Anda belum Log-in!
Silahkan Log in
Selamat Datang di Portal Digital Content Publisher
Selasa , 03 November 2026
Perpustakaan sebagai jantung pendidikan tinggi di Indonesia, harus mampu memberi kontribusi yang berarti bagi pelaksanaan proses belajar mengajar di perguruan tinggi.
di-posting oleh 220541100204 pada 2026-10-14 01:10:36 • 47 klik
Penerimaan Perjodohan Pada Anak Blater
Acceptance Of Arranged Marriaged Among The Children Of Blater
disusun oleh ALFIN MUBAROK
| Subyek: | Anak blater |
| Kata Kunci: | penerimaan perjodohan perjodohan tidak diinginkan anak blater konflik batin budaya Madura |
[ Anotasi Abstrak ]
AbstrakrnrnAlfin Mubarok. 220541100204. Penerimaan Perjodohan Pada Anak Blater. Skripsi. Program Studi Psikologi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya. Universitas Trunodjoyo Madura. 2026.rnrnPerjodohan merupakan tradisi yang masih dipertahankan dalam masyarakat Madura, khususnya di kalangan keluarga blater, sebagai strategi menjaga kehormatan (ajhina), status sosial, dan jaringan kekuasaan keluarga. Praktik ini sering kali mengabaikan kehendak pribadi anak, sehingga menimbulkan konflik batin antara kepatuhan terhadap tradisi dan kebutuhan otonomi individu. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan realitas perjodohan dalam keluarga blater, menganalisis dinamika penerimaan perjodohan pada anak, serta memahami faktor psikologis dan kultural yang berperan dalam proses tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-fenomenologis dengan teknik analisis Interpretative Phenomenological Analysis (IPA), melibatkan tiga partisipan anak blater di Kecamatan Galis, Kabupaten Bangkalan, yang menjalani perjodohan tidak diinginkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses penerimaan perjodohan partisipan berlangsung secara bertahap dan tidak seragam, dipengaruhi oleh usia saat dijodohkan, intensitas dukungan sosial yang diterima, serta tekanan menjaga kehormatan keluarga. Partisipan yang dijodohkan sejak usia dini menunjukkan proses penerimaan yang lebih panjang dan kompleks dibandingkan yang dijodohkan pada usia dewasa. Peran keluarga dan tekanan sosial terbukti menjadi kekuatan dominan yang mendorong kepatuhan meski tanpa persetujuan penuh dari anak, sementara penerimaan perjodohan yang lebih mendalam berkembang melalui interaksi berkelanjutan dengan pasangan serta negosiasi antara harapan pribadi dan realitas hidup yang dijalani. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi pemahaman dinamika psikologis anak dalam tradisi perjodohan serta menjadi refleksi bagi keluarga blater dalam mempertimbangkan kesejahteraan psikologis anak.rnrnKata kunci: penerimaan perjodohan, perjodohan tidak diinginkan, anak blater, konflik batin, budaya Madura
Deskripsi Lain
AbstractrnrnAlfin Mubarok. 220541100204. Self-Acceptance of Blater's Children Undergoing Unwanted Arranged Marriage. Undergraduate Thesis. Department of Psychology. Faculty of Social and Cultural Sciences. Trunodjoyo Madura University. 2026.rnrnArranged marriage remains a longstanding tradition within Madurese society, particularly among blater families, functioning a strategy to maintain family honor (ajhina), social status, and power networks. This practice often disregards childrenn's personal wishes, generates inner conflict between adherence to tradition and the need for individual autonomy. This study aims to describe the reality of arranged marriages within blater families, analyze the dynamics of self- acceptance among children who undergo unwanted arranged marriage, and understand the psychological and cultural factors involved in this process. This research employs a qualitative descriptive-phenomenological approach using Interpretative Phenomenological Analysis (IPA), involving three blater children participants in Galis District, Bangkalan Regency, who experience unwanted arranged marriage. The results indicate that participants' self-acceptance processed occurr gradually and vary among individuals, influenced by the age at which they are betrothed, the intensity of social support they received, and the pressure to preserve family honor. Participants who are betrothed at an early age exhibited a longer and more complex acceptance process compared to those betrothed in adulthood. Family involvement and social pressure prove to be dominant forces that drive compliance despite the absence of the children's full consent, while deeper self-acceptance develops through sustained interaction with their spouses and negotiation between personal expectations and lived realities. This study contributes to an understanding of the psychological dynamics experienced by children within the tradition of arranged marriage and offers insights for blater families in considering their children's psychological well-being.rnrnKeywords: blater's children, forced married, inner conflict self-acceptance,, Madurese culture
| Kontributor | : Yan Ariyani, S.Psi,. M.Psi., Psikolog |
| Tanggal tercipta | : 2026-08-10 |
| Jenis(Tipe) | : Text |
| Bentuk(Format) | |
| Bahasa | : Indonesia |
| Pengenal(Identifier) | : TRUNOJOYO-Tugas Akhir-42215 |
| No Koleksi | : 220541100204 |
Download File Penyerta (khusus anggota terdaftar)
1. TRUNOJOYO-Tugas Akhir-42215-Abstract.pdf - 74 KB
2. TRUNOJOYO-Tugas Akhir-42215-Cover.pdf - 1044 KB
3. TRUNOJOYO-Tugas Akhir-42215-Chapter1.pdf - 173 KB
4. TRUNOJOYO-Tugas Akhir-42215-Chapter2.pdf - 200 KB
5. TRUNOJOYO-Tugas Akhir-42215-Chapter3.pdf - 95 KB
6. TRUNOJOYO-Tugas Akhir-42215-Chapter4.pdf - 431 KB
7. TRUNOJOYO-Tugas Akhir-42215-Chapter5.pdf - 251 KB
8. TRUNOJOYO-Tugas Akhir-42215-Chapter6.pdf - 12 KB
9. TRUNOJOYO-Tugas Akhir-42215-References.pdf - 140 KB
10. TRUNOJOYO-Tugas Akhir-42215-Appendices.pdf - 1800 KB
Dokumen sejenis...
Dokumen yang bertautan...- MOTIVASI ANAK BLATER MADURA DALAM MENERUSKAN STATUS KEBLATERAN ORANG TUANYA
- Penerimaan Perjodohan Pada Anak Blater
Kembali ke Daftar 