Anda belum Log-in!
Silahkan Log in

Selamat Datang di Portal Digital Content Publisher
Sabtu , 07 November 2026

Perpustakaan sebagai jantung pendidikan tinggi di Indonesia, harus mampu memberi kontribusi yang berarti bagi pelaksanaan proses belajar mengajar di perguruan tinggi.

TRUNOJOYO » KP&PKL » Agroekoteknologi
di-posting oleh imam pada 2023-06-19 09:09:09  •  298 klik

TEKNIK PERBANYAKAN BIBIT KELOR (Moringa oleifera Lamk) DI PT. MORINGA ORGANIK INDONESIA
disusun oleh AMALIA RISKA NUR DIANA SARI

Subyek: KELOR
Kata Kunci: KELOR

[ Anotasi Abstrak ]

Tanaman Kelor (Moringa oleifera Lamk.) merupakan salah satu jenis tanaman yang mudah tumbuh di daerah tropis seperti Indonesia. Tanaman kelor dapat tumbuh subur pada dataran rendah sampai ketinggian 700 m di atas permukaan laut. Kelor dapat juga tumbuh pada daerah subtropis pada semua jenis tanah dan tahan terhadap musim kering dengan toleransi terhadap kekeringan sampai 6 bulan (Sawaluddin, 2018). Tanaman kelor menurut sejarahnya berasal dari kawasan Himalaya dan India, kemudian menyebar ke kawasan disekitarnya hingga ke Benua Afrika dan Asia Barat. Di Indonesia tanaman kelor dikenal dengan berbagai nama daerah, seperti murong (Aceh), munggai (Sumatera Barat), kilor (Lampung), kelor (Jawa Barat dan Jawa Tengah), marongghi (Madura), kiloro (Bugis), parongge (Bima), kawano (Sumba), marungga/hau fo (Timor), moltong (Flores)dan kelo (Ternate) (Kurniawan, 2019). Tanaman kelor mengandung banyak senyawa yang dapat dimanfaatkan untuk obat maupun digunakan untuk merangsang pertumbuhan tanaman. Tanaman kelor mengandung hormon tumbuh yaitu sitokinin dan zeatin. Sitokinin merupakan hormon tanaman yang menginduksi pembelahan sel, pertumbuhan, dan mendorong pertumbuhan sel baru serta menunda penuaan sel. Zeatin merupakan anti oksidan kuat dengan sifat anti penuaan. Tanaman kelor dapat dimanfaatkan secara keseluruhan dari bagian akar, batang, daun, bunga, buah, dan bijinya. Kelor banyak dimanfaatkan untuk bidang kesehatan, antara lain untuk mengatasi masalah kekurangan gizi, kelaparan, serta menyembuhkan dan mencegah berbagai penyakit. Saat ini, tanaman kelor dilaporkan meningkatkan berbagai fungsi biologis termasuk fungsi anti inflamasi, antikanker, hepatoprotektif, dan neuroprotektif (Budiman, 2021). Kegiatan budidaya tanaman sangat memerlukan bibit tanaman yang unggul agar mendapatkan hasil produk yang berkualitas. Membudidayakan tanaman kelor perlu teknik perbanyakan yang tepat supaya mendapatkan hasil yang optimal sehingga dapat menghasilkan tanaman yang berkualitas baik. Terdapat dua teknik perbanyakan yaitu secara generatif (biji) dan vegetatif (stek). Teknik perbanyakan yang dilakukan di PT. Moringa Organik Indonesia adalah teknik perbanyakan secara generatif. Perbanyakan secara generatif merupakan salah satu perbanyakan mengunakan biji atau benih. Kelebihan perbanyakan dari biji yaitu biji tumbuh lebih cepat dan bibit tanaman kelor yang ditanam dari biji memiliki perakaran yang lebih dalam, dan membentuk akar tunggang yang lebar, didukung dengan pendapat Wasonowati (2018) pertumbuhan awal bibit kelor pada perbanyakan tanaman dari biji tumbuh lebih cepat daripada stek batang, bibit yang diperbanyak dari biji lebih cepat dan memiliki tingkat pertumbuhan awal yang lebih cepat dalam hal tinggi tanaman, jumlah daun dan diameter batang dari pada bibit dari stek batang. Namun disamping itu perbanyakan secara generatif memiliki kekurangan yaitu, mengalami perubahan sifat dari induknya dan memerlukan waktu yang cukup lama untuk berbuah.

Kontributor: Dr. Catur Wasonowati, SP., M.Si.
Tanggal tercipta: 2023-05-02
Jenis(Tipe): Text
Bahasa: Indonesia
Pengenal(Identifier): TRUNOJOYO-KP-200311100073
No Koleksi: 200311100073


 Download File Penyerta (khusus anggota terdaftar)

 File PDF  1. TRUNOJOYO-KP-27393-200311100073-AMALIA RISKA NUR DIANA SARI_200311100073_LAPORAN PKL.pdf - 3106 KB


 Dokumen sejenis...



 Dokumen yang bertautan...





 Kembali ke Daftar