Anda belum Log-in!
Silahkan Log in

Selamat Datang di Portal Digital Content Publisher
Selasa , 03 November 2026

Perpustakaan sebagai jantung pendidikan tinggi di Indonesia, harus mampu memberi kontribusi yang berarti bagi pelaksanaan proses belajar mengajar di perguruan tinggi.

TRUNOJOYO » KP&PKL » Manajemen Sumberdaya Perairan
di-posting oleh imam pada 2022-06-24 09:38:53  •  582 klik

IDENTIFIKASI JENIS PLANKTON, TOTAL ORGANIC MATTER, DAN TOTAL BAKTERI Vibrio sp. PADA SAMPEL AIR TAMBAK BUDIDAYA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) DI LABORATORIUM MANDIRI KALIANGET SUMENEP
disusun oleh KHOSNOL KHOTIMAH

Subyek: PLANKTON
ORGANIC MATTER
BAKTERI Vibrio sp.
AIR TAMBAK
UDANG VANAME
LABORATORIUM MANDIRI KALIANGET SUMENEP
Kata Kunci: PLANKTON
ORGANIC MATTER
BAKTERI Vibrio sp.
AIR TAMBAK
UDANG VANAME
LABORATORIUM MANDIRI KALIANGET SUMENEP

[ Anotasi Abstrak ]

Tambak merupakan habitat yang digunakan sebagai wadah atau tempat dalam melakukan suatu kegiatan budidaya air payau di daerah pesisir pantai (Suparjo, 2008). Udang vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan salah satu produk perikanan yang saat ini banyak di budidayakan karena udang jenis ini memiliki prospek dan profit yang menjajikan. Pemerintah Indonesia menetapkan udang vaname sebagai komoditas unggulan dari sektor perikanan budidaya. Produksi udang vaname berdasarkan penerapan skala teknologi menunjukkan bahwasanya udang vanamei memiliki beberapa kelebihan seperti memiliki pertumbuhan yang cepat, dan dapat mendiami seluruh kolam, sehingga dapat di budidayakan dengan densitas yang tinggi serta lebih tahan terhadap serangan virus dan penyakit. Permintaan udang vaname mengalami peningkatan akibat peranan udang sebagai salah satu sumber protein hewani yang dikonsumsi oleh manusia. Upaya yang harus dilakukan dalam mengatasi jumlah peningkatan permintaan tersebut yakni melalui kegiatan budidaya. Syarat dalam menentukan keberhasilan suatu kegiatan budidaya tergantung pada penyediaan benih baik kualitas maupun kuantitasnya. Ketersediaan plankton sebagai pakan alami merupakan salah satu penunjang dalam kegiatan budidaya udang vaname (Mansyah et al., 2020). Plankton merupakan organisme perairan yang sangat beranekaragam baik pada perairan tawar, payau maupun laut. Plankton merupakan organisme perairan yang sangat memiliki peranan penting di dalam suatu ekosistem perairan dalam menentukan status perairan dengan mengetahui kelimpahan dan jenis-jenis yang terdapat pada perairan tersebut (Rumondang, 2017). Usman et al., (2013) menjelaskan bahwasanya plankton mempunyai peranan yang sangat penting di dalam ekosistem bahari karena dengan sifatnya yang autotrof mampu merubah hara anorganik menjadi bahan organik dan penghasil oksigen yang sangat mutlak diperlukan bagi kehidupan makhluk yang lebih tinggi tingkatannya. Plankton dapat menjadi sumber energi terhadap keberlangsungan pertumbuhan bagi larva ikan maupun udang. Plankton dapat dijadikan sebagai pakan alami baik fitoplankton maupun zooplankton contohnya, seperti jenis plankton dari Chlorella, Tetraselmis chuii, Chaetoceros, Skeletoneme costatum, Spirulina dan Artemi. Plankton yang dijadikan sebagai pakan alami memiliki karakteristik, yaitu kandungan gizi yang lengkap, tidak menyebabkan pencemaran terhadap media budidaya, ukuran tubuh plankton yang relatif kecil sesuai dengan bukaan mulut dari larva ikan ataupun udang, sehingga menjadikan hal tersebut suatu keunggulan yang dimiliki oleh pakan alami dan banyak digunakan oleh petani tambak. Fitoplankton dalam ekosistem perairan memiliki peran penting bagi produktivitas primer perairan karena dapat melakukan proses fotosintesis yang menghasilkan bahan organik maupun kebutuhan oksigen bagi organisme yang tingkatnya lebih tinggi (Zaqiyah, 2015). Peningkatan limbah metabolit di dalam suatu perairan di akibatkan oleh adanya jumlah pakan yang berlebih atau padat tebar yang tinggi. Sisa pakan yang berlebih akan mengakibatkan kualitas air suatu perairan menurun, hal ini dikarenakan sisa pakan tersebut akan mengendap di dasar tambak dan berubah menjadi senyawa toksik. Peningkatan bahan organik dan senyawa toksik didalam perairan di akibatkan oleh adanya peningkatan jumlah pakan yang tidak termakan oleh udang (Wulandari et al., 2015). Craba et al., (2007) menjelaskan bahwasanya bahan organik dan anorganik seperti amonia (NH3), fosfor dan karbon organic terlarut dapat dihasilkan dari kegiatan budidaya. Feses dan hasil metabolisme udang termasuk bahan organik yang dapat memicu adanya peningkatan konsentrasi senyawa beracun seperti amonia (NH3). Oksigen terlarut (DO) di dalam air dimanfaatkan oleh bakteri jenis Nitrosomonas dan Nitrobakter untuk melakukan kegiatan dekomposisi bahan organik di dalam perairan. Nilai oksigen terlarut (DO) di dalam suatu perairan apabila tinggi, maka dapat menyebabkan nilai akumulasi bahan organik menurun (Djunaedi et al., 2016). Penurunan kualitas air tambak diakibatkan oleh tingginya kandungan bahan organik dan unsur hara yang berasal dari sisa pakan dari buangan air tambak. Buangan air tambak mengandung unsur yang tinggi karena berasal dari pakan dan feses udang (Playukan et al., 2016). Bakteri akan menguraikan bahan organik di dalam air menjadi unsur hara atau nutrien. Pertumbuhan kelimpahan fitoplankton dan kesuburan perairan dapat dipengaruhi oleh meningkatnya unsur hara di dalam perairan (Rasmiati et al., 2017). Kristiawan et al., (2014) menyatakan bahwasanya proses metabolisme mikroorganisme seperti bakteri memiliki peranan sebagai sumber energi dalam pertumbuhan dan perkembangan mikroba, sehingga memerlukan adanya keberadaan bahan organik di ekosistem perairan. Pertumbuhan mikroba di perairan akan mengalami peningkatan seiring dengan tingginya kadar bahan organik (Kilne et al., 2006). Kunarso (2011)menyatakan bahwasanya bakteri berperan aktif dalam ekosistem perairan laut, yaitu sebagai dekomposer dalam proses mineralisasi bahan-bahan organik. Bakteri heterotrofik berperan sebagai dekomposer yang memiliki kemampuan dalam menguraikan material organik menjadi unsur hara yang esensial (Sutiknowati, 2013). Yuningsih et al., (2014) menjelaskan bahwasanya terhambatnya proses dekomposisi akan mengakibatkan terjadinya akumulasi bahan organik yang pemanfaatannya tidak dapat digunakan secara langsung oleh produsen dan nutrien. Para pembudidaya melakukan suatu cara untuk meningkatkan produksi udang vaname, yaitu dengan manajemen kualitas air. Manajemen kualitas air dapat dilakukan dengan memperhatikan faktor fisika, kimia, dan biologi perairan yang meliputi kegiatan monitoring, pengelolaan kualitas air dan perlakuan jika terjadi penyimpangan nilai optimal parameter kualitas air (Putra dan Mana, 2014). Kualitas air tambak udang yang menurun akan menimbulkan masalah karena di dalam budidaya tambak udang terdapat komponen air yang berfungsi sebagai media utama, sehingga memerlukan perhatian yang lebih dalam pengelolaannya. Keberhasilan suatu usaha budidaya tambak udang ditentukan oleh faktor kualitas air. Data dan informasi mengenai kondisi kualitas air pada tambak udang dapat diketahui dengan melakukan evaluasi kualitas air antara lain, berdasarkan produktivitas primer sehingga dapat diketahui tingkat kesesuaian kualitas air tambak udang pada kondisi sekarang (Dede et al., 2014). Laboratorium Mandiri Kalianget merupakan suatu tempat yang digunakan oleh para pembudidaya udang untuk menganalisis kualitas air tambak udang yang terletak di Dusun Jikantang, Desa Kalianget Barat, Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep. Laboratorium Mandiri Kalianget didirikan karena di wilayah kalianget terdapat banyak sekali petambak udang yang membutuhkan analisis kualitas air. Pendiri laboratorium tersebut merupakan gabungan dari beberapa pemilik tambak udang vaname. Pengujian yang dilakukan di Laboratorium Mandiri meliputi pengukuran pH, salinitas, analisa Total Organic Matter (TOM), Total Amonia Nitrogen (TAN), nitrit, bakteri, alkalinitas dan plankton. Penulis mengangkat judul tentang Plankton, Total Organik Metter (TOM), dan Total Bakteri Vibrio sp. karena sebelumnya tidak ada yang mengambil parameter tersebut pada saat melakukan kegiatan PKL di Laboratorium Mandiri Kalianget. Kelimpahan plankton di dalam perairan tambak apabila fluktuasinya tinggi dan total bakteri Vibrio sp. di dalam perairan juga tinggi maka dapat mengakibatkan peningkatan bahan organik di dalam perairan tambak. Kelimpahan total bakteri Vibrio sp. di dalam perairan tambak juga tergantung terhadap keberadaan bahan organik di dalam perairan, hal tersebut sama halnya dengan Yuspita et al., (2018) yang menjelaskan bahwasanya total bakteri Vibrio sp. sangat erat kaitannya dengan kandungan bahan organik yang tersedia di dalam kolom air karena bahan organik merupakan sumber nutrisi bagi bakteri. Parameter tersebut perlu dilakukan analisa untuk mengetahui apakah kelimpahan plankton, total bakteri Vibrio sp. dan total bahan organik di dalam perairan tambak dapat mendukung laju pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang vaname (Litopenaeus vannamei) yang di budidayakan atau bahkan dapat memberikan dampak yang negatif pada perairan tambak seperti terjadinya blooming alga yang dapat mengakibatkan terjadinya kematian massal pada udang vaname (Litopenaeus vannamei).

Kontributor: A. Bobby Chandra, S.Si., M.Si
Tanggal tercipta: 2022-04-20
Jenis(Tipe): Text
Bahasa: Indonesia
Pengenal(Identifier): TRUNOJOYO-KP-190351100010
No Koleksi: 190351100010


 Download File Penyerta (khusus anggota terdaftar)

 File PDF  1. TRUNOJOYO-KP-23724-190351100010-Khosnol Khotimah_190351100010_MSP.pdf - 3920 KB


 Dokumen sejenis...

     Tidak ada !

 Dokumen yang bertautan...





 Kembali ke Daftar