Anda belum Log-in!
Silahkan Log in

Selamat Datang di Portal Digital Content Publisher
Senin , 02 November 2026

Perpustakaan sebagai jantung pendidikan tinggi di Indonesia, harus mampu memberi kontribusi yang berarti bagi pelaksanaan proses belajar mengajar di perguruan tinggi.

TRUNOJOYO » Master Thesis S-2 » S2 PSDA
di-posting oleh 240361100003 pada 2026-02-06 07:02:19  •  172 klik

PERBANDINGAN POLA TANAM MONOKULTUR DAN TUMPANGSARI DENGAN BAWANG MERAH PADA BUDIDAYA TEMBAKAU (Nicotiana Tabacum) VARIETAS PRANCAK 95 DI DESA PAKONG KECAMATAN PAKONG KABUPATEN PAMEKASAN
A Comparison of Monoculture and Intercropping Systems in the Cultivation of Tobacco (Nicotiana tabacum) var. Prancak 95 in Pakong Village, Pakong District, Pamekasan Regency, Indonesia

disusun oleh LENI SETYONINGSIH


Subyek: tembakau
Kata Kunci: Tembakau
Monokultur
Tumpangsari
teknis budidaya
pertumbuhan
hasil produksi

[ Anotasi Abstrak ]

Kabupaten Pamekasan merupakan salah satu sentra produksi tembakau di Pulau Madura dengan kecenderungan peningkatan luas tanam dan produksi dalam beberapa tahun terakhir. Tembakau berperan penting sebagai komoditas unggulan daerah yang memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan petani, bahkan mencapai 40–80% dari total pendapatan rumah tangga tani (Sudianto, 2023). Salah satu varietas tembakau unggulan yang dikembangkan adalah varietas Prancak 95, yang dikenal memiliki kualitas daun dan aroma khas sehingga sangat diminati oleh industri rokok kretek (Medina & Trilaksana, 2017). Meskipun demikian, varietas ini relatif jarang dibudidayakan oleh petani karena dianggap memiliki produktivitas yang lebih rendah dibandingkan varietas lain. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa potensi produksi Prancak 95 dapat ditingkatkan melalui penerapan budidaya sesuai Good Agricultural Practices (GAP) yang tepat (Verona et al., 2021).rnDalam rangka meningkatkan minat petani untuk membudidayakan tembakau Prancak 95, Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Pemerintah Kabupaten Pamekasan meluncurkan Program Inovasi Pengembangan Tembakau dengan pola tanam monokultur serta Program Diversifikasi Usahatani Tembakau melalui pola tanam tumpangsari dengan bawang merah. Diversifikasi usaha tani dinilai mampu meningkatkan pendapatan petani dan mengurangi risiko kegagalan panen (Asmiati et al., 2024). Perbedaan pola tanam tersebut berpotensi memengaruhi aspek teknis budidaya, pertumbuhan tanaman dan hasil produksi. Pola tanam monokultur dan tumpangsari dengan bawang merah memiliki perbedaan dari aspek teknis seperti pengelolaan lahan dan waktu tanam, sehingga dapat menciptakan lingkungan tumbuh yang berbeda bagi tanaman tembakau. Pertumbuhan tanaman tembakau, yang ditunjukkan melalui tinggi tanaman dan jumlah daun, merupakan karakteristik agronomis yang dapat berubah sesuai dengan kondisi lingkungan dan pengelolaan budidaya yang diterapkan (Boaretto et al., 2020). Pada sistem tumpangsari, keberadaan tanaman bawang merah berpotensi menimbulkan persaingan dalam pemanfaatan unsur hara, air, dan cahaya, sehingga dapat memengaruhi pertumbuhan vegetatif tembakau (Darwis, 2017). Perbedaan pertumbuhan tanaman tersebut selanjutnya akan berpengaruh terhadap hasil produksi tembakau varietas Prancak 95. Hasil produksi tembakau sangat ditentukan oleh jumlah dan ukuran daun, baik dalam bentuk bobot basah maupun bobot kering (Yusra et al., 2025). Pertumbuhan vegetatif yang kurang optimal dapat menyebabkan hasil produksi daun tembakau menjadi rendah. Namun, kajian yang secara khusus membandingkan pola tanam monokultur dan tumpangsari pada varietas Prancak 95 dalam konteks program pemerintah masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk membandingkan aspek teknis dan agronomis budidaya tembakau varietas Prancak 95 pada pola tanam monokultur dan tumpangsari di Desa Pakong, Kabupaten Pamekasan.


Deskripsi Lain

Pamekasan Regency is one of the tobacco production centers on Madura Island, with a trend of increasing planted area and production in recent years. Tobacco plays a significant role a leading regional commodity, contributing significantly to farmers' income, reaching 40–80% of total household income (Sudianto, 2023). One of the superior tobacco varieties developed is the Prancak 95 variety, known for its leaf quality and distinctive aroma, making it highly sought after by the clove cigarette industry (Medina & Trilaksana, 2017). However, this variety is relatively rarely cultivated by farmers due to its perceived lower productivity compared to other varieties. However, research shows that the production potential of Prancak 95 can be increased through the implementation of appropriate Good Agricultural Practices (GAP) cultivation practices (Verona et al., 2021).rnTo increase farmer interest in cultivating Prancak 95 tobacco, the East Java Provincial Government, in collaboration with the Pamekasan Regency Government, launched the Tobacco Development Innovation Program using a monoculture planting pattern and the Tobacco Farming Diversification Program using an intercropping pattern with shallots. Farming diversification is considered capable of increasing farmer income and reducing the risk of crop failure (Asmiati et al., 2024). Differences in these planting patterns have the potential to affect technical aspects of cultivation, plant growth, and production yields. Monoculture and intercropping with shallots differ in technical aspects such land management and planting time, thus creating different growing environments for tobacco plants. Tobacco plant growth, indicated by plant height and number of leaves, is an agronomic characteristic that can change according to environmental conditions and the applied cultivation management (Boaretto et al., 2020). In an intercropping system, the presence of shallots has the potential to create competition for nutrients, water, and light, thus affecting the vegetative growth of tobacco (Darwis, 2017). These differences in plant growth will subsequently affect the production yield of the Prancak 95 tobacco variety. Tobacco production yield is largely determined by the number and size of leaves, both in terms of fresh and dry weight (Yusra et al., 2025). Suboptimal vegetative growth can result in low tobacco leaf yields. However, studies specifically comparing monoculture and intercropping patterns for the Prancak 95 variety within the context of government programs are still limited. Therefore, this study was conducted to compare the technical and agronomic aspects of Prancak 95 tobacco cultivation in monoculture and intercropping patterns in Pakong Village, Pamekasan Regency.

Kontributor: Dr. Teti Sugiarti, S.P., M.Si Dr. Agr. Eko Setiawan, SP., M.Si.
Tanggal tercipta: 2026-01-12
Jenis(Tipe): Text
Bentuk(Format): pdf
Bahasa: Indonesia
Pengenal(Identifier): TRUNOJOYO-Thesis-39177
No Koleksi: 240361100003


 Download File Penyerta (khusus anggota terdaftar)

 File PDF  1. TRUNOJOYO-Thesis-39177-Abstract.pdf - 61 KB
 File PDF  2. TRUNOJOYO-Thesis-39177-Cover.pdf - 1498 KB
 File PDF  3. TRUNOJOYO-Thesis-39177-Chapter1.pdf - 376 KB
 File PDF  4. TRUNOJOYO-Thesis-39177-Chapter2.pdf - 866 KB
 File PDF  5. TRUNOJOYO-Thesis-39177-Chapter3.pdf - 183 KB
 File PDF  6. TRUNOJOYO-Thesis-39177-Chapter4.pdf - 786 KB
 File PDF  7. TRUNOJOYO-Thesis-39177-Chapter5.pdf - 2173 KB
 File PDF  8. TRUNOJOYO-Thesis-39177-Conclusion.pdf - 121 KB
 File PDF  9. TRUNOJOYO-Thesis-39177-References.pdf - 813 KB
 File PDF  10. TRUNOJOYO-Thesis-39177-Appendices.pdf - 1971 KB


 Dokumen sejenis...



 Dokumen yang bertautan...





 Kembali ke Daftar