Anda belum Log-in!
Silahkan Log in
Selamat Datang di Portal Digital Content Publisher
Jumat , 06 November 2026
Perpustakaan sebagai jantung pendidikan tinggi di Indonesia, harus mampu memberi kontribusi yang berarti bagi pelaksanaan proses belajar mengajar di perguruan tinggi.
di-posting oleh imam pada 2023-07-02 03:34:54 • 459 klik
PENGOLAHAN DATA MULTIBEAM ECHOSOUNDER MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK CARIS HIPS and SIPS 10.4 (STUDI KASUS : PERAIRAN PULAU JEMUR, RIAU)
disusun oleh TRIO ARDIANSYAH
| Subyek: | PULAU JEMUR RIAU |
| Kata Kunci: | PULAU JEMUR RIAU |
[ Anotasi Abstrak ]
Salah satu cara untuk pengambilan data batimetri yaitu survei hidrografi. Hidrografi merupakan ilmu yang mempelajari penggambaran dan pengukuran beberapa parameter yang digunakan untuk mendefinisikan sifat-sifat dan konfigurasi dasar perairan dengan benar, karakteristik dan dinamika lautan, serta hubungan geografis antara laut dengan daratan. Dalam kata lain hidrografi merupakan cabang ilmu yang berfokus pada pengukuran untuk mendeskripsikan sifat juga pola badan air, serta dinamikanya. Penggunaan instrumen dalam pengambilan data hidrografi sangatlah penting untuk memastikan keakuratan data yang didapatkan. Multibeam Echosounder merupakan salah satu dari berbagai instrument yang paling sering dipakai dalam survei hidrografi (Sukariyani, 2018). Multibeam Echosounder (MBES) merupakan alat yang memiliki fungsi untuk pengambilan data pemeruman di suatu perairan dalam survei hidrografi. Multibeam Echosounder merupakan pengembangan dari alat Singlebeam Echosounder, pada prinsip kerjanya dikatakan sama akan tetapi yang membedakan adalah pancaran dalam sekali pengambilan data. Dalam satu kali pengambilan data multibeam echosounder dapat memancarkan beberapa gelombang sonar sedangkan dalam satu kali pengambilan data singlebeam echosounder hanya dapat memancarkan satu gelombang sonar saja. Prinsip pengoperasian dari Multibeam Echosounder adalah transmitter pada transducer akan mengeluarkan gelombang suara dengan cara tegak lurus ke dasar air menggunakan nilai frekuensi tertentu, lalu gelombang suara akan direfleksikan kembali dan diterima oleh receiver. Data yang akan diperoleh dari proses pemeruman merupakan data interval dari gelombang yang dipancarkan hingga gelombang diterima kembali, dari proses pemeruman yang sudah dilakukan maka nilai kedalaman dasar perairan akan diperoleh (Yosep Wiratama et al., 2021). Secara geografis Pulau Jemur adalah Kawasan perbatasan antarnegara Indonesia dan Malaysia yang hanya dibedakan oleh Selat Malaka. Pulau Jemur sendiri merupakan salah satu pulau yang mempunyai potensi besar dalam hal pariwisata dan hasil laut serta terumbu karang bagi Indonesia khususnya daerah Riau. Dikarenakan letak Pulau Jemur yang stategis yaitu terdapat pada Selat Malaka maka pulau ini memiliki potensi besar terhadap perkembangan perdangangan internasional. Memiliki potensi sebagai perkembangan perdagangan internasional menjadikan lalu lintas laut Pulau Jemur sebagai salah satu perairan yang ramai digunakan sebagai kegiatan pelayaran (Desriani Rani, 2014). Keamanan dan keselamatan dari navigasi pelayaran adalah salah satu faktor yang benar-benar harus diperhatikan agar dapat mendukung lancarnya lalu lintas laut dan menghalau jika terjadi kecelakaan di laut. Dilakukannya keamanan dan keselamatan dengan cara penandaan navigasi pelayaran di area yang terdapat bahaya navigasi, hal tersebut guna untuk mempermudah kapal dalam hal olah gerak (Asmoro et al., 2022). Salah satu faktor yang menjadi penyebab bahaya dari keselamatan navigasi adalah kurangnya informasi mengenai kedalaman suatu wilayah perairan, maka dari itu pemahaman mengenai batimetri sangatlah diperlukan untuk mengetahui informasi tentang kedalaman di suatu perairan. Pusat Hidro-Oseanografi TNI Angkatan Laut (PUSHIDROSAL) memiliki tugas untuk melaksanakan survei untuk kajian pemetaan Hidro-Oseanografi militer maupun nasional survei tersebut melingkupi, penelitian, pemetaan laut publikasi, penerapan lingkungan laut, dan keselamatan navigasi pelayaran. Dalam tugas mementingkan keselamatan maritim, Pushidrosal memiliki kewenangan dan legalitas tunggal dalam bidang hidrografi untuk menyediakan data serta informasi Hidro-Oseanografi berupa peta laut baik peta kertas maupun peta navigasi elektronik dan publikasi nautika (Pushidrosal, 2018). Dapat disimpulkan bahwa instansi ini memiliki kewenangan atas informasi mengenai fenomena dibawah laut, peta batimetri, dan pembuatan peraturan atau rancangan navigasi pelayaran sebagai acuan keselamatan pelayaran.
| Kontributor | : Ary Giri Dwi Kartika, S. Kel., M. Si |
| Tanggal tercipta | : 2023-05-24 |
| Jenis(Tipe) | : Text |
| Bahasa | : Indonesia |
| Pengenal(Identifier) | : TRUNOJOYO-KP-200341100046 |
| No Koleksi | : 200341100046 |
Download File Penyerta (khusus anggota terdaftar)
1. TRUNOJOYO-KP-27575-200341100046-Trio Ardiansyah_200341100046_Laporan PKL.pdf - 11284 KB
Dokumen sejenis...Tidak ada !
Dokumen yang bertautan...
Kembali ke Daftar 