Anda belum Log-in!
Silahkan Log in

Selamat Datang di Portal Digital Content Publisher
Selasa , 03 November 2026

Perpustakaan sebagai jantung pendidikan tinggi di Indonesia, harus mampu memberi kontribusi yang berarti bagi pelaksanaan proses belajar mengajar di perguruan tinggi.

TRUNOJOYO » Tugas Akhir & Skripsi » Ilmu Komunikasi
di-posting oleh 220531100068 pada 2026-10-13 09:10:45  •  27 klik

Konstruksi Identitas Anak Muda Madura terhadap Labelisasi "Madura"
The Construction of Madurese Youth Identity in Relation to the "Madura" Label

disusun oleh LOEBNA LADZIDZA VIDIANANDA


Subyek: Labelisasi
interaksi simbolik
Kata Kunci: Konstruksi identitas
labelisasi
interaksi simbolik

[ Anotasi Abstrak ]

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kuatnya labelisai negatif terhadap etnis Madura yang terus berputar di tengah masyarakat dalam interaksi sosial langsung maupun dalam interaksi di sosial media. Labelisasi tersebut kerap mengidentikkan orang Madura dengan karakter keras, carok, pencurian, hingga keterbelakangan yang terbukti berdampak terhadap persepsi anak muda Madura dan cara mereka mengkonstruksi identitas etnis sebagai orang Madura, khususnya anak muda yang berasal dari Sumenep. Penelitian ini bertujuan mengetahui persepsi anak muda Madura terhadap labelisasi etnis Madura serta bagaimana mereka mengkonstruksi identitas dan etnisitas sebagai bagaian dari suku Madura. Metode yang digunakan Adalah kulaitatif deskriptif dengan paradigma konstruktivisme. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap 12 informan anak muda yang berusia 20-25 tahun yang berasal dari kabupaten di Pulau Madura, yakni Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep dengan menggunakan kerangka teori interaksionisme simbolik Herbert Blumer. Hasil penelitian menunjukkan anak muda yang berasal dari Sumenep cenderung melarikan diri dari identitas ke-Maduraan mereka dengan memilih memperkenalkan diri sebagai ‘orang Sumenep’ dalam interaksi lintas budaya. Sikap ini didasari pada keyakina bahwa Sumenep berbeda secara kultural dari kabupaten lain di Pulau Madura. Sementara itu, anak muda yang berasal dari Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan cenderung lebih terbuka dalam memperkenalkan identitas sebagai orang Madura dengan berbagai macam strategi untuk mengupayakan penghapusan labelisasi negatif. Sehingga di dapat Kesimpulan bahwa konstruksi identitas anak muda Madura tidak bersifat seragam dan dipenagruhi oleh asal kabupaten, usia, dan keikutsertaan dalam organisasi. Sesuai dengan prinsip Blumer bahwa simbol ‘Madura’ terus direpresentasikan maknanya melalui proses interpretasi aktif oleh individu sebab anak muda Madura bukan sekadar objek pasif dari labelisasi, melainkan aktor yang secara sadar merundingkan, menolak, atau merekonstruksi makna identitas etnisnya.


Deskripsi Lain

This study was motivated by the pervasive negative labeling surrounding the Madurese ethnic group that continue to circulate within society, both in face-to-face social interactions and on social media. Such labeling often associates Madurese people with hars temperament, carok (traditional duels), theft, and backwardness all of which been shown to impact the perceotions of Madurese youth and the way they construct their ethnic identity Madurese, particularly among young people from Sumenep. This study aims to examine the perception of young people in Sumenep regarding rhe labeling of the Madurese ethnic group and how they construct their identity and ethnicity part of the Madurese people. The method used is descriptive qualitative research based on the constructivist paradigm. Data were collected through in-depth interview with 12 young informants aged 20-25 from regencies on Madura Island namely Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep using Herbert Blumer’s symbolic interactionism theoretical framework. The research finding indicate that young people from Sumenep tend to distance themselves from their Madurese identity by choosing to identify “People from Sumenep” in cross cultural interactions. This attitude is rooted in the belief that Sumenep is culturally from other regencies on the Island of Madura. Meanwhile, young people from Pamekasan, Sampang, and Bangkalan tend to be more open about their identitying Madurese, employing various strategies to counter negative labeling. Thus, it can be concluded that the construction of Madurese youth identity is not the same and is influenced by district of origin, age, and involvement in organizations. In accordance with Blumer’s principle, the meaning of the symbol ‘Madura’ is continuously represented through a process of active interpretation by individuals, Madurese youth are not merely passive object of labeling but rather actors who consciously negotiate, reject, reconstruct the meaning of their ethnic identity.

Kontributor: DR. NIKMAH SURYANDARI, S.SOS, M.SI
Tanggal tercipta: 2026-07-17
Jenis(Tipe): Text
Bentuk(Format): pdf
Bahasa: Indonesia
Pengenal(Identifier): TRUNOJOYO-Tugas Akhir-42196
No Koleksi: 220531100068


Ketentuan (Rights) :
2026

 Download File Penyerta (khusus anggota terdaftar)

 File PDF  1. TRUNOJOYO-Tugas Akhir-42196-Cover.pdf - 1052 KB
 File PDF  2. TRUNOJOYO-Tugas Akhir-42196-Chapter1.pdf - 222 KB
 File PDF  3. TRUNOJOYO-Tugas Akhir-42196-Chapter2.pdf - 282 KB
 File PDF  4. TRUNOJOYO-Tugas Akhir-42196-Chapter3.pdf - 235 KB
 File PDF  5. TRUNOJOYO-Tugas Akhir-42196-Chapter4.pdf - 261 KB
 File PDF  6. TRUNOJOYO-Tugas Akhir-42196-Chapter5.pdf - 414 KB
 File PDF  7. TRUNOJOYO-Tugas Akhir-42196-Conclusion.pdf - 197 KB
 File PDF  8. TRUNOJOYO-Tugas Akhir-42196-References.pdf - 250 KB
 File PDF  9. TRUNOJOYO-Tugas Akhir-42196-Appendices.pdf - 520 KB
 File PDF  10. TRUNOJOYO-Tugas Akhir-42196-Abstract.pdf - 210 KB


 Dokumen sejenis...

     Tidak ada !

 Dokumen yang bertautan...

     Tidak ada !



 Kembali ke Daftar