Anda belum Log-in!
Silahkan Log in

Selamat Datang di Portal Digital Content Publisher
Jumat , 06 November 2026

Perpustakaan sebagai jantung pendidikan tinggi di Indonesia, harus mampu memberi kontribusi yang berarti bagi pelaksanaan proses belajar mengajar di perguruan tinggi.

TRUNOJOYO » KP&PKL » Agroekoteknologi
di-posting oleh imam pada 2023-07-06 14:12:56  •  237 klik

TEKNIK PERAWATAN TANAMAN BUNCIS (Phaseolus vulgaris L.) UNTUK BENIH DI PT. WIRA AGRO NUSANTARA SEJAHTERA, KEDIRI
disusun oleh MOH TOHIR ROMLI

Subyek: BUNCIS
Kata Kunci: BUNCIS

[ Anotasi Abstrak ]

Buncis (Phaseolus vulgaris L.) merupkan salah satu komoditas pertanian yang mempunyai posisi penting dalam hortikultura. Hortokultura dipandang sebagai produk pertanian yang masih mempunyai potensi untuk dikembangkan. Upaya peningkatan produksi buncis sebagai salah satu komoditas hortikultura di Indonesia perlu dilakukan secara intensif agar dapat memenuhi kebutuhan gizi dan konsumen bagi masyarakat peningkatan produksi dapat di wujudkan melalui teknik budidaya yang tepat, pengaturan populasi tanaman dan pemilihan varietas yang tepat dan sesuai dangan lingkungannya agar hasil yang diperoleh lebih optimal (Fajriah et al. 2018). Buncis adalah salah satu jenis tanaman yang memiliki banyak sekali manfaat. Sebagai bahan sayuran, polong buncis dapat di komsumsi dalam ke adaan muda. Menurut Cahyo (2007), dalam 100 g buah buncis segar mengandung Energy 35 kal, Protein 2,4 g, Lemak 0,2 g, Karbohidrat 7,7 g, Kalsium 6,5 g, Fosfot 4,4 g, Serat 1,2 g, Besi 1,1 g, Vitamin (A 630 SI, B1 0,08 mg, B3 0,7 mg, C 19,0 mg), dan Air 89 g, yang sangat berpengaruh besar terhadap kualitas kesehatan masyarakat. Produksi buncis di Indonesia mengalamai penurunan berdasarkan data produksi tahun 2018-2020 diketahui 2018 produksi buncis mencapai 304,445,00 ton. Tahun 2019 mengalami penurunan 5.134 ton menjadi 299.311,00 ton dan di tahun 2020 kembali produksi buncis mengalami peningkatan menjadi 305.923 ton (BPS 2021). Penurunan produksi buncis dapat dipengaruhi beberapa hal, antara lain serangan hama dan penyakit tanaman. Hawar daun bakteri (Common bacterial blight) merupakan salah satu peyakit tular benih yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas axonopodis pv. phaseoli dan merupakan salah satu masalah utama pada pertanaman buncis di dunia. Bakteri menginfeksi daun, polong dan biji dari buncis mengakibatkan tanaman mengalami nekrosis setelah sekian lama dan akhirnya mati. Sedangkan rendahnya produksi perhektar tanaman kacang buncis di Indonesia dikarenakan pengaruh benih unggul yang belum merata dan teknik perawatan yang belum optimal. Untuk dapat tumbuh secara optimal maka tanaman buncis membutuhkan tanah yang subur dan gembur (Andosol dan Regosol) dengan pH 5,0 – 6,0 (Wahyudi 2011). Tanaman Buncis tergolong dalam jenis sayuran semusim yang dapat dipanen berkali-kali. Tanaman buncis dapat tumbuh di dataran tinggi hingga dataran rendah. Perawatan tanaman buncis terdapat beberapa hal yang harus dilaksanakan yaitu pengairan, penyulaman, pemasangan ajir, pemasangan tali gawar, penyiangan, perambatan, pemupukan dan pengendalian penyakit tanaman. Pengairan pada tahap awal dilakukan setiap sore sampai benih tumbuh. Sedangkan pada tahap selanjunya pengairan disesuaikan dangan kondisi lahan pertanaman dan kondisi tanaman. Penyulaman dilakukan ketika ada benih yang rusak atau tidak tumbuh, saat tanaman berumur 7 10 HST. Tujuan penyulaman agar jumlah tanaman persatuan luas tetap optimum. Pemasangan ajir dan tali gawar dilakukan secara bersamaan ketika tanaman tumbuh sekitar 15 21 cm. Jarak ajir dengan tanaman sekitar 5 – 8 cm. Sedangkan Pemasangan tali gawar mempunyai 2 tingkat dangan jarak 30 cm, antara tali yang di bawah dan atas. Penyiangan dilakukan dengan cara mencabut gulma dengan tangan atau menggunakan alat. Perambatan dilakukan ketika tanaman memiliki cabang dan bunga yang banyak. Sehingga mempunyai potensi hasil yang lebih besar. Pemupukan menggunakan pupuk organik seperti pupuk kendang ayam dan pupuk majemuk NPK 15 – 15 – 15. Pemupukan awal dilakukan pada umur 15 – 25 HST, pemupukan ke dua di lakukan pada umur 35-45 HST. Pengendalian hama penyakit pada tanaman buncis dapat dilakukan secara mekanis dan kimiawi. Tanaman yang terserang penyakit, pertumbuhan dan hasil produksinya akan menurun.

Kontributor: Fahmi Arief Rahman, S.P., M.Si.
Tanggal tercipta: 2023-05-23
Jenis(Tipe): Text
Bahasa: Indonesia
Pengenal(Identifier): TRUNOJOYO-KP-200311100061
No Koleksi: 200311100061


 Download File Penyerta (khusus anggota terdaftar)

 File PDF  1. TRUNOJOYO-KP-27674-200311100061-moh tohir pkl.pdf - 36201 KB


 Dokumen sejenis...



 Dokumen yang bertautan...





 Kembali ke Daftar