Anda belum Log-in!
Silahkan Log in

Selamat Datang di Portal Digital Content Publisher
Sabtu , 07 November 2026

Perpustakaan sebagai jantung pendidikan tinggi di Indonesia, harus mampu memberi kontribusi yang berarti bagi pelaksanaan proses belajar mengajar di perguruan tinggi.

TRUNOJOYO » KP&PKL » Agribisnis
di-posting oleh imam pada 2023-06-23 10:06:30  •  311 klik

MANAJEMEN AGRIBISNIS SAPI POTONG DI BUMI PETERNAKAN WAHYU UTAMA KABUPATEN TUBAN JAWA TIMUR
disusun oleh Ririn Kusmawati; Indra Bachtiar; Arsadi Nur Malik

Subyek: SAPI POTONG
Kata Kunci: SAPI POTONG

[ Anotasi Abstrak ]

Agribisnis peternakan atau yang dikenal dengan nama lain Cattle Raising, umumnya diketahui mulai berkembang di Indonesia pada tahun 1980-an (Rahim & Hastuti, 2005). Agribisnis peternakan adalah sistem dari tata kelola ternak secara terpadu serta menyeluruh yang mencakup kegiatan agribisnis berupa penyaluran (distribusi) sarana produksi ternak, kegiatan usaha produksi (budidaya), penyimpanan serta pengolahan (agroindustri), juga pemasaran produk peternakan yang diketahui didukung oleh lembaga penunjang antara lain dari pihak pemerintahan maupun perbankan. Sektor peternakan merupakan salah satu sektor yang harus dikembangkan di Indonesia. Oleh karenanya, keberlanjutan sektor tersebut menjadi tonggak dalam pengelolaan sumber daya. Keberlanjutan usaha diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk hasil peternakan di dalam maupun luar negeri sehingga memberikan dampak pada kesejahteraan masyarakat. Mata rantai sistem manajemen agribisnis peternakan, meliputi subsistem input (pengadaan sapronak), subsistem proses produksi (budidaya), subsistem output (Pengolahan/agroindustri dan pemasaran), dan subsistem jasa penunjang (supporting institution), serta manajemen. Komoditas yang dapat dikembangkan dalam agribisnis peternakan sangat beragam seperti agribisnis peternakan sapi potong. Sapi potong memiliki prospek cerah bagi peternakan Indonesia, terlihat dari komsumsi daging pada tahun 2018 sebesar 662.540 mengalami peningkatan sebesar 686.270 ton di tahun berikutnya (Haloho, 2020). Hal ini menunjukan bahwa agribisnis sapi potong mempunyai peranan penting untuk memenuhi kebutuhan komsumsi utamanya kandungan protein masyarakat indonesia. Kebutuhan daging sapi dari tahun ke tahun terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk serta kesadaran masyarakat akan kebutuhan Protein dalam tubuh. Peningkatan permintaan konsumsi daging sapi yang meningkat sebagai akibat dari pertumbuhan ekonomi dan penduduk yang menjadikan komsumsi daging sapi bukan hanya sekedar pemenuhan kebutuhan protein hewani saja. Dewasa ini komsumsi daging sapi menjadi gaya hidup masyarakat dengan adanya berbagai macam kuliner dari beberapa negara seperti kebab, daging wagyu, dan steak. Permintaan daging sapi untuk komsumsi yang terus meningkat tidak dimbangi dengan peningkatan produksi daging sapi. Hal ini sesuai dengan Data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2019, menunjukkan bahwa rata rata konsumsi rumah tangga perkapita perminggu pada 2020 tidak berubah dibandingkan 2019, sedangkan produksi daging sapi pada 2020 turun 10,18% dibandingkan 2019. Produksi daging sapi tahun 2018 sebesar 486.320, Tahun 2019 sebesar 496.302 Ton sehingga terjadi import daging tahun 2018 sebesar 160.700 dan tahun 2019 sebesar 287.976 Ton (Haloho, 2020). Selama ini Bumi Peternakan Wahyu Utama (BPWU) merupakan salah satu peternakan pemeliharaan sapi potong dengan populasi sapi yang memiliki kapasitas kandang mencapai 1.500 ekor namun saat ini hanya terisi 150 ekor sapi. Unit usaha BPWU meliputi penggemukan sapi potong feedlot dan hasil olahan daging (Pangesti, 2018). Bumi Peternakan Wahyu Utama (BPWU) terletak di Desa Sukolilo, Kecamatan Bancar, Kabupaten Tuban. Bumi Peternakan ini berdiri sejak tahun 2003 hingga sekarang. Jenis usaha atau kegiatan yang dilakukan ialah berupa agribisnis sapi potong modern dengan budidaya sapi potong dari hulu hingga hilir serta adanya sektor penunjang. Tujuannya diterapkannya sistem agribisnis ini yaitu untuk meningkatkan produtivitas sapi pedaging yang nantinya dihasilkan. Pemilihan BPWU sebagai tempat Praktik Kerja Lapang (PKL) dirasa sangat relevan karena dapat direplikasi dalam kegiatan wirausaha agribisnis. Harapannya dengan melakukan Praktik Kerja Lapang (PKL) ini dapat meningkatkan pengetahuan, potensi, sikap, keterampilan dan wawasan dalam kerja maupun wirausaha.

Kontributor: Setiani, S.P., M.P., Ph.D.,
Tanggal tercipta: 2023-06-09
Jenis(Tipe): Text
Bahasa: Indonesia
Pengenal(Identifier): TRUNOJOYO-KP-200321100003
No Koleksi: 200321100003


 Download File Penyerta (khusus anggota terdaftar)

 File PDF  1. TRUNOJOYO-KP-27452-200321100003-200321100003_Agribisnis.pdf - 1883 KB


 Dokumen sejenis...



 Dokumen yang bertautan...





 Kembali ke Daftar