Anda belum Log-in!
Silahkan Log in

Selamat Datang di Portal Digital Content Publisher
Jumat , 06 November 2026

Perpustakaan sebagai jantung pendidikan tinggi di Indonesia, harus mampu memberi kontribusi yang berarti bagi pelaksanaan proses belajar mengajar di perguruan tinggi.

TRUNOJOYO » KP&PKL » Manajemen Sumberdaya Perairan
di-posting oleh imam pada 2022-06-28 13:22:20  •  629 klik

PEMERIKSAAN VIRUS WSSV PADA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) DENGAN METODE Nested PCR DI LABORATORIUM BALAI KIPM SURABAYA II
disusun oleh FARIDA FARDANI

Subyek: IRUS WSSV
UDANG VANAME
METODE Nested PCR
LABORATORIUM BALAI KIPM SURABAYA II
Kata Kunci: IRUS WSSV
UDANG VANAME
METODE Nested PCR
LABORATORIUM BALAI KIPM SURABAYA II

[ Anotasi Abstrak ]

Potensi budidaya udang di Indonesia cukup besar dan menjanjikan untuk dikembangkan. Udang merupakan salah satu komoditas perikanan Indonesia yang memiliki peranan sangat signifikan terhadap kinerja ekspor. Data Kelautan dan Perikanan Tahun 2018 menyatakan bahwa produksi udang merupakan komoditas unggulan ekspor dalam lima tahun terakhir (2013-2017). Volume ekspor udang terjadi peningkatan hingga mencapai 180 ribu ton pada tahun 2021. Berdasarkan komoditasnya, udang vaname merupakan komoditas terbesar. Udang vaname merupakan salah satu komoditas yang sering dibudidayakan, hal ini disebabkan karena udang vaname memiliki beberapa keunggulan seperti pertumbuhan yang cepat dan ukuran panen yang seragam serta dapat dibudidayakan dengan padat tebar yang tinggi (Fuady et al., 2013). Komoditas udang vaname sangat digemari di pasar Internasional, saat ini negara Indonesia merupakan eksportir udang vaname terbesar keempat di dunia setelah Tiongkok, India dan Vietnam (KKP, 2018). Kebutuhan pasar yang semakin meningkat menyebabkan banyaknya pembudidaya yang meningkatkan hasil produksinya. Produksi yang tinggi akan berdampak pada bahan limbah yang dihasilkan oleh kotoran udang serta sisa pakan apabila rasio konversi pakan tinggi (Rosyidah et al., 2020). Lailiyah (2018) menyatakan bahwa tingginya suatu produksi hasil budidaya tidak selamanya diikuti oleh keuntungan yang tinggi. Target produksi udang masih dihadapkan pada berbagai tantangan, salah satunya adalah lingkungan dan hamparan budidaya yang tidak terkontrol serta manajamen limbah yang kurang baik. Hal tersebut akan berpotensi pada penyebarluasan hama dan penyakit udang pada usaha budidaya. Serangan wabah hama dan penyakit udang dapat menyebabkan kematian massal dan menurunkan produksi serta kualitas produk (Kurniawan, 2012). Penyakit udang yang disebabkan oleh virus menjadi hal yang patut diwaspadai dikarenakan dapat menyerang berbagai stadium larva udang yang menyebabkan pertumbuhan menjadi terlambat, terjadi perubahan bentuk tubuh, serta risiko kematian (Nurbariah, 2015). Beberapa jenis virus yang telah diketahui menginfeksi udang di antaranya adalah White Spot Syndrome Virus (WSSV), Monodon Baculo Virus (MBV), Bculoviral Midgut Necrosis Virus (BMNV), Infectius Hypodermaland Haemotophoeitic Necrosis Virus (IHNV), Spawner Mortality Virus (SMV), dan Hepatopancreatic Parvo-like Virus (HPV) (Muliani et al., 2004). Salah satu jenis virus yang paling banyak menimbulkan kematian di tambak udang adalah virus WSSV. Udang yang terinfeksi virus WSSV akan mengalami kematian mencapai 100% dengan adanya tanda morfologi berupa bintik putih di karapaks. Distribusi WSSV terdapat pada insang, kaki renang (pleiopoid), kaki jalan (pereiopoid), jantung, dan organ lainnya. Udang yang terinfeksi WSSV mengalami perubahan tingkah laku, yaitu menurunnya aktifitas berenang, berhenti makan, terlihat lemas, dan berenang mendekat ke permukaan air (Yanti et al., 2017). Berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan serta Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2002 tentang Karantina Ikan, Hama Penyakit Ikan Karantina (HPIK) digolongkan menjadi dua, yaitu golongan I dan golongan II. HPIK golongan I adalah HPIK yang tidak dapat disucihamakan dan/atau disembuhkan dari media pembawanya karena teknologi perlakuannya belum dikuasai. HPIK golongan II adalah HPIK yang dapat disucihamakan dan/atau disembuhkan dari media pembawanya karena teknologi perlakuannya telah dikuasai. Virus WSSV merupakan HPIK golongan I. Penyakit udang yang disebabkan oleh virus sukar diobati dan hanya dapat diantisipasi dengan tindakan pencegahan meliputi benih yang unggul serta manajemen budidaya yang baik (Desrina, 2017). Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Surabaya II (BKIPM) merupakan tempat pengasingan dan berorientasi pada tindakan atau upaya untuk melakukan pencegahan masuk dan tersebarnya hama penyakit agar tidak mengganggu organisme lainnya. Untuk melindungi produksi udang dari masuk dan tersebarnya hama dan penyakit ikan karantina yang belum terdapat di Indonesia, maka diperlukan tindakan karantina terhadap udang yang dimasukkan dari negara lain (impor) untuk mengantisipasi ancaman timbulnya wabah penyakit udang terutama jenis Litopenaeus vannamei yang menjadi komoditas ekspor utama saat ini. BKIPM bertujuan untuk membebaskan komoditas perikanan dari Hama Penyakit Ikan Karantina (HPIK) yang mungkin terbawa dalam proses lalu lintas ikan secara impor, ekspor, dan antar area dalam wilayah Republik Indonesia (KEP-BKIPM/2014). Kegiatan ekspor membutuhkan serangkaian SOP yang harus dipenuhi dan ditaati oleh pengekspor meliputi pengujian mutu dan keamanan pangan dari produk yang akan diekspor (Dirjen PDSPKP KKP, 2015). Berdasarkan peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19 tahun 2010 tentang Pengendalian Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan menyatakan bahwa diperlukan upaya pencegahan yang perlu diperhatikan serta dilakukan sejak praproduksi sampai pendistribusian untuk menghasilkan perikanan yang bermutu dan aman bagi kesehatan. Proses pengendalian mutu untuk udang vaname diperlukan adanya Sertifikat Kesehatan (Health Certificate), yaitu sertifikat yang menyatakan bahwa ikan dan hasil perikanan telah memenuhi persyaratan mutu dan keamanan untuk dikonsumsi oleh manusia. Oleh sebab itu, udang yang akan diekspor harus bersih dari Hama Penyakit Ikan Karantina. Metode diagnosis dini yang cepat, sensitif, dan akurat sebagai langkah pencegahan khususnya pada udang yang akan diekspor maupun impor sangat diperlukan. Diagnosis penyakit atau deteksi jenis virus ini dapat dilakukan dengan metode molekuler, yaitu Polymerase Chain Reaction (PCR). Virus yang menginfeksi udang dalam jumlah sedikit dan belum menimbulkan penyakit pada udang dapat dideteksi sejak dini dengan menggunakan metode PCR. Bahan genetik virus yang jumlahnya sedikit dapat digandakan dengan metode PCR sehingga keberadaannya dapat dilacak dan diambil tindakan pencegahan khususnya pada benur yang akan ditebar (Maryati et al., 2017). Serupa dengan penelitian Yanti et al (2017) yang melakukan penelitian mengenai deteksi bintik putih molekuler sindroma virus WSSV pada benur udang vaname untuk menjamin bahwa udang yang berasal dari tambak tersebut bebas dari WSSV. Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilakukan kegiatan Praktik Kerja Lapang (PKL) di Laboratorium Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Surabaya II untuk mengetahui metode pemeriksaan White Spot Syndrome Virus (WSSV) pada udang vaname. Sampel udang vaname yang masuk merupakan sampel dari para customer Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Surabaya II untuk dilakukan prosedur pemeriksaan virus WSSV dengan metode Nested PCR. Hal ini dilakukan agar dapat mengetahui udang vaname tersebut layak atau tidak untuk diperdagangkan.

Kontributor: Abdus Salam Junaedi, S.Si., M.Si
Tanggal tercipta: 2022-04-26
Jenis(Tipe): Text
Bahasa: Indonesia
Pengenal(Identifier): TRUNOJOYO-KP-190351100045
No Koleksi: 190351100045


 Download File Penyerta (khusus anggota terdaftar)

 File PDF  1. TRUNOJOYO-KP-23751-190351100045-LAPORAN PKL FARIDA FARDANI-190351100045.pdf - 3790 KB


 Dokumen sejenis...

     Tidak ada !

 Dokumen yang bertautan...





 Kembali ke Daftar