan ruaya lebih jauh dari habitat aslinya (Solichin et al., 2022). Ikan kurisi tergolong menjadi ikan karnivora karena makanannya dapat berupa udang, kepiting, ikan, gastropoda, cephalopoda, bintang laut dan polychaeta (Lina, 2015). Ikan termasuk komoditi pangan yang dapat mengalami pembusukan dengan cepat tergantung suhu maupun lama penangkapan sehingga diperlukan penanganan agar ikan tidak segera mati. Suhu pada ikan tidak bisa berada pada suhu lingkungan tinggi karena menyebabkan kebusukan ikan menjadi cepat. Sidabutar et al., (2019) menyatakan bahwa kondisi suhu yang baik berada pada kisaran suhu lingkungan rendah 20-30oC karena berkurangnya intensitas cahaya matahari yang masuk ke dalam perairan dan dipercaya dapat memperpanjang tingkat kesegaran ikan sehingga proses pasca panen ikan berjalan dengan lancar. Ikan mengalami pembusukan dengan sangat cepat juga karena waktu, dimana selama kegiatan penangkapan yang dilakukan terlalu lama sehingga ikan tetap berada di atas kapal sampai beberapa hari hingga bulan tergantung trip kapal (Syafitri et al., 2016). Pembusukan ikan juga terjadi pada jenis ikan demersal seperti ikan kurisi yang diakibatkan karena teknik penangkapan kasar sehingga kondisi ikan menjadi luka dan dapat menurunkan mutu ikan tersebut. Tanda kebusukan pada ikan, baik ikan kurisi maupun ikan demersal lainnya dapat dilihat pada kondisi fisik seperti insang berwarna keabuan, berlendir serta menimbulkan bau yang kurang sedap dan kondisi sisik akan tertutup oleh lendir jernih (Suprayitno, 2020). Ikan termasuk produk makanan yang cepat mengalami penurunan kesegaran atau pembusukan. Tingkat kesegaran ikan akan menurun drastis seiring dengan waktu penanganan jika tidak dilakukan secara benar dan dapat terjadi mulai dari penangkapan hingga ke tangan konsumen. Penurunan mutu ikan akan mengalami perbedaan setiap jenis ikan tergantung pada pola dan kecepatan penurunan. Ikan cepat mengalami pembusukan karena mengandung kadar air tinggi yaitu 80 pesen. Pembusukan ikan juga mengalami perubahan pH akibat adanya proses autolysis dan penyerangan bakteri. Ikan mudah diserang oleh bakteri karena struktur daging ikan tidak begitu sempurna susunannya, dibandingkan jenis daging lainnya dan kondisi ini memudahkan terjadinya penguraian bakteri (Metusalach et al., 2014). Pelabuhan perikanan merupakan tempat prasarana perikanan dan berfungsi sebagai pusat pengembangan masyarakat nelayan serta pusat kegiatan ekonomi perikanan. Pelabuhan perikanan bisa dikelola dengan baik agar dapat menunjang kelancaran kegiatan operasi perikanan. Pelabuhan perikanan juga membantu untuk mengamati kesegaran ikan dengan menggunakan metode organoleptik. Pelabuhan perikanan bisa mencakup 4 tipe yakni pelabuhan perikanan tipe A (samudera), pelabuhan perikanan tipe B (nusantara), pelabuhan perikanan tipe C (pantai) dan pelabuhan perikanan tipe D (pangkalan pendaratan ikan). PPN di Indonesia cukup banyak jenisnya, salah satunya PPN Brondong. PPN Brondong memiliki peran yang cukup strategis dalam bidang pengembangan perikanan maupun kelautan yakni sebagai pusat kegiatan perikanan laut terutama wilayah di Kabupaten Lamongan. Kehadiran PPN Brondong menjadi titik temu antara kegiatan ekonomi di laut dengan kegiatan ekonomi di darat dan membantu dalam pengamatan organoleptik oleh panelis secara langsung di TPI (Suherman dan Dault, 2009). PPN Brondong menjadi tempat PKL yang saya pilih, karena ingin mengetahui hasil nilai organoleptik ikan tangkapan utama yakni ikan kurisi dan ingin mengetahui penyebab terjadinya kemunduran mutu pada ikan secara detail. Wahyu et al., (2019) menyatakan bahwa uji organoleptik dilakukan pada ikan cakalang di PPP Pondokdadap dengan 3 tempat pengambilan sampel berbeda yakni tempat pelelangan ikan (TPI), gudang supplier dan kios nelayan. Uji organoleptik pada ikan cakalang mengacu pada SNI 01-2346-2006. Ikan cakalang mengalami perubahan kondisi setelah dari tempat pelelangan artinya ikan yang ada di gudang supplier dan kios nelayan sedikit mengalami penurunan mutu. Hamzah et al., (2016) menyatakan bahwa uji organoleptik ikan tongkol dilakukan di PPN Karangantu. Penilaian organoleptik ikan tongkol melibatkan 6 panelis standar dan mengacu pada lembar score sheet SNI 01-2346-2006. Pengujian organoleptik ikan kurisi di PPN Brondong belum dilakukan oleh peneliti dan telah saya lakukan dengan melibatkan 6 panelis terlatih yang mengacu pada lembar score sheet SNI 2729:2013 menggunakan perbedaan GT kapal 27-30.

Kontributor: Dr. Hafiludin, S.Pi., M.Si.
Tanggal tercipta: 2023-04-13
Jenis(Tipe): Text
Bahasa: Indonesia
Pengenal(Identifier): TRUNOJOYO-KP-200351100027
No Koleksi: 200351100027


 Download File Penyerta (khusus anggota terdaftar)

 File PDF  1. TRUNOJOYO-KP-27321-200351100027-Laili Rahma Ardilla_200351100027_MSP.pdf - 2881 KB


 Dokumen sejenis...



 Dokumen yang bertautan...





 Kembali ke Daftar