Anda belum Log-in!
Silahkan Log in

Selamat Datang di Portal Digital Content Publisher
Kamis , 05 November 2026

Perpustakaan sebagai jantung pendidikan tinggi di Indonesia, harus mampu memberi kontribusi yang berarti bagi pelaksanaan proses belajar mengajar di perguruan tinggi.

TRUNOJOYO » KP&PKL » Kelautan
di-posting oleh yoga pada 2024-07-30 08:38:33  •  201 klik

TEKNIS PENGUKURAN KERAPATAN MANGROVE DENGAN SAMPAH LAUT ANORGANIK DI WILAYAH WISATA MANGROVE WONOREJO KECAMATAN RUNGKUT KOTA SURABAYA
disusun oleh MUHAMMAD NAUFAL HISYAM

Subyek: MANGROVE
Kata Kunci: Sampah Laut (Merine Debris)
Sampah Anorganik
Ekosistem Mangrove
Dampak Sampah Laut Terhadap Ekosistem

[ Anotasi Abstrak ]

Sampah dari air dan tanah adalah masalah utama di dunia saat ini, dan sebagian besar limbah yang dihasilkan oleh manusia adalah plastik. Sebagaimana dinyatakan dalam (Agustini et al., 2016) dan (NOAA, 2013), Mendefinisikan sampah laut sebagai padatan persisten yang telah dibuat atau diproses oleh manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung, sengaja atau tidak sengaja, dan kemudian dibuang atau ditinggalkan di lingkungan laut. Jenis limbah laut melibatkan berbagai bahan seperti plastik, kain, busa, styrofoam, kaca, keramik, logam, kertas, karet, dan kayu. Klasifikasi marine debris dibedakan berdasarkan ukuran yaitu megadebris (> 100 mm), makrodebris (> 20-100 mm), mesodebris (> 5-20 mm), dan mikrodebris (0.3-5 mm). Menurut penelitian (Jambeck et al., 2015) yang dikutip oleh (Marsondang et al., 2016), Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai penyumbang sampah terbesar di dunia setelah China yang membuang sampah ke dalam laut. Sampah laut memiliki pengaruh negatif terhadap ekosistem, saat ini salah satu masalah lingkungan yang paling memprihatinkan. Setiap zat padat yang telah diproduksi, diproses, atau dibuang dan ditinggalkan di lingkungan maritim dikenal sebagai sampah laut. sengaja atau tidak sengaja membuang polutan ke laut dari darat melalui sungai atau di laut (Portman Brennan, 2017). Menurut Hastuti (2014) mencatat bahwa plastik membentuk lebih dari 77,7% sampah makro di lingkungan mangrove di Pantai Indah Kapuk, dengan styrofoam berada di urutan kedua sebesar 18,1%. Ketebalan sampah makro mencapai 180 m. Kejadian serupa terlihat di lingkungan mangrove di Suaka Margasatwa Muara Angke, di mana akumulasi sampah menghambat perluasan ekosistem mangrove.

Kontributor: Jihanuma Adibiah Nurdini, S.t.,M.T.
Tanggal tercipta: 2024-07-26
Jenis(Tipe): Text
Bentuk(Format): pdf
Bahasa: Indonesia
Pengenal(Identifier): TRUNOJOYO-KP-200341100073
No Koleksi: 200341100073


Ketentuan (Rights) :
2024

 Download File Penyerta (khusus anggota terdaftar)

 File PDF  1. TRUNOJOYO-KP-33200-200341100073-Laporan PKL IKL.pdf - 2826 KB


 Dokumen sejenis...



 Dokumen yang bertautan...





 Kembali ke Daftar