Anda belum Log-in!
Silahkan Log in

Selamat Datang di Portal Digital Content Publisher
Jumat , 06 November 2026

Perpustakaan sebagai jantung pendidikan tinggi di Indonesia, harus mampu memberi kontribusi yang berarti bagi pelaksanaan proses belajar mengajar di perguruan tinggi.

TRUNOJOYO » KP&PKL » Manajemen Sumberdaya Perairan
di-posting oleh imam pada 2023-07-31 07:35:10  •  694 klik

TEKNIK PEMBENIHAN IKAN WADER CAKUL (Puntius binotatus) DI UNIT PELAKSANA TEKNIS (UPT) LABORATORIUM KESEHATAN IKAN DAN LINGKUNGAN, UMBULAN PASURUAN, JAWA TIMUR
disusun oleh ROMANA MAR AFGHANITRI KUMALA

Subyek: IKAN WADER CAKUL
Kata Kunci: IKAN WADER CAKUL

[ Anotasi Abstrak ]

Ikan wader merupakan ikan sungai dengan potensi budidaya yang tergolong tinggi dengan masa pemeliharaan yang relatif pendek yaitu sekitar 6-8 minggu serta adaptif dengan perairan dan tahan terhadap suatu penyakit. Ikan wader konsumsi pada umumnya berukuran 5-10 cm (Budiharjo, 2007). Ikan wader selama ini tumbuh dan berkembang dari alam terutama sungai berbatu dengan arus deras, Namun banyaknya perubahan geografis menyebabkan adanya perubahan keberadaan habitat alami ikan wader cakul semakin sulit ditemukan (Budiharjo, 2012). Kendala yang dihadapi dalam kegiatan budidaya ikan wader ini cukup banyak, yaitu masih minimnya informasi yang lengkap (komprehensif) tentang ikan wader seperti informasi biologi dan teknik budidaya meliputi manajemen kebutuhan nutrien dan pengelolahan, serta informasi terkait ketersediaannya di alam. Selain itu, kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya berbudidaya konservasi untuk menjaga kelangsungan hidup ikan wader agar tetap lestari dan mampu memenuhi pasar pada jenis ikan wader (Nay, 2015). Populasi ikan wader cakul yang hidup di perairan alami perlu dilindungi dari adanya aktivitas antropogenik seperti pembukaan lahan dan penangkapan yang berlebihan. Ikan wader cakul merupakan salah satu ikan yang disukai oleh masyarakat Indonesia. Ikan wader cakul memiliki harga yang lebih tinggi daripada beberapa jenis ikan konsumsi lainnya seperti ikan nila dan ikan lele. Hal ini menunjukkan bahwa ikan wader berpotensi dan layak untuk dibudidayakan (Budiharjo, 2012). Selama ini, ikan wader ditangkap langsung dari habitat alami sehingga ketersediaannya di pasaran sulit dipastikan dan harganya tidak stabil. Di samping itu, penangkapan ikan wader secara terus menerus di alam dapat mengganggu ekosistem, yaitu populasinya semakin menyusut dan kelestariannya menjadi terancam. Nay (2015) menyatakan bahwa ikan wader selama ini tumbuh dan berkembang di alam terutama di sungai berbatu dan berarus deras, namun dengan banyaknya perubahan geografis sehingga adanya perubahan pada habitat alami, ikan wader makin sulit diperoleh di alam. Apabila ditemukan maksimal ukuran tubuhnya juga relatif kecil dan diketahui bahwa ikan wader merupakan kelompok yang terdiri atas beberapa jenis ikan, bahkan dapat berasal dari genus yang berbeda, antara lain dari genus Rasbora dan Puntius. Setiap jenis memiliki sifat yang berbeda, baik ukuran tubuh, kecepatan pertumbuhan, dan rasa dagingnya (Kottelat et al., 1993). Pemenuhan kebutuhan ikan wader cakul selama ini masih didapat dari hasil pancingan. Intensitas penangkapan yang meningkat di alam mengancam kelestarian populasi ikan wader cakul di habitat alaminya sehingga perlu adanya upaya untuk pembudidayaan (Djumanto dan Setyawan, 2009). Usaha budidaya ikan wader masih sedikit dan belum berkembang karena keterbatasan pengetahuan tentang teknik pemeliharaan ikan tersebut. Padahal dengan potensinya yang tinggi untuk dibudiyakan akan mendapatakan harga yang lebih tinggi daripada jenis ikan budidaya lainnya (Budiharjo, 2007). Budidaya ikan wader cakul perlu dikembangkan untuk meningkatkan mutu induk ikan karena produk benih ikan yang berkualitas ditentukan oleh kualitas induk dan kegiatan pembenihan yang baik. Benih ikan yang berkualitas tinggi akan menghasilkan pertumbuhan yang cepat dan tahan terhadap serangan penyakit sehingga produktivitas usaha budidaya ikan wader diharapkan akan meningkat (Sitanggang dan Sarwono, 2002). Herry et al, (2014) menyatakan bahwa usaha pembenihan dapat dilakukan dengan tiga cara pemijahan, yaitu pemijahan alami, pemijahan semi buatan, dan pemijahan buatan. Tahapan budidaya ikan wader seperti budidaya ikan pada umunya, yaitu dimulai dari persiapan kolam pemijahan, seleksi induk, pemijahan, pembesaran serta penanggulangan hama dan penyakit. Upaya mempertahankan populasi ikan wader dapat dilakukan melalui kegiatan praktik kerja lapang di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan (LKIL), Umbulan, Pasuruan yang telah mengembangkan teknik pemeliharaan induk ikan wader cakul, selain itu juga yang bertujuan untuk melestarikan dan meningkatkan produktivitasnya (Sentosa dan Djumanto, 2010).

Kontributor: Abdus Salam Junaedi. S.Si., M.Si.
Tanggal tercipta: 2023-06-23
Jenis(Tipe): Text
Bahasa: Indonesia
Pengenal(Identifier): TRUNOJOYO-KP-200351100035
No Koleksi: 200351100035


 Download File Penyerta (khusus anggota terdaftar)

 File PDF  1. TRUNOJOYO-KP-28761-200351100035-ROMANA MAR PKL.pdf - 30550 KB


 Dokumen sejenis...

     Tidak ada !

 Dokumen yang bertautan...





 Kembali ke Daftar