Anda belum Log-in!
Silahkan Log in
Selamat Datang di Portal Digital Content Publisher
Jumat , 06 November 2026
Perpustakaan sebagai jantung pendidikan tinggi di Indonesia, harus mampu memberi kontribusi yang berarti bagi pelaksanaan proses belajar mengajar di perguruan tinggi.
di-posting oleh imam pada 2023-07-27 07:56:49 • 1199 klik
KULTUR JARINGAN RUMPUT LAUT (Kappaphycus alvarezii) DI BALAI BESAR PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU JEPARA, JAWA TENGAH
disusun oleh Ridha Olnis Syawallita
| Subyek: | RUMPUT LAUT |
| Kata Kunci: | RUMPUT LAUT |
[ Anotasi Abstrak ]
Rumput laut merupakan tanaman makro alga dan termasuk dalam divisi Thallophyta (tumbuhan bertalus), yaitu dari segi morfologi rumput laut tidak memperlihatkan adanya perbedaan yang jelas antara akar, batang, dan daun dimana bagian tersebut biasa disebut dengan talus. Indonesia dan Philipina merupakan dua negara penyuplai terbesar bahan baku rumput laut bagi negara- negara yang membutuhkan. Faktor penting yang menentukan keberhasilan usaha budidaya rumput laut adalah penggunaan bibit yang memiliki kualitas baik, yaitu bibit yang dapat tumbuh dengan cepat dan memiliki cabang yang banyak serta bebas dari serangan penyakit. Bibit rumput laut yang digunakan secara terus menerus akan mengalami penurunan kualitas hidupnya, alternatif untuk mengatasi kendala tersebut yakni dengan menggunakan bibit yang berkualitas yang dihasilkan melalui kultur jaringan (Ismariani et al., 2019). Rumput laut (Kappaphycus alvarezii) adalah salah satu komoditas unggulan di bidang perikanan dan kelautan Indonesia karena jenis rumput laut ini menghasilkan karagenan yang bernilai ekonomis tinggi. Karagenan merupakan senyawa hidrokoloid dari polisakarida rantai panjang yang diperoleh dari hasil ekstraksi rumput laut dengan menggunakan air panas atau larutan alkali pada temperatur tinggi. Dalam dunia industri dan perdagangan, karagenan memberikan banyak manfaat antara lain dalam industri farmasi, makanan, dan kosmetik sebagai stabilator, bahan pengental, pembentuk gel, dan pengemulsi. Kendala dalam pengadaan bibit rumput laut (Kappaphycus alvarezii) diantaranya adalah iklim di laut yang tidak bisa dikendalikan. Pada waktu atau musim tertentu, kondisi perairan tidak cocok untuk pertumbuhan rumput laut sehingga semuanya mati atau tumbuh tidak optimal, sehingga pada musim tanam berikutnya ketersediaan bibit sangat sedikit atau bahkan tidak ada. Hal ini menyebabkan penyediaan bibit secara berkesinambungan untuk peningkatan luas area budidaya belum dapat terpenuhi (Darmawati, 2013). Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik dalam wadah tertutup sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman lengkap. Teknik kultur jaringan telah banyak dikembangkan untuk produksi bibit pada tanaman pertanian, kehutanan, dan buah-buahan. Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain mempunyai sifat yang identik dengan induknya, tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar. Kesehatan dan mutu bibit yang dihasilkan lebih terjamin. Produksi bibit di laboratorium kultur jaringan bisa dilakukan sepanjang tahun tanpa dipengaruhi musim atau iklim di perairan pantai yang tidak bisa dikendalikan, oleh karena itu dengan teknik kultur jaringan bibit rumput laut diharapkan dapat tersedia seacara berkesinambungan sepanjang tahun untuk pembudidaya (Cokrowati et al., 2018). Penyediaan bibit secara konvensional memeiliki beberapa kelemahan diantaranya ketersediaan bibit yang sangat tergantung dari kondisi alam, adanya potensi penurunan kualitas rumput laut karena pemakaian bibit yang berulang- ulang dalam beberapa kali siklus budidaya, umur bibit yang melebihi standar dan tidak ada perbaikan kualitas bibit. Penggunaan bibit dari alam memiliki permasalahan pada variasi fisiologinya seperti pertumbuhan dan kandungan agar. Budidaya rumput laut menggunakan bibit yang diproduksi secara vegetatif dari sisa hasil budidaya memungkinkan epifit, parasit atau patogen dari rumput laut hasil panen sebelumnya terbawa kembali pada siklus budidaya selanjutnya dan dapat mengakibatkan penurunan produksi. Beberapa keuntungan perbanyakan bibit rumput laut melalui kultur jaringan dibandingkan metode konvensional diantaranya memungkinkan untuk menghasilkan tanaman yang seragam dalam jumlah yang banyak dari strain yang telah terseleksi dengan karakteristik yang diinginkan, dapat menghindari eksploitasi sumber bibit dari alam secara berlebihan, sebagai sumber plasma nutfah dimana lokasi yang jauh dari sumber bibit alam dapat memanfaatkan sumber plasma nutfah dari hasil kultur jaringan, memungkinkan penyediaan bibit rumput laut dengan generasi baru, umur bibit rumput laut yang digunakan dalam budidaya dapat terselusur sehingga memudahkan untuk memperkirakan waktu untuk memperbaharui bibit. Dengan kultur jaringan penyediaan bibit dapat dilakukan secara in vitro sehingga dapat dilakukan secara kontinue tidak tergantung pada kondisi alam. Berdasarkan uraian di atas bahwa kultur jaringan rumput laut bagus untuk dikembangkan karena peminat dalam pemasaran dan nilai jual yang tinggi. Pelaksanaan kegiatan dalam mendukung pengembangan budidaya air payau di instansi Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau Jepara didasari pengalaman yang ada. Penulis dalam kegiatan Praktik Kerja Lapang bisa menyerap ilmu budidaya yang didapatkan dalam teknik kultur jaringan rumput laut. Kegiatan kultur jaringan rumput laut bertujuan untuk memenuhi kebutuhan rumput laut dan meningkatkan produksi rumput laut guna terpenuhinya permintaan pasar. Kendala yang ditemukan pada kegiatan kultur jaringan yaitu ketersediaan bibit rumput laut untuk kultur jaringan serta kontaminasi menjadi faktor yang sering dihadapi pada kegiatan kultur jaringan.
| Kontributor | : Dr. Haryo Triajie, S.Pi., M.Si. |
| Tanggal tercipta | : 2023-06-26 |
| Jenis(Tipe) | : Text |
| Bahasa | : Indonesia |
| Pengenal(Identifier) | : TRUNOJOYO-KP-200351100031 |
| No Koleksi | : 200351100031 |
Download File Penyerta (khusus anggota terdaftar)
1. TRUNOJOYO-KP-28553-200351100031-Ridha Olnis Syawallita_200351100031_Laporan PKL-digabungkan (1).pdf - 5955 KB
Dokumen sejenis...- POPULASI BAKTERI PADA RUMPUT LAUT (Eucheuma cottonii) YANG TERSERANG PENYAKIT ICE-ICE
- Identifikasi Spesies Kontaminan dan Perubahan Morfologi Sel Rumput Laut Kappaphycus alvarezii Hasil Kultur Jaringan
- Analisis Strategi Pemasaran Rumput Laut (Studi Pada Petani Rumput Laut di Desa Pekandangan Tengah Kecamatan Bluto Kabupaten Sumenep)
- IDENTIFIKASI BAKTERI PENYEBAB PENYAKIT ICE-ICE PADA RUMPUT LAUT (Kappaphycus alvarezii)
- Pengaruh Waktu Pembersihan Epifit Terhadap Laju Pertumbuhan Rumput Laut Eucheuma spinosum
Dokumen yang bertautan...- POPULASI BAKTERI PADA RUMPUT LAUT (Eucheuma cottonii) YANG TERSERANG PENYAKIT ICE-ICE
- Identifikasi Spesies Kontaminan dan Perubahan Morfologi Sel Rumput Laut Kappaphycus alvarezii Hasil Kultur Jaringan
- Analisis Strategi Pemasaran Rumput Laut (Studi Pada Petani Rumput Laut di Desa Pekandangan Tengah Kecamatan Bluto Kabupaten Sumenep)
- IDENTIFIKASI BAKTERI PENYEBAB PENYAKIT ICE-ICE PADA RUMPUT LAUT (Kappaphycus alvarezii)
- Pengaruh Waktu Pembersihan Epifit Terhadap Laju Pertumbuhan Rumput Laut Eucheuma spinosum
Kembali ke Daftar 