Anda belum Log-in!
Silahkan Log in

Selamat Datang di Portal Digital Content Publisher
Jumat , 06 November 2026

Perpustakaan sebagai jantung pendidikan tinggi di Indonesia, harus mampu memberi kontribusi yang berarti bagi pelaksanaan proses belajar mengajar di perguruan tinggi.

TRUNOJOYO » KP&PKL » Manajemen Sumberdaya Perairan
di-posting oleh imam pada 2023-07-26 13:53:15  •  198 klik

KANDUNGAN KADAR AMONIA PADA KOLAM PEMBESARAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DI UNIT KERJA BUDIDAYA AIR TAWAR CANGKRINGAN, BALAI PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PERIKANAN BUDIDAYA CANGKRINGAN, SLEMAN, YOGYAKARTA
disusun oleh DWI CECARWATI

Subyek: IKAN NILA
Kata Kunci: IKAN NILA

[ Anotasi Abstrak ]

Ikan nila adalah kelompok ikan subtropis hingga tropis yang berasal dari Afrika dan Timur Tengah bagian barat daya. Ikan ini berasal dari Taiwan, Thailand dan Filipina dan pertama kali didatangkan ke Indonesia pada tahun 1969, 1990, dan 1994. Informasi lain menyebutkan bahwa pengenalan pertama dan pembentukan ikan nila non-pribumi diyakini telah terjai di Jawa pada tahun 1939-an sebagai akibat dari pelepasan ikan nila Mozamik (Oreochromis mossambicus). Ikan nila memiliki nama latin atau nama ilamiah sebagai Oreochromis niloticus, sementara nama umunya berbeda pada setiap negara. Indonesia menyebut ikan ini sebagai “ikan nila” nama diambil dari kata “nil” yang artinya sungai nil, dimana asal mula dari ikan ini (Putra et al., 2011). Ikan nila termasuk jenis ikan air tawar yang banyak diminati oleh masyarakat baik lokal maupun mancanegara. Ikan nila tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal akan tetapi juga dapat memenuhi kebutuhan ekspor. ikan nila sebagai komoditas ekspor banyak diminati terutama dalam bentuk filet. Minat masyarakat terhadap ikan ini dikarenakan nilai gizinya. Menurut laporan United Nations ‘food and agriculture organisation (FAQ) state of the world’s Fisheries and Aquaculture 2022, lebih dari satu milliar orang seluruh dunia bergantung pada ptotein hewani dari ikan, dan sekitar 56% dari populasi dunia memperoleh setidaknya 20% dari asupan protein hewani dari ikan. Ikan nila merupakan sumber protein hewani yang terjangkau bagi manusia. Ikan nila ini terdapat kandungan asam lemak omega-6 yang tinggi sementara asam lemak omega-3 yang rendah. 100 gram ikan nila mengandung kurang lebih 26 gram protein dan 126 kalori (Pramana Simanjuntak, 2013). Ikan nila bisa hidup diperairan dalam dan luas ataupun di kolam yang sempit dan dangkal, tidak hanya itu ikan nila juga hidup di waduk, danau rawa sawah, tambak air payau, dalam jaring terapung dilaut serta di sungai yang tidak terlalu deras alirannya dan juga di kolam beton dan terpal. Kolam beton dan kolam terpal banyak diminati sebagai media pemeliharaan ikan karena media ini lebih praktis. Kolam beton ialah kolam yang dasar sisi-sisinya terbuat dari beton sedangkan kolam yang dasar serta sisi-sisinya terbuat dari terpal merupakan kolam terpal. Dua kolam tersebut dapat digunakan untuk kegiatan budidaya ikan dengan memanfaatkan lahan yang sempit. Kolam terpal memiliki keunggulan yaitu murah dan tempatnya dapat diubah sewaktu-waktu (Monalisa Infa, 2010). Budidaya ikan berhubungan dengan kelestarian lingkungan karena, Ikan akan hidup dan berkembang biak dengan baik apabila lingkungan yang tersedia sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Parameter utama dalam budidaya ikan salah satunya yaitu kualitas air. Kualitas air dapat dilihat dari besaran fisika, kimia, dan biologi. Kualitas air untuk budidaya ikan air tawar perlu memenuhi beberapa persyaratan karena air yang kurang baik dapat menyebabkan ikan mudah terserang penyakit. Sumber air yang baik pada pemeliharaan ikan harus memenuhi kriteria kuaitas air yang melputi sifat-sifat fisika dan kimia seperti, suhu, pH, kekeruhan,; DO, ammonia, dan lain sebagainya. Kualitas air pada kola mikan sangat menentukan keberhasilan budidaya (Fauzia Suseno, 2020). Kualitas air yang diukur pada Praktik Kerja Lapang ini meliputi suhu, pH, oksigen terlarut (DO) dan amonia. Temperatur air kolam budidaya juga sangat berpengaruh terhadap organisme yang ada dalam kolam tersebut. Peningkatan dan penurunan suhu air kolam yang tidak sesuai dengan kondisi ikan akan menyebabkan ikan kesulitan melakukan proses mobilisasi energi dan berakibat kematian dalam waktu singkat. Pentingnya pemantuan kualitas air secara berkelanjutan pada budidaya perikanan, maka perlu dirancang suatu perangkat sistem kontrol dan monitoring kualitas air dan suhu air pada kolam budidaya ikan yang dapat di kontrol secara otomatis dan dimonitoring dari jauh (Monalisa Infa, 2010). Keberadaan ammonia dalam air bisa mengganggu ekosistem perairan dan makhluk hidup lainnya. Ammonia sangat beracun untuk organisme didalam air. ammonia bisa bersifat racun pada manusia jika jumlah yang masuk tubuh melebihi jumlah yang dapat didetoksifikasi oleh tubuh. Resiko terbesar pada manusia adalah dari penghirup uap ammonia yang mengakibatkan beberapa efek seperti iritasi pada kulit, mata dan saluran pernafasan pada tingkat yang sangat tinggi, penghirup uap ammonia sangat bersifat fatal. Ammonia jika terlarut diperairan akan meningkatkan konsentrsi ammonia yang berakibat keracunan bagi hampir semua organisme perairan (Riska emilia Sartika Dauhan, 2014).

Kontributor: Dr. Firman Farid Muhsoni, S.Pi., M.Sc
Tanggal tercipta: 2023-05-24
Jenis(Tipe): Text
Bahasa: Indonesia
Pengenal(Identifier): TRUNOJOYO-KP-200351100039
No Koleksi: 200351100039


 Download File Penyerta (khusus anggota terdaftar)

 File PDF  1. TRUNOJOYO-KP-28496-200351100039-Laporan PKL_Dwi Cecarwati_039_MSP.pdf - 2419 KB


 Dokumen sejenis...



 Dokumen yang bertautan...





 Kembali ke Daftar