Anda belum Log-in!
Silahkan Log in

Selamat Datang di Portal Digital Content Publisher
Sabtu , 07 November 2026

Perpustakaan sebagai jantung pendidikan tinggi di Indonesia, harus mampu memberi kontribusi yang berarti bagi pelaksanaan proses belajar mengajar di perguruan tinggi.

TRUNOJOYO » KP&PKL » Agroekoteknologi
di-posting oleh imam pada 2023-06-09 13:53:33  •  463 klik

KAJIAN PENYAKIT BUSUK BUAH (Phytophthora palmivora) PADA TANAMAN KAKAO (Theobroma cacao L.) DI PTPN XII KEBUN KENDENGLEMBU, BANYUWANGI
disusun oleh RIDHA NUR AZIZAH

Subyek: PENYAKIT BUSUK BUAH
KAKAO
Kata Kunci: PENYAKIT BUSUK BUAH
KAKAO

[ Anotasi Abstrak ]

Instansi yang mempunyai kapasitas untuk digunakan sebagai tempat kegiatan praktik kerja lapang oleh mahasiswa adalah PTP Nusantara XII Kebun Kendenglembu Banyuwangi. PT Perkebunan Nusantara XII atau biasa disebut dengan PTPN XII merupakan Perseroan Terbatas dengan komposisi kepemilikan sahamnya meliputi Negara 10% dan PT Perkebunan Nusantara III (Persero) 90%. PTPN XII ini adalah sebuah perusahaan yang bergerak sdalam bidang agro bisnis dan agro industri. PTPN XII mengelola area perkebunan seluas 80.000 ha dan tersebar diseluruh wilayah jawa timur yang terbagi dalam tiga wilayah dan 34 kebun. Komoditi yang dihasilkan dari ketiga wilayah tersebut adalah karet, kopi robusta, kopi arabika, kakao bulk, kakao edel, teh, dan aneka kayu. Kakao merupakan salah satu tanaman perkebunan yang menjadi komoditas unggulan di Provinsi Sulawesi Tengah yang kemudian menyebar dipulau jawa salah satunya di Kabupaten Banyuwangi. Salah satu destinasi wisata edukasi yang didukung oleh pemerintah Banyuwangi yaitu Doesoen Kakao. Objek wisata tersebut terletak di wilayah PTPN XII tepatnya di Kendenglembu, Kecamatan Glenmonre, Kabupaten Banyuwangi. Pengelolaan destinasi wisata Doesoen Kakao tersebut dalam naungan PTPN XII dibawah Afdeling Pager Gunung. Kakao juga merupakan komoditas tanaman perkebunan yang memiliki produktivitas terbesar ketiga setelah kelapa sawit dan karet. Pengembangan budidaya kakao diperkebunan memiliki peran penting dalam meningkatkan perekonomian petani dan sebagai salah satu sumber devisa. Menurut Direktorat Jendral Perkebunan, (2015) pada tahun 2015 luas areal kakao telah mencapai 1.724.092 ha dengan jumlah produksi 661.243 ton. Menurut Mithofer et al., (2018), kebijakan dan program pembangunan di negara-negara produsen memfokuskan pada perluasan lahan budidaya kakao dan peningkatan produktivitas, terlepas dari kebutuhan petani kecil akan sistem pertanian yang layak secara ekonomi dan struktur pasar yang ada sehingga menghasilkan sedikit daya tawar bagi petani. Kakao adalah salah satu tanaman perkebunan yang dibudidayakan dan dikembangkan oleh PTPN XII Kebun Kendenglembu Banyuwangi yang berada di Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Salah satu kendala yang terjadi pada budidaya kakao di Kebun Kendenglembu yaitu penyakit busuk buah yang disebabkan oleh cendawan Phytophthora palmivora. Menurut Rosmana et al., (2010a) penyakit busuk buah yang disebabkan oleh cendawan Phytophthora palmivora ini menyebabkan kehilangan hasil mencapai 90% terutama pada saat musim hujan atau kemarau pada lahan yang terdapat populasi serangga semut banyak sehingga serangan penyakit tersebut menjadi penghambat budidaya kakao. Penyebaran penyakit tersebut yaitu menyebar dari buah yang terinfeksi ke buah yang lainnya melalui beberapa media seperti sentuhan langsung antara buah satu dengan lainnya, percikan air, terbawa oleh hewan (semut atau tupai), dan tiupan angin. Penyebaran penyakit busuk buah akan cepat menyebar jika kondisi kebun terlalu lembab karena pertumbuhan jamur Phytophthora palmivora dapat tumbuh subur pada daerah yang lembab. Beberapa jenis penyakit yang dapat menyerang tanaman kakao, namun yang sangat penting dan perlu diperhatikan untuk dikendalikan yaitu penyakit busuk buah atau black pot rot. Menurut Ferayanti et al., (2016), penyakit busuk buah merupakan penyakit yang terpenting dalam budidaya kakao di Indonesia. Potensi serangan penyakit tersebut disetiap kebun sangat berbeda, hal tersebut disebabkan oleh kondisi iklim dan lahan kakao yang berbeda misalnya kelembaban, suhu, curah hujan, dan intensitas cahaya matahari. Penyakit busuk buah kakao disebabkan oleh jamur Phytophthora palmivora (Fauzan et al., 2013). Penyakit busuk buah pada kakao dapat diketahui dengan melihat gejala pada buah kakao yaitu terdapat bercak-bercak hitam pada bagian kulit luar buah. Bercak-bercak hitam tersebut akan meluas hingga menutupi semua bagian kulit buah jika tidak segera dilakukan pengendalian penyakit tersebut. Gejala busuk buah tersebut timbul pada buah diberbagai tingkatan umur buah yaitu mulai dari buah masih muda atau kecil hingga buah yang hampir masak. Berdasarkan latar belakang diatas adanya serangan penyakit busuk buah tersebut diperlukan adanya pengendalian busuk buah dengan tepat agar jumlah produksi buah kakao dapat lebih maksimal dan dapat menekan kerugian hasil panen kakao oleh adanya penyakit busuk buah tersebut.

Kontributor: Dr. Agr. Eko Setiawan, SP., M.Si
Tanggal tercipta: 2023-05-09
Jenis(Tipe): Text
Bahasa: Indonesia
Pengenal(Identifier): TRUNOJOYO-KP-200311100031
No Koleksi: 200311100031


 Download File Penyerta (khusus anggota terdaftar)

 File PDF  1. TRUNOJOYO-KP-27348-200311100031-RIDHA NUR AZIZAH_200311100031_Laporan PKL.pdf - 2123 KB


 Dokumen sejenis...

     Tidak ada !

 Dokumen yang bertautan...





 Kembali ke Daftar