Anda belum Log-in!
Silahkan Log in
Selamat Datang di Portal Digital Content Publisher
Senin , 02 November 2026
Perpustakaan sebagai jantung pendidikan tinggi di Indonesia, harus mampu memberi kontribusi yang berarti bagi pelaksanaan proses belajar mengajar di perguruan tinggi.
di-posting oleh yoga pada 2025-11-25 15:20:22 • 220 klik
PROSES PRODUKSI GARAM INDUSTRI BERYODIUM DI GUDANG B PADA PT. X
PRODUCTION PROCESS OF IODIZED INDUSTRIAL SALT IN WAREHOUSE B AT PT. X
disusun oleh Arsya Cahaya Nusantara Putri
| Subyek: | GARAM PRODUKSI GARAM |
| Kata Kunci: | Garam Industri Garam Beryodium Proses Produksi Gudang B PT. X Yodium |
[ Anotasi Abstrak ]
Garam merupakan komoditas strategis yang memiliki peran vital tidak hanya sebagai bumbu masak (garam konsumsi) tetapi juga sebagai bahan baku penting dalam berbagai sektor industri, seperti industri kimia dan farmasi. Di Indonesia, upaya untuk meningkatkan kualitas garam, terutama garam konsumsi, diwujudkan melalui fortifikasi yodium, yang bertujuan untuk mengatasi masalah defisiensi yodium pada masyarakat. Garam Industri Beryodium adalah produk yang dihasilkan dari proses pengolahan garam mentah menjadi produk akhir siap konsumsi atau bahan baku sekunder dengan standar mutu yang ketat. Laporan kegiatan Magang Riset/Industri ini berjudul "Proses Produksi Garam Industri Beryodium Di Gudang B Pada PT. X". Tujuan utama dari kegiatan magang ini adalah untuk memahami secara komprehensif seluruh tahapan yang terlibat dalam proses produksi garam beryodium skala industri di Gudang B PT. X, mengidentifikasi peralatan utama yang digunakan dalam setiap tahap, dan menganalisis peran Pengendalian Mutu (Quality Control) dalam menjamin kualitas produk akhir sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Kegiatan magang dilaksanakan di PT. X pada tahun 2025. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi partisipatif langsung, wawancara dengan teknisi dan manajer produksi, serta studi dokumentasi proses dan standar operasional perusahaan. Proses produksi di Gudang B dimulai dengan penerimaan garam bahan baku, yang kemudian melalui tahapan pengeringan awal, pembersihan, dan penghancuran (penggilingan) untuk mencapai ukuran partikel yang seragam. Tahapan krusial berikutnya adalah proses pencucian (washing) menggunakan air bersalinitas tinggi untuk mengurangi kadar impuritas. Setelah itu, garam kembali dikeringkan menggunakan mesin rotary dryer untuk menurunkan kadar air hingga memenuhi standar (maksimal 7%). Tahap paling penting adalah fortifikasi yodium, di mana larutan KIO3 (Kalium Iodat) disemprotkan secara merata untuk memastikan kandungan yodium akhir yang sesuai regulasi. Pengendalian mutu dilakukan secara ketat di setiap checkpoint, memverifikasi kadar air, blackspot (pengotor), dan kadar yodium produk. Keseluruhan proses ini menunjukkan bahwa keberhasilan produksi garam industri beryodium berkualitas tinggi sangat bergantung pada efisiensi teknologi, ketepatan dosis fortifikasi, dan implementasi pengendalian mutu yang konsisten.
Deskripsi Lain
Salt is a strategic commodity that holds a vital role not only a culinary seasoning (consumption salt) but also an important raw material in various industrial sectors, such the chemical and pharmaceutical industries. In Indonesia, efforts to enhance the quality of salt, especially consumption salt, are realized through iodine fortification, aimed at addressing iodine deficiency issues in the population. Iodized Industrial Salt is a product derived from processing raw salt into a final product ready for consumption secondary raw material, adhering to strict quality standards. This Research/Industry Internship report is titled "The Production Process of Iodized Industrial Salt in Warehouse B at PT. X". The main objectives of this internship activity were to comprehensively understand all the stages involved in the industrial-scale production process of iodized salt at Warehouse B of PT. X, to identify the main equipment used in each stage, and to analyze the role of Quality Control (QC) in ensuring the final product quality complies with the Indonesian National Standard (SNI). The internship was conducted at PT. X in 2025. The data collection methods included direct participatory observation, interviews with technicians and production managers, and documentation study of the companys processes and standard operating procedures. The production process in Warehouse B begins with the reception of raw salt material, which then undergoes initial drying, cleaning, and crushing (grinding) stages to achieve a uniform particle size. The next crucial stage is the washing process using high-salinity water to reduce impurity levels. Subsequently, the salt is dried again using a rotary dryer to lower the moisture content to meet the standard (maximum 7%). The most critical step is iodine fortification, where a KIO3 (Potassium Iodate) solution is sprayed evenly to ensure the final iodine content complies with regulations. Quality control is strictly enforced at every checkpoint, verifying the moisture content, blackspot (impurities), and the final iodine concentration of the product. This entire process demonstrates that the success of producing high-quality iodized industrial salt heavily relies on technological efficiency, accurate fortification dosage, and the consistent implementation of quality control.
| Kontributor | : Dr. Maulinna Kusumo Wardhani, S.Kel., M.Si. |
| Tanggal tercipta | : 2025-07-17 |
| Jenis(Tipe) | : Text |
| Bentuk(Format) | |
| Bahasa | : Indonesia |
| Pengenal(Identifier) | : TRUNOJOYO-KP-220341100083 |
| No Koleksi | : 220341100083 |
Ketentuan (Rights) :
2025
Download File Penyerta (khusus anggota terdaftar)
1. TRUNOJOYO-KP-38424-220341100083-Laporan PKL.pdf - 3091 KB
Dokumen sejenis...Tidak ada !
Dokumen yang bertautan...- ANALISIS PERBAIKAN MUTU KECAP MENGGUNAKAN METODE QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT (Studi Kasus di UD. Kecap Cap Buah Apel Bangkalan)
- APLIKASI TUJUH ALAT PENGENDALIAN MUTU PADA PRODUKSI KERIPIK SUKUN DI UD BUNGA MUTIARA
- KANDUNGAN NaCl DAN H2O GARAM RAKYAT PADA MEDIA PENYIMPANAN BERBEDA
- IDENTIFIKASI KUALITATIF DAN KUANTITATIF BORAKS DAN FORMALIN PADA JAJANAN SEKOLAH DASAR DI KABUPATEN BANGKALAN
- PENGENDALIAN MUTU PROSES PRODUKSI KERUPUK PULI DENGAN METODE SEVENTOOLS
Kembali ke Daftar 