Anda belum Log-in!
Silahkan Log in
Selamat Datang di Portal Digital Content Publisher
Rabu , 04 November 2026
Perpustakaan sebagai jantung pendidikan tinggi di Indonesia, harus mampu memberi kontribusi yang berarti bagi pelaksanaan proses belajar mengajar di perguruan tinggi.
di-posting oleh yoga pada 2026-07-06 10:18:27 • 89 klik
PENGARUH PANJANG ENTRES TERHADAP TINGKAT KEBERHASILAN GRAFTING PADA MANGGA ARUM MERAH (Mangifera indica L.) DI IP2MP CUKURGONDANG PASURUAN
disusun oleh NUR LAELI
| Subyek: | MANGOES PLANT GRAFTING |
| Kata Kunci: | Mangga Arum Merah Panjang Entres Grafting Tingkat Keberhasilan IP2MP Cukurgondang |
[ Anotasi Abstrak ]
Praktik Kerja Lapang (PKL) ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam mengenai teknik perbanyakan vegetatif buatan serta menganalisis pengaruh panjang entres terhadap tingkat keberhasilan sambung pucuk (grafting) pada tanaman mangga varietas Arum Merah (Mangifera indica L.). Kegiatan magang praktis ini dilaksanakan selama satu bulan penuh bertempat di Instalasi Pengujian dan Penerapan Modernisasi Pertanian (IP2MP) Cukurgondang, Pasuruan, Jawa Timur. Metode pelaksanaan eksperimen di lapangan menggunakan rancangan percobaan terstruktur dengan menerapkan tiga variasi perlakuan panjang entres (batang atas), yaitu perlakuan P1 dengan panjang entres 5 cm, perlakuan P2 dengan panjang entres 10 cm, dan perlakuan P3 dengan panjang entres 15 cm. Sebagai penopang bawah, digunakan bibit mangga varietas Madu yang bertindak sebagai batang bawah (rootstock). Parameter pertumbuhan vegetatif tanaman yang diamati secara intensif meliputi waktu atau hari pertama munculnya pecah tunas baru setelah penyambungan, akumulasi tinggi tanaman hasil sambungan, serta persentase total keberhasilan hidup bibit grafting. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa variasi panjang entres memberikan pengaruh yang nyata terhadap kecepatan inisiasi tunas dan efisiensi keberhasilan tautan kambium bibit. Perlakuan entres berukuran sedang (10 cm) diduga menunjukkan performa kombinasi terbaik karena memiliki volume cadangan makanan (karbohidrat dan air) yang cukup di dalam jaringan vaskular untuk merangsang diferensiasi sel tanpa memicu risiko laju penguapan yang berlebihan. Sebaliknya, entres yang terlalu pendek (5 cm) rentan mengalami keterbatasan energi metabolisme, sedangkan entres yang terlalu panjang (15 cm) memperbesar area transpirasi yang dapat mengakibatkan entres menjadi kering sebelum jalinan kalus menyatu sempurna. Pemeliharaan yang intensif seperti penyiraman, pembersihan gulma, serta pengendalian hama pengganggu tanaman ikut berkontribusi besar dalam meminimalisir kegagalan sambungan di lapang. Secara keseluruhan, hasil penelitian praktis ini dapat dijadikan panduan teknis bagi para penangkar benih hortikultura dalam memproduksi bibit unggul mangga Arum Merah yang seragam, berkualitas tinggi, dan bernilai ekonomis. (297 kata)
Deskripsi Lain
This Field Work Practice (PKL) aimed to comprehensively evaluate artificial vegetative propagation techniques and analyze the effect of scion length on the success rate of top grafting in Arum Merah mango (Mangifera indica L.). This practical internship was conducted for one full month at the Installation for Testing and Application of Agricultural Modernization (IP2MP) Cukurgondang, Pasuruan, East Java. The experimental field method utilized a structured research design by applying three variations of scion (top-stem) length treatments: P1 treatment with a scion length of 5 cm, P2 treatment with a scion length of 10 cm, and P3 treatment with a scion length of 15 cm. As the base support, Madu variety mango seedlings were utilized the rootstock. The vegetative growth parameters intensively monitored included the days to the first bud-break after grafting, cumulative plant height of the successful graft, and the total success percentage of the grafted seedlings. The observation results demonstrated that variation in scion length significantly influenced the speed of bud initiation and the cellular binding efficiency of the cambium layers. The medium-sized scion treatment (10 cm) showed the most balanced performance because it contained sufficient food reserves (carbohydrates and water) within the vascular tissues to stimulate cell differentiation without inducing excessive transpiration risks. Conversely, short scions (5 cm) were prone to limited metabolic energy reserves, while overly long scions (15 cm) expanded the transpiration surface area, leading to desiccation before the callus tissues could fuse properly. Intensive maintenance, such regular watering, weeding, and pest control, significantly contributed to minimizing graft failures in the field. Overall, the practical outcomes of this study can serve a technical guideline for horticultural seed nurseries to produce uniform, high-quality, and commercially viable superior Arum Merah mango seedlings. (303 words)
| Kontributor | : Dr. Agr. Eko Setiawan, S.P., M.Si |
| Tanggal tercipta | : 2026-06-26 |
| Jenis(Tipe) | : Text |
| Bentuk(Format) | |
| Bahasa | : Indonesia |
| Pengenal(Identifier) | : TRUNOJOYO-KP-230311100069 |
| No Koleksi | : 230311100069 |
Ketentuan (Rights) :
2026
Download File Penyerta (khusus anggota terdaftar)
1. TRUNOJOYO-KP-40663-230311100069 LAPORAN PKL.pdf - 4057 KB
Dokumen sejenis...Tidak ada !
Dokumen yang bertautan...- BUDIDAYA TANAMAN MELON HIDROPONIK FERTIGASI MENGGUNAKAN SISTEM DRIP DI CV. WONOSARI HORTICULTURE INDONESIA, PASURUAN
- TEKNIK BUDIDAYA TOMAT BEEF SISTEM HIDROPONIK FERTIGASI DI CV. WONOSARI HORTICULTURE INDONESIA
- BUDIDAYA PAPRIKA (Capsicum annuum L.) SISTEM HIDROPONIK FERTIGASI DI CV. WONOSARI HORTICULTURE INDONESIA
- PANEN DAN PASCA PANEN BUAH TOMAT BEEF DI CV.WONOSARI HORTICULTURE INDONESIA
- TEKNIK PENGENDALIAN OPT TANAMAN MELON (Cucumis melo L.) SISTEM HIDROPONIK FERTIGASI DI CV. WONOSARI HORTICULTURE INDONESIA, PASURUAN
Kembali ke Daftar 